Showing posts with label LNRPB/KPN Sail Komodo 2013. Show all posts

93 Million Miles (part 4: Final)





Apa Souvenir saya dari LNRPB/KPN Sail Komodo?

BANYAK.

Persahabatan. Keluarga dan ... hati yang patah :D


Instagram

93 Million Miles (part 3)


Get Adobe Flash player
Photo Gallery by QuickGallery.com
Meskipun padat kegiatan selama di kapal, tetapi kewajiban utama sebagai seorang umat untuk selalu mengingat tuhannya wajib untuk dilaksanakan. Itulah pesan terpenting yang kami dapatkan dari seluruh Pembina kami selama mengikuti kegiatan LNRPB/KPN ini. Agama yang berbeda tidak menjadi penghalang untuk menjalankan ibadah. Kepada yang beragama Islam selalu dilaksanakan shalat 5 waktu di geladak heli dan kepada yang non muslim melakukan ibadat di ruangan tertentu dan hal ini tidak menjadi pengganggu bagi pelaksanaan ibadah agama lainnya, malah justru setiap peserta saling mengingatkan waktu untuk beribadah.
Kesehatan psikis diawali harus dengan diimbangi kesehatan fisik. Setiap pagi sebelum matahari terbit para peserta LNRPB/KPN berkumpul di heli deck untuk melakukan olahraga pagi. Setiap pagi olahraga dilakukan bersama-sama dengan kakak-kakak panitia dan pendamping. Didalam pelaksanaan waktu olahraga juga diterapkan pentingnya disiplin waktu sehingga kepada peserta yang datang tidak tepat waktu akan mendapat hukuman menjadi instruktur olahraga.
Pentingnya mengenal kebudayaan Nusantara menjadi modal pemuda Indonesia untuk saling mengenal kebudayaan masing-masing peserta. Setiap malam semua peserta perwakilan propinsi, instansi dan lembaga mengadakan pertunjukkan seni bersama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Peserta perwakilan Provinsi Kepulauan Riau menampilkan tarian kreasi melayu Zapin Muda Mudi dan Tabal Gempita. Kami mendapatkan dua kali kesempatan untuk dapat memperkenalkan kebudayaan dan tarian dari Provinsi Kepulauan Riau. Untuk penampilan kebudayaan yang kedua begitu berkesan karena kami tampil di Taman Nostalgia Kota Kupang yang merupakan tempat berdirinya Tugu Gong Perdamaian Nusantara. Salah satu pelopor dibangunnya Gong Perdamaian Nusanatara di Kota Kupang adalah ayah angkat saya, Bapak Daniel D Hurek.Singgah di berbagai rute pelayaran, selain melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan program LNRPB/KPN para peserta juga diberikan waktu luang untuk mengenal dan mengunjungi tempat-tempat wisata budaya dan pusat-pusat pariwisata yang terkenal didaerah yang sedang dikunjungi. Ketika tiba di Pulau Bali, setelah melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, kami mengunjungi Museum Diorama Perjuangan Rakyat Bali yang berlokasi tepat di depan Kantor Gubernur Bali.
