Showing posts with label Keluarga. Show all posts

HomeSick (RumahSakit)

 
Kupu-kupu
Bau segar rumput pagi, Embun
kasur bau ompol
suara las, grenda besi
daun-daun melinjo, pohon mangga, pohon kates
angin
burung emprit
anak-anak ayam, anak-anak kelinci
pohon cabe didalam jaring
sumur
harum daun pandan
pesing ompol kasur yang dijemur
angin
pohon bakau-bakau
anak-anak bebek
anyir air laut pasang
rumpi tetangga
biru, awan putih, awan mendung

orang asing dirumah sendiri


-Tg.pinang, 10 Okto 10.

Film Rumah Tanpa Jendela & Kenangan Tentang Bapak


Film yang disutradai oleh Aditya Gumay ini bercerita tentang persahabatan Rara si anak miskin dan Aldo yang mengalami disabilitas. Skenario cerita ini berawal dari Rara yang sangat ingin punya rumah yang memiliki jendela akhirnya kehilangan ayahnya pada saat menyelamatkan bude-nya ketika terjadi kebakaran di rumah mereka. Pada akhirnya keluarga Aldo yang sebelumnya kurang memiliki simpati terhadap kekurangan menyadari bahwa dibalik kekurangan ada rasa kebersamaan yang dapat kita miliki dan rasakan bersama. Nah, seperti biasa readers tulisan saya itu selalu menyimpang dari pembahasan normal. Kali ini saya akan membahas mengenai hubungan kasih sayang antara Rara dan ayahnya. Sedikit banyak cerita ini mengingatkan saya pada kenangan masa kecil bersama Bapak. Pelajaran berharga tentang mengenal dan mempelajari kehidupan :)
Rara sangat menginginkan memiliki jendela meskipun rumahnya kecil dan kumuh dan ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keluarganya adalah keluarga yang kekurangan. Bagi Rara memiliki jendela dirumah adalah sebuah kebahagiaan, agar ia dapat melihat ke luar rumah. Anak kecil ini memahami filosofi jendela adalah sesuatu yang dapat membantu kita melihat keluar dari dalam rumah. Lalu jika ada kata mutiara "Membaca adalah jendela dunia" mari kita coba pahami bahwa jika dengan membaca kita dapat melihat ke luar jendela. Melihat keluar dapat diartikan melihat hal-hal baru yang mungkin belum kita temukan, jendela adalah ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dan membaca adalah kunci untuk melihat hal-hal baru dari dalam diri kita.
Membaca, hal yang sangat saya sukai sejak kecil. Membaca apa saja, ensiklopedi, novel, kumpulan puisi, artikel berita bahkan surat (hehe, bukan surat cinta lho maksudnya!) Karena sejak kecil ayah saya membiasakan kami anak-anaknya untuk suka membaca buku. Kemudian seiring pertumbuhan saya dan adik-adik saya kami memahami bahwa cara belajar yang efektif adalah ketika saya menyukai buku yang dibaca maka saya akan memahami isi dari buku tersebut. Tapi bukan berarti saya harus menyukai buku tersebut dahulu baru saya akan membacanya, Bapak sering berpesan: Buku apapun pasti tidak ada yang tidak kamu sukai. Buku itu dibuat untuk memberikan manfaat. Jika tidak ada manfaatnya, itu bukan buku.

Anak-anak Cermin Perilaku Disekitarnya

Oleh : Etna Khairullah


Ini sangat aneh ketika meminta seorang anak untuk jujur kepada kita tentang perbuatannya yang tidak kita setujui. 'Bilang! Kenapa Nanda mengambil pensil Mila? Kenapa Yoyo berbohong kepada ibu? Kenapa tidak mau ikut berbaris?'

Anak-anak merefleksikan perilaku orang-orang disekitarnya kedalam dirinya. Mereka menjadikan diri mereka sebagai media yang akan menyimpan semua perilaku yang mereka tangkap dari kejadian disekitarnya. Anda membentak mereka ketika marah, mereka akan berteriak ketika apa yang mereka inginkan tidak terpenuhi. Anda memaksa mereka memakai baju yang tidak mereka sukai, mendandani mereka dengan perhiasan-perhiasan yang membuat mereka tidak nyaman. Anak-anak akan melakukan hal sama pada orang lain ketika mereka dewasa. Anda tidak pernah memberi pujian dan selalu menghina kekurangannya. Ketika ia tumbuh akan menjadi anak yang tidak percaya diri dan takut untuk berhadapan dengan orang lain. Jika mereka memiliki kelebihan akan mudah bersikap tinggi hati dan tidak mau menerima pendapat orang lain.

Beberapa perilaku orang dewasa sekitarnya mempengaruhi bagaimana sikap mereka tercipta dan berkembang.

1. Mengabaikan pendapat

'Ibu memakai baju yang ketat sekali'
'Kenapa ayah tidak mengatakan pada ibu kalau kita yang memecahkan pot bunganya?'
'Hey tuan, orang itu memerlukan bantuanmu. Dia terus melambaikan tangan padamu'
Kelihatannya hanya seperti ocehan anak kecil yang biasa. Bahkan terkadang kita mengabaikan karena menganggap mereka cerewet dan tidak tahu apa-apa. Hal ini tidak kita sadari padahal mereka mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.

2. Tidak Disiplin

Anda pulang kerumah dengan kecapekan, melempar tas ke sofa. Menbiarkan sepatu tergeletak dilantai dan pergi mengambil makanan tanpa mencuci tangan. Anak-anak akan mulai menerima itu sebagai suatu hal normal untuk dilakukan, jika anda melakukan berulang-ulang besok dia akan melempar sepatu dan makan sebelum mencuci tangan.

4. Memberi hukuman yang tidak tegas

Mungkin beberapa orang tua masih menerapkan hukuman fisik kepada anaknya, tetapi juga mengomeli mereka. Hukuman fisik ataupun omelan tidak akan memberikan efek jera pada anak. Kekerasan dan tekanan yang anda berikan melalui teriakan akan mengisolasi anak. Jika mereka malas mengerjakan PR hari ini, biarkan untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Perlihatkan pada anak bagaimana akibat jika ia tidak mengerjakan PR, sampaikan nilai hikmah dari kejadian itu. 'Nah, kamu tidak ingin seperti itu lagi kan? Ayo sekarang kerjakan PR mu!'

4. Malas memuji

Anak memperlihatkan gambar pemandangannya dengan gunung berwarna ungu, pohon dipinggirnya berdiri lebih tinggi dari ukuran gunung dan gambar sungai yang meliuk-liuk. Atau ia menggambar ayah dan ibunya dengan bentuk muka yang aneh. Atau membuat sebuah kerajinan kertas bertuliskan 'Aku Sayang Ibu' dengan menggunting-gunting kertas. Tetapi ketika anda melihatnya anda malah mengatakan; 'Tidak ada pohon yang lebih tinggi dari gunung', 'Memangnya ayah dan ibu sejelek itu?', 'Kau membuat rumah berantakan lagi! Cepat bersihkan!' Anak akan terkejut dengan reaksi yang anda berikan, mereka pikir pendapat dan pujian orang tua sangat mereka butuhkan. Orang tua yang paling mereka percayai dan membuat mereka nyaman. Jika gambar anak jelek dan mereka hanya membuat rumah berantakan dengan membuat kerajinan tangan yang sepele. Itu adalah imajinasi mereka, itu adalah hal kecil yang dapat mereka lakukan agar mendapatkan perhatian anda. Maka pujilah ia dengan usaha-usahanya. 'Terima kadih itu sangat cantik, ibu menyukainya'

5. Memberikan panggilan aneh

'Hei kurus!'
'Hei si hitam!'
'Hei si pendek!'
'Hei pemalas!'

Panggilan terhadap anak adalah ungkapan perasaan anda terhadap mereka. Panggilan yang anda berikan, anak akan berpikir bahwa itulah diri mereka yang sebenarnya. Kenapa anda tidak menggantinya dengan;

'Hai si kecil imut!'
'Hai hitam manisku!'
'Hai sayangku yang suka tidur'

Si kecil akan tumbuh besar, tentu anda menginginkan ia menjadi pribadi yang baik. Jadi bantulah ia, berikanlah contoh yang baik agar dapat ia tiru.