Showing posts with label Education. Show all posts

Saya Hanyalah Orang Bingung

Tadi diperjalanan ke perpustakaan daerah
Ada anak kecil penjual koran
Mangku koran-korannya sambil ketiduran
Sepertinya dia capai setelah bersekolah langsung bekerja
Dari mana saya tau dia bersekolah, atau mungkin dia tidak bersekolah
Saya pikir pemandangan seperti ini hanya ada dikota-kota besar saja
Bukankah Tanjungpinang kota yang Besar?
Saya Bingung

Sebelumnya, di lampu merah
Sejak kapan ada speaker diatas lampu lalu lintas di perempatan batu 4
Mungkin pikir saya,
Yah, Beginilah bapak dan ibu polisi
Kalau para pengendara di Tanjungpinang masih anak-anak semua
Memang harus diberi aba-aba yang jelas dalam berlalu lintas
Apa di semua daerah di Negara Indonesia juga punya peraturan lalu lintas yang bisa ngoceh sendiri di lampu lalu lintas?
Saya juga bingung

Hmmh, Memangnya siapa yang perduli kalau saya bingung
Ya Sudahlah....
Saya mau cari pacar (lagi) dulu ah....

28 Januari 2011

Kamu Pemuda "SSBSSS" ? Jangan Pesimis, Kamu Juga Nasionalis! (Part 1, 1-2)

Tahun 2012 dan 2013 adalah tahun keemasan bagi saya, setelah 3 tahun berkutat dengan teori-teori ilmu Sosiologi di kampus, saya bosan. Kemudian mencoba mencari kegiatan lain diluar Kukerta (Kuliah Kerja Bercinta ... *ROTFL). Berawal dari mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada Pada Tahun 2011 walaupun sampai dua kali seleksi menelan kenyataan pahit bahwa saya tidak masuk standar layak untuk dikirmkan ke Negara Daun Maple tersebut sebagai perwakilan Pemuda Indonesia tetapi semangat saya semakin terbakar. Tahun ke tahun yang saya habiskan dengan berkumpul bersama beberapa pemuda yang Out of The Box menyadarkan saya mengenai apa yang saya telah lakukan untuk negeri ini dan apa yang menginspirasi hidup saya untuk melanjutkan hidup di masa depan serta apa yang telah menjadi beban tanggung jawab saya selama bernafas di Tanah Air Indonesia.