Museum ini berbentuk bangunan unik yang indah, mirip seperti candi tempat untuk peribadatan umat Hindu. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Bali pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Patung-patung yang memeragakan perlawanan rakyat Bali di masing-masing daerah dibuat serupa mungkin dengan kejadian sebenarnya. Di menara paling atas terdapat sebuah ruang teropong yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di seluruh Kota Denpasar dari atas. Pada saat kami mengunjungi tempat ini banyak turis mancanegara juga yang sedang berkunjung dan mereka bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Suatu kehormatan dapat menjelaskan kepada mereka bahwa tahun ini Indonesia menjadi pusat International Event yang melibatkan pemudanya untuk mempromosikan daerah.
Ketika di Kota Kupang, peserta LNRPB/KPN sempat mengunjungi museum Kota Kupang dan melihat berbagai artefak bersejarah yang disimpan di museum sejak jaman purbakala. Terdapat alat-alat memasak, alat menenun/menjahit, mata uang jaman dahulu dan rangka seekor ikan paus yang pernah tertangkap oleh masyarakat. Disana juga tersimpan berbagai senjata perang yang digunakan oleh rakyat Kupang mulai dari yang tradisional hingga senjata api rakitan.
Meskipun dua kali singgah di Kota Labuhan Bajo, tetapi kami tidak banyak mengunjungi tempat-tempat wisata disana. Selain kegiatan yang padat, Labuhan Bajo adalah pusat dari pariwisata sendiri. Ketika menginjakkan kaki ke kota, diluar kawasan adalah area pariwisata yang penuh pusat perbelanjaan pernak-pernik khas untuk souvenir dan jika ingin pergi ke objek wisata alam akan memakan waktu hampir seharian untuk kesana.Bakti social yang dilakukan oleh peserta dan panitia LNRPB/KPN selama kegiatan berlangsung di dua tempat yaitu Kupang dan Labuhan Bajo. Di Kupang diadakan ketika seluruh peserta melakukan homestay dengan membagikan alat kebersihan dan alat-alat belajar mengajar kepada sekolah di sekitar tempat homestay di tiga kelurahan yang dijadikan sebagai tempat homestay peserta. Kemudian ketika di Labuhan Bajo juga diberikan sumbangan kepada anak-anak sekolah yang ada di sekitar Kota Labuhan Bajo.
Acara Sail Komodo 2013 merupakan event internasional yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga serta banyak Negara-negara maju guna meningkatkan potensi wisata, khususnya wisata bahari di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Nusa Tenggara Timur adalah salah satu destinasi wisata dunia dengan Taman Nasional Komodo sebagai warisan The New Seventh Wonder of The World yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2002.
Oleh karena itu, program LNRPB/KPN sebagai salah satu penunjang dan pendorong promosi wisata ini juga ikut terlibat dalam acara puncak dari serangkaian acara Sail Komodo 2013. Peserta LNRPB/KPN diikut sertakan dalam momentum ini. Dengan dibuka langsung oleh Bapak Presiden republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi swasta, acara berlangsung dengan sangat meriah. Dibuka dengan berbagai tarian khas Nusa Tenggara Timor dan sebuah tarian kreasi yang berjudul tarian ora. Ora dalam bahasa flores sendiri berarti komodo. Orang NTT percaya bahwa komodo merupakan saudara kembar manusia pada jaman dahulu yang telah dikutuk karena banyak berbuat kejahatan kepada saudaranya, manusia.

Instagram

93 Million Miles (part 2)

Get Adobe Flash player

Photo Gallery by QuickGallery.com Setelah kapal menepi di dermaga Benoa, seluruh peserta langsung menuruni kapal dan diadakan penyambutan oleh walikota Denpasar dan beberapa staf. Kemudian peserta dibawa dengan bus pariwisata Provinsi Bali menuju Kantor Gubernur Provinsi Bali yang terletak di pusat Kota Denpasar. Acara penyambutan peserta LNRPB di Kantor Gubernur Bali, Denpasar juga disampaikan beberapa kata sambutan dan ucapan terima kasih oleh bapak (gubernur bali) Setibanya di Kupang, kami akan langsung melakukan homestay oleh karena itu begitu mendarat seluruh peserta langsung di bawa dengan bus menuju Kantor walikota Kupang dan diadakan acara penyamputan langsung oleh Walikota Kupang kemudian seluruh peserta, Dansatgas, Panitia dan Pendamping serta Walikota Kupang menari tarian persahabatan Ja’i bersama-sama di Lapangan Kantor Walikota Kupang. Sebanyak 300 peserta tidak seluruhnya menempati suatu wilayah yang sama melainkan disebar di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Airnona, Kelurahan Abkunase dan Kelurahan Mnutapen. Kantor kelurahan tempat saya homestay di Kupang adalah Kelurahan Airnona. Tidak seluruh peserta ditempatkan dalam suatu daerah melainkan dibagi atau disebarkan ke tiga kelurahan yaitu Kelurahan Airnona, Kelurahan Bakunase dan Kelurahan Manutapen. Peserta LNRPB/KPN delegasi Provinsi Kepulauan Riau dibagi di dua Kelurahan. Tiga peserta bertempat tinggal di Kelurahan Airnona dan satu yang lainnya di Kelurahan Bakunase. Secara khusus pengalaman yang saya alami, keluarga angkat tempat saya menginap dan menjadi bagian keluarga tersebut adalah yang paling berharga dan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Ayah angkat saya, Bapak Daniel D Hurek adalah seorang politikus yang sangat disegani di Kota Kupang karena beliau merupakan seorang Mantan Wakil Walikota Kupang pada periode sebelumnya. Banyak ilmu politik yang beliau bagi dengan saya dan teman-teman satu homestay dengan saya. Begitu juga teman-teman yang di tempatkan si satu RT yang sama dengan saya. Tiga hari bersama keluarga baru dan teman-teman yang selalu bersama-sama dengan saya siang dan malam saya merasa seperti menemukan keluarga baru disana. Ada kenang-kenangan khas yang diberikan oleh para orang tua angkat kami selama di Homestay. Setiap anak laki-laki mendapatkan sebuah kain adat yang ditenun dari beberapa daerah terkenal di Nusa Tenggara Timur dan sebuah topi tenunan dari daun pohon lontar, yaitu topi ti’ilangga. Sementara setiap anak perempuan hanya setiap anak perempuan hanya mendapat selendang yang juga merupakan kain yang di tenun dan memiliki motif berbeda-beda yaitu dari setiap daerah terkenal di NTT, yaitu Flores, Sumba, Timor dan Alor.

Kain tenun khas timor pemberian mama angkat saya ketika homestay di kota kupang
Para anak laki-laki yang juga homestay di sekitar rumah saya mendapat kenang-kenangan topi ti'ilangga dan kain khas dari empat daerah yang terkenal di NTT
Kegiatan yang dilakukan selama di homestay antara lain adalah gotong royong bersama masyarakat membersihkan lingkungan kelurahan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan pengabdian di bidang pendidikan dengan ikut serta dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah terdekat di kelurahan. Setelah itu di adakan bakti social pemberian bantuan alat-alat pendidikan dan alat-alat kebersihan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di hari terakhir homestay kami melakukan kegiatan pembersihan Pantai Lusiana yang terkenal di Kota Kupang sekaligus berlibur dan menikmati pemandangan pantai setelah kegiatan.
Singgah di berbagai rute pelayaran, selain melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan program LNRPB/KPN para peserta juga diberikan waktu luang untuk mengenal dan mengunjungi tempat-tempat wisata budaya dan pusat-pusat pariwisata yang terkenal didaerah yang sedang dikunjungi. Ketika tiba di Pulau Bali, setelah melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, kami mengunjungi Museum Diorama Perjuangan Rakyat Bali yang berlokasi tepat di depan Kantor Gubernur Bali.
Museum ini berbentuk bangunan unik yang indah, mirip seperti candi tempat untuk peribadatan umat Hindu. Didalamnya terdapat diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Bali pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Patung-patung yang memeragakan perlawanan rakyat Bali di masing-masing daerah dibuat serupa mungkin dengan kejadian sebenarnya. Di menara paling atas terdapat sebuah ruang teropong yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan di seluruh Kota Denpasar dari atas. Pada saat kami mengunjungi tempat ini banyak turis mancanegara juga yang sedang berkunjung dan mereka bertanya tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Suatu kehormatan dapat menjelaskan kepada mereka bahwa tahun ini Indonesia menjadi pusat International Event yang melibatkan pemudanya untuk mempromosikan daerah.
Ketika di Kota Kupang, peserta LNRPB/KPN sempat mengunjungi museum Kota Kupang dan melihat berbagai artefak bersejarah yang disimpan di museum sejak jaman purbakala. Terdapat alat-alat memasak, alat menenun/menjahit, mata uang jaman dahulu dan rangka seekor ikan paus yang pernah tertangkap oleh masyarakat. Disana juga tersimpan berbagai senjata perang yang digunakan oleh rakyat Kupang mulai dari yang tradisional hingga senjata api rakitan.

Meskipun dua kali singgah di Kota Labuhan Bajo, tetapi kami tidak banyak mengunjungi tempat-tempat wisata disana. Selain kegiatan yang padat, Labuhan Bajo adalah pusat dari pariwisata sendiri. Ketika menginjakkan kaki ke kota, diluar kawasan adalah area pariwisata yang penuh pusat perbelanjaan pernak-pernik khas untuk souvenir dan jika ingin pergi ke objek wisata alam akan memakan waktu hampir seharian untuk kesana.

Diorama Perjuangan Rakyat Bali yang terletak tepat di depan Kantor Gubernur Bali


Instagram

93 Million Miles (part 1)

27 August,2013 Life starts here ... 5.00 am

Subuh yang dingin, keberangkatan lewat airport tanjungpinang dilepas oleh ibu couple saya, Badrul Iskandar setelah semalam kami menginap dirumahnya. Maka, perjalanan 'menemukan rumah'pun dimulai. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 10.00 am dengan diantar bang Zainal Bahri alumni KPN 2010 sampai di Pelabuhan Tanjongpriok JCIT Port 03. Disana sudah banyak teman-teman dari beberapa provinsi yang juga baru tiba dari provinsi masing-masing. Siapa yang sangka, diawal pertemuan ini egocentric terhadap daerah begitu besar hingga masih ada rasa malu dan canggung untuk berkenalan dengan teman-teman sesama peserta yang berasal dari provinsi lain. Siapa sangka sebulan lagi, kami tidak akan pernah ingin Indonesia punya perbedaan, terpisah daratan dan suku. Indonesia adalah Indonesia. Dengan kami adalah pemuda yang menyatukannya dengan segala perbedaan yang kami miliki.


Setelah beberapa banyak peserta perwakilan provinsi yang datang kemudia melakukan registerasi peserta kami menaiki kapal KRI Makassar 590 dan berkumpul di tank deck, bagian terbawah dari kapal. Kemudian selanjutnya diadakan pembagian kamar kepada semua peserta. Kamar saya di G-13. Kamar ini akan menyimpan banyak cerita yang luar biasa, persahabatan, kekeluargaan, persaudaraan dan percintaaan! Meskipun telah masuk ke kapal, tetapi kami belum resmi menjadi penumpang di kapal ini. Esoknya akan di adakan upacara pembukaan LNRPB/KPN (Lingtas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari/Kapal Pemuda Nusantara) dalam rangka Sail Komodo Tahun 2013 masih bertempat di pelabuhan Tanjung Priok. Upacara ini di komando langsung oleh Menkokesra Agung Laksono. Ada 4 KRI yang akan ikut serta dalam pelayaran ini. Namun, 3 kapal lainnya Yaitu KRI Banda Aceh, KRI Surabaya dan KRI Dr Soeharso menempuh jalur/rute yang berbeda dengan rute kapal yang kami naiki, yaitu KRI Makssar 590.

Kegiatan LNRPB/KPN dalam Sail Komodo Tahun 2013 ini menggunakan KRI Makassar (590) milik TNI Angkatan Laut. Rute perjalanannya adalah: Jakarta-Bali-Labuhan Bajo-Kupang-Pulau Komodo-Labuhan Bajo-Bali-Jakarta. KRI Makassar mengangkat jangkar dari pelabuhan Tanjung Priok dan bersiap berlayar menuju rute selanjutnya, yaitu Denpasar Bali pada malam hari sekitar pukul 22.00 WIB. Kebiasaan yang sering dilakukan pada saat kapal akan berlayah dan berlabuh adalah melakukan peran parade pada sisi lambung kanan dan kiri kapal. Tetapi karena itu adalah hari pertama kami belum diajarkan untuk melakukan peran parade pada saat kapal akan berlayar. Dalam perjalanan KRI Makassar berlayar menuju Bali, kapal melewati bagian utara Laut Jawa dan menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 hari. Pada tanggal 31 Agustus 2013 kapal tiba di perairan Tanjung Benoa, Denpasar Bali pada pukul 08.00 WITA. Kapal merapat di dermaga Benoa Bali, dan pada tanggal 3 September 2013 setelah selesai peserta lNRPB/KPN melakukan serangkaian kegiatan didaratan, kapal berangkat untuk berlayar menuju rute selanjutnya, Kota Labuhan Bajo, NTT. Berlabuhnya kapal KRI Makassar di Labuhan Bajo tidak dalam waktu yang lama karena tujuan kapal adalah untuk menurunkan beberapa kendaraan berat yang tidak akan dipakai dalam beberapa hari kedepan. Setelah menurunkan beberapa kendaraan berat pada keesokan harinya kapal kembali berlayar menuju Kupang. 

KRI Makassar tiba di Kota Kupang pada tanggal 6 September 2013 pada pukul 10.00 WIT. Cuaca pada saat itu sangat cerah dan sangat terasa panas. Meskipun begitu kami merasa gembira karena ketika kapal akan mulai merapat, sejauh mata memandang ke kedalaman laut di sekitar pelabuhan, tampak sangat jernih hingga terlihat seluruh terumbu karang yang masih terawat dan terjaga dengan baik. Sama seperti ketika kapal menepi di pelabuhan Benoa Bali dan Labuhan Bajo. Alangkah indahnya jika semua pelabuhan yang ada di Indonesia dapat tetap berfungsi sebagai media transportasi tetapi juga dapat menjaga kelestarian dan keberlangsungan hidup mahluk laut di sekitarnya. Setelah hampir sekitar 5 hari kapal menepi di Pelabuhan Lantamal VII Kota Kupang, akhirnya KRI Makassar dan seluruh peserta mengucapkan salam perpisahan kepada kota yang indah serta penuh kenangan tersebut. Pukul 14.00 WIT kapal menjauh dari pantai, berlayar menuju rute selanjutnya. Suatu tempat yang juga tidak akan pernah kami lupakan untuk selamanya karena inilah salah satu tujuan kami, peserta LNRPB/KPN Sail Komodo 2013 , Pulau Komodo. 

Karena jarak Labuhan Bajo dengan Pulau Komodo tidak begitu jauh maka tidak menghabiskan waktu lebih dari 24 jam untuk tiba di lokasi. Meskipun telah tiba di perairan Pulau Komodo tetapi kapal tidak merapat ke pelabuhan. Karena di Pulau Komodo tidak tersedia pelabuhan yang cukup besar untuk tempat kapal bersandar sehingga pada saat mengunjungi pulau kami diangkut dengan menggunakan 3 buah kapal kecil lainnya jenis CLPV milik KRI Makassar 590. Peringatan Acara Puncak Sail Komodo 2013 pada tanggal 14 September tidak dapat menahan kami untuk berlama-lama di perairan Pulau Komodo karena pada keesokan harinya kami harus telah tiba kembali di perairan Kota Labuhan Bajo. Bukan hanya peserta LNRPB/KPN yang juga ikut serta dalam acara puncak ini tetapi seluruh personel TNI AL dan kapal kebanggaan kami KRI Makassar 590 juga akan menjadi bagian dari acara tersebut, oleh karena itu kami harus bersiap-siap dan tiba di Labuhan Bajo pada keesokan harinya.

Instagram