Kebudayaan, Intelejensi dan Attitude adalah modal dasar pemuda Indonesia untuk memberi citra kepada Bangsanya, menunjukkan ke muka dunia bahwa Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang akan menjadi harapan cerah bagi Bangsa Indonesia ke depannya. Dengan mengikuti seleksi pertukaran pemuda ini, saya yang hanya berlatar belakang sebagai seorang pemuda yang tidak pernah mengenyam ilmu organnisasi maupun mengikuti kegiatan kumpul-kumpul pemuda (ini maksudnya kegiatan sosial lho, bukan kongkow biasa.red) semakin mengerti bahwa ternyata ada banyak pemuda-pemuda potensial di setiap pelosok negeri ini. Mereka yang datangnya dari pulau-pulau terjauh dengan Ibukota Provinsi mau datang ke Kota untuk menempun pendidikan kuliah, tetapi juga aktif dengan ormas kepemudaan seperti KAMMI, HMI, PERMATA dll. Melakukan kegiatan sosial tanggap bencana, perang dan kemiskinan. Berdiri di lampu-lampu merah pada siang hari yang terik sambil menengadahkan kardus-kardus untuk mengumpulkan pundi-pundi uang yang akan disumbangkan ke masyarakat yang membutuhkan. Ada juga yang reaktif dengan segala aktifitas pemerintah, turun ke jalan-jalan memprotes kebijakan pemerintah maupun ketiad adilan yang sedang terjadi di bangsa ini. Ada juga pemuda yang aktif menjadi delegasi duta-duta wisata dan menjadi duta lainnya dengan misi presentasi kebudayaan Indonesia di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Pemuda-pemuda ini yang saya temui ketika saya mengikuti kegiatan kepemudaan selama dua tahun belakangan. Mereka luar biasa, saya pikir. Dan ketika saya mengenal mereka lebih dalam, ya saya benar! Bahkan ada yang berlatar belakang keluarga orang kaya tapi siapa sangka ia pernah merantau ke Pulau Jawa hanya bermodal nekad untuk kuliah (dan itupun kuliahnya sampai semester akhir karena sangking keasyikkan jalan-jalan hahaha...) pernah mengelilingi pulau Jawa, menjelajahi gunung dan lautan, jika pertama berjumpa dengan abang saya ini anda tidak akan menyangka mengenai pengalaman hidupnya yang luar biasa. Dan beliau adalah seorang dosen sekarang! Tapi masih aktif dengan kegiatan kepemudaan, menjadi alumni sekaligus senior saya di Kapal Pemuda Nusantara. Tidak hanya beliau, ada juga alumni dan juga senior saya masih dari program kepemudaan yang sama. Pengalaman hidupnya mungkin lebih berat dari saya, ia berasal dari tanah serambi Mekkah merantau ke Pulau Batam kuliah dengan hasil keringat sendiri tetapi tetap aktif di organisasi bahkan sampai menjadi delegasi untuk Kedutaan Indonesia di Texas, negara bagian Amerika Serikat dengan misi memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada bule-bule disana. Bukan hanya pemuda saja, cerita tentang para pemudi yang saya kenal ini juga bisa menginspirasi kamu. Saya mengenalnya setahun lalu lewat program yang sama, anak perempuan yang super aktif ini memang luar biasa. Sudah malang melintang kesana sini dengan program kepemudaan yang segudang diikutinya, pakaiannya sederhana, sopan dan berkerudung. Senyum selalu terkembang ketika ia bertemu dengan siapapun. Mahasiswa yang aktif di salah satu Perguruan tinggi di Prov Lampung ini memiliki segudang prestasi, menjuarai kompetensi pidato se-provinsi. Jalan-jalan keliling Pulau Jawa sambil menyepi di sebuah desa di Jawa Timur untuk belajar Bahasa Inggris. Siapa sangka sekarang sedang ada di Jepang untuk mengikuti Jenesys 2014 di Perfektur Chiba. Kemudian ada cerita juga mengenai pemudi dari Aceh, beliau ini kakak kesayangan saya. Kami mengembangkan gagasan untuk mendirikan sebuah organisasi social pemuda peduli masyarakat perbatasan, Nagekeo Care Island. Bekerja sebagai pegawai honor di lingkungan Pemko Aceh tetapi tidak mau mengangkat dagu dengan masalah social di lingkungannya. Jujur, saya takjub. Bahkan selama perjuangan awal kami mendirikan organisasi beliaulah orang yang paling aktif dalam mencari bantuan dana untuk melancarkan kegiatan perdana organisasi kami. Sudah menginspirasi kamu?

Pemuda Pelopor yang sebenarnya, mendengar cerita mengenai perjuangan mereka hingga sampai pada tahap sekarang saya berkata kepada diri saya, saya adalah permulaan. Sampailah kepada titik itu atau lampauilah!

Lalu kemudian saya merenung, jika saya mengikuti kegiatan ini. Mondar mandir kesana sini, saya tidak akan mampu untuk melakukannya. Jujur saya tidak bisa membagi waktu dengan semua hal itu. Bahkan setelah kepergian ayah, saya menjadi lebih bertanggung jawab dengan kesejahteraan keluarga. Menjadi anak pertama mengharuskan saya melanjutkan pekerjaan ayah untuk mencari uang menghidupi ibu saya yang sudah mulai merenta. Saya sadar diri, saya tidak bisa selamanya melakukan kegiatan-kegiatan tersebut (meskipun menyenangkan bagi saya melakukannya.red) karena ada tanggung jawab lainnya yang tidak bisa saya hindari.

Hardiknas Untuk Siapa?


Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
Slalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang
Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
Berkelahi Pak!, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet... Standing dan terbang
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Lirik lagu Oemar Bakrie ciptaan penyanyi Iwan Fals diatas jika kita perhatikan dengan seksama merupakan potret dunia pendidikan. Tidak banyak yang berubah, selalu ada pisang yang mengkal di setandan pisang yang masak. Ada anak-anak yang tidak 'berhasil' ketika ia lulus dari sekolah. Sistem pendidikan 12 tahun tidak cukup untuk membekali anak-anak bangsa yang cerdas dan selalu ingin tahu untuk bekal menjalani kehidupan yang kompleks ini. Ditambah lagi dengan menurunnya kualitas pendidikan karena orientasi pendidikan belakangan ini hanya berbasis pada 'Lulus/Tidak lulus'.

Sementara kita mulai mengabaikan bagaimana tujuan pendidikan mula-mula di adakan. Tentunya sangat jauh dari harapan Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor pembangunan pendidikan di Indonesia.
Nasib guru yang terabaikan secara tunjangan finansial. Hanya pada masa ini bukan guru pegawai negeri yang sudah mengabdi selama 40 tahun tetapi gajinya masih disunat. Guru honorer mengalami nasib yang menyedihkan ketika pengabdian mereka untuk nencerdaskan bangsa tidak mendapat perhatian. Tunjangan profesi guru sebesar Rp. 1.500.000,- /bulan tidak jadi diperpanjang untuk tahun ini. Otomatis hal tersebut mempengaruhi hasil pendapatan guru honorer karena tunjangan profesi guru memang diperuntukkan untuk guru honorer.

Agus Sapa'at dalam sebuah wawancara langsung di sebuah stasiun televisi mengatakan bahwa salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah mengkualifikasi guru-guru untuk mengajar demi meningkatkan kualitas pengajar di Indonesia.

"Kalau guru sudah tidak mau belajar, berhenti saja mengajar.", begitu Agus mengatakan. Menurutnya, berprofesi guru adalah sebuah panggilan jiwa.  Meskipun kita tahu bahwa kurangnya perhatian terhadap guru honorer berbanding terbalik dengan nasib guru PNS di Indonesia. Tetapi pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh menyampaikan pidatonya pada peringatan Hardiknas di kantor Kemendikbud pada tanggal 2 Mei 2013. Pada pidatonya beliau menyatakan permintaan maaf atas segala kekacauan yang terjadi didunia pendidikan Indonesia dan kegagalan pelaksanaan Ujian Nasional 2013.

Tidak perlu mengarahkan telunjuk kepada orang-orang tertentu tetapi kita dapat membantu dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak-anak. Lingkungan yang sehat untuk anak-anak dapat belajar dan mengembangkan dirinya.

Jadi, untuk siapa peringatan Hari Pendidikan Nasional ini? Jawabnya untuk para pendidik, untuk pelajar, untuk kita semua, untuk semua generasi bangsa yang sedang dan akan selalu berusaha untuk memajukan dan mengawasi perkembangan dunia pendidikan di Indonesia.

Ujian Nasional 2013 'Gatot' !

Banyak hoax yang berkembang selama penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh persiapan pemerintah yang tidak matang dalam menyelenggarakan event nasional yang sangat berpengaruh terhadap hajat hidup para pelajar di seluruh Indonesia.


Beberapa isu yang berkembang antara lain, pemerintah batal menetapkan hasil nilai UN sebagai penentu kelulusan tahun ini. Sebagai gantinya nilai UAS akan dijadikan pacuan standar kelulusan siswa dan keputusan dikembalikan ke sekolah masing-masing. Beberapa propinsi yang mengalami keterlambatan pembagian soal akan dipertimbangkan kelulusannya. Hal ini di anggap bahwa kualitas persiapan setiap daerah yang berbeda akan mempengaruhi hasil nilai akhir ujian. Beberapa sekolah yang pernah mengalami 'soal yang ditukar' akan menjadwal ulang mata pelajaran tersebut. Kertas Lembar Jawaban Komputer untuk soal Ujian Nasional tahun ini kualitasnya sangat buruk sehingga kemungkinan akan terjadi 25% error scanning. Beberapa hal yang disampaikan diatas bersumber dari sekolah-sekolah yang menyelenggarakan UN.

Banyak pihak yang menyatakan kekecewaannya terhadap kerja penerintah yang semrawut ini. Contohnya di beberapa daerah di nusantara yang mengalami keterlambatan pendistribusian soal terpaksa menjadwal ulang penyelenggaraan Ujian Nasional hingga tiga kali karena soal belum sampai ke daerah. Hal ini banyak terjadi di daerah Indonesia bagian tengah seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kupang, dan beberapa daerah di Bali. Selain itu pemerintah daerah harus ikut turun tangan dengan berinisiatif memfotokopi soal agar para siswanya dapat segera melaksanakan ujian. Meskipun mereka tidak yakin bahwa LJK yang difotikopi akan valid hasil pemindaiannya.

Ditengah kekacauan ini, M Nuh selaku Mendikbud telah mengklarifikasi bahwa keterlambatan pembagian soal dikarenakan PT Ghalia selaku pemenang tender pengerjaan proyek belum sepenuhnya menyelesaikan percetakan soal-soal. Usut punya usut, Mendikbud pun berdalih dana untuk mencetak soal belum sepenuhnya cair karena Menkeu tidak dapat mencairkan keseluruhan dana yang diminta Mendikbud karena sedang ada permasalahan pada keuangan negara. Yah, kalau sudah begini tali menyambung tali, pasti panjang urusannya.

Apapun alasan tersebut, tidak perlu banyak mengarahkan telunjuk ke orang lain, Kemendikbud perlu banyak menginteropeksi diri bahwa kekurangan tersebut berasal dari dalam kementerian sendiri. Jika sudah merencanakan secara sistematis pelaksanaan Ujian Nasional, bagaimana rupa soal ujian, penggunaan barkode dan 20 paket soal dan 10 paket cadangan serta bentuk LJK yang berbeda dari taun sebelumnya pada soal baru diketahui oleh siswa kurang dari sebulan sebelum Ujian Nasional diselenggarakan. Itupun pemerintah menyampaikan seolah-seolah terkesan mendadak sehingga sekolah-sekolah tidak dapat lebih awal mensosialisasikan kepada para siswanya.

Mendengar kabar ini para siswa sangat terkejur dengan rencana pemerintah, mereka yang seharusnya dapat lebih matang mempersiapkan diri malah semakin merasa tertekan dengan sistem baru Ujian Nasional yang dibuat pemerintah.

Kenapa pemerintah sampai segitu inginnya menerapkan sistem yang terkesan ruwet dan tidak fleksibel ini kepada siswa. Apakah mereka sungguh ingin memajukan kualitas pendidikan di Negara Indonesia atsu hanya sekedar ingin agar siswa tidak menyontek? Pernahkah penerintah memikirkan bahwa Ujian Nasional yang mutlak gagal ini hanya menjadikan para pelajar sebagai kelinci percobaan dari sistem kebijakan yang kacau dan tidak matang?

Sebenarnya menurut hemat saya, tidak perlulah pemerintah repot-repot menyusun strategi dengan membuat soal ujian dengan 20 paket yang berbeda untuk menghindari kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Lebih baik menyiapkan mindset para pelajar agar siap menghadapi Ujian Nasional dan tidak terpaku kepada hasil nilai ujian yang akab diperoleh. Terkadang dengan menetapkan standar tertentu para siswa hanya konsentrasi kepada bagaimana nilai mereka dapat mencapai 4,25; 4,75; 5,75, atau 6,00. Semua itu hanya terpaku pada angka, bukan pada proses mencapainya. Bukankah sia-sia jika mereka menghabiskan waktu 3 tahun belajar disekolah hanya untuk berkonsentrasi mendapatkan nilai yang layak di Ujian Nasional. Kenapa tidak lebih baik mengembangkan sikap-sikap positif seperti kejujuran, semangat kerja, disiplin waktu dan kreatifitas yang lebih sering di aplikasikan di kehidupan nyata. Hal-hal seperti ini pun sekarang jarang kita temui di kehidupan masyarakat sekarang.



Mau UN atau Sakaratul Maut, Dek?

Sebanyak total 3.224.179 siswa se-Indonesia serentak mengikuti Ujian Nasional pada tanggal 15 April 2013, kecuali 11 propinsi yang mengalami masalah keterlambatan pengiriman naskas soal Ujian Nasional. Pada tahun 2013 ini total siswa yang mengikuti ujian Nasional se-Indonesia terdiri dari 1.268.834 siswa SMA, 331.177 siswa MA, 1.131.006 siswa SMK, 1.189 siswa SLB, dan yang mengikuti Ujian Paket C 191.917 siswa dan 56 siswa dari sekolah kejuruan.


Ujian Paket C untuk siswa yang tidak lulus UN tahun lalu dijadwalkan pada tanggal yang sama hanya dilaksanakan setelah jadwal ujian 20 paket selesai, yaitu pada siang hari.

Soal UN yang terdiri dari 20 paket ini memiliki sistem barcode untuk mengenali paket soal yang dibagikan kepada setial siswa. Kemudian 10 paket soal cadangan akan dikeluarkan jika terjadi kecelakaan pada soal ujian yang dibagikan. 

Heran saya, sepertinya UN menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengancam hidup para siswa yang melaksanakannya. Kebanyakan pelajar tidak merasa siap dengan model soal UN tahun ini yang memiliki jumlah paket lebih banyak. Yang lebih parah sangat terlihat jelas mereka merasa tertekan dengan terbuktinya bahwa setiap menjelang Ujian Nasional banyak diadakan acara-acara motivasi bahkan tidak sedikit yang mengundang motivator-motivator terkenal sampai acara hypno-therapy massal agar siswa yakin dapat lulus UN 100%, acara-acara seperti ini semakin merata diadakan disetiap sekolah-sekolah dari tahun ke tahun. Bahkan event ini menjadi kesempatan bagi para book publisher untuk menjual buku-buku motivasi kiat lulus Ujian Nasional  kepada siswa-siswa yang akan mengikuti UN. Meskipun harus membeli dengan harga yang mahal dan tidak seluruh yang membeli akan membaca.

Di setiap acara hypno-therapy yang diadakan tersebut siswa diajak merenung untuk mengingat kesalahan-kesalahan di masa lalu dan di cekoki dengan pemikiran bahwa restu dari orang-orang yang lebih tua dan banyak melakukan kebaikan akan mendatangkab kemujuran.

Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan membeli sebuah buku motivasi akan memotivasi pelajar agar tidak takut menghadapi ujian? Apakah dengan menangis meraung-raung akan meningkatkan kekuatan didalam diri pelajar agar menjadi pribadi yang selalu siap menghadapi segala tantangan? Lalu kita hanya perlu memohon maaf kepada orang tua dan berbuat kebaikan ketika mau mengikuti ujian?

Sepertinya jauh sekali dari harapan bahwa pemuda Indonesia adalah generasi bangsa yang dapat di andalkan untuk mengemban tugas memajukan bangsa ini jika Ujian Nasional saja sudah menjatuhkan kepercayaan mereka.

Pelajar, ini hanya sebuah pesan dari saya yang pernah juga berada di posisi anda. Saya juga pernah tidak bisa tidur semalaman padahal besoknya adalah jadwal Ujian Nasional untuk mata pelajaran yang saya anggap susah. Tapi ketahuilah saya tidak bisa tidur bukan karena sedang SKS (Sistem Kebut Semalam) atau terlalu paranoid karena tidak yakin saya dapat maksimal dalam menjawab soal pada keesokan harinya. Tetapi saya menulis di buku harian saya, menceritakan bagaimana saya bertemu teman-teman saya, tentang hari-hari menyenangkan dan pengalaman-pengalaman berharga yang saya dapat selama disekolah menengah.

Waktu itu saya juga menulis bahwa saya telah belajar 3 tahun lamanya dan saya merasa galau dan selalu bertanya-tanya tentang apa yang akan saya lakukan setelah ini, siapakah jati diri saya selama ini.

Adik-adik, sadarilah kamu tidak perlu terlalu banyak mencecoki dirimu sendiri dengan motivasi-motivasi yang hebat, jika dirimu sendiri tidak dapat membangunkan kepercayaan didalam dirimu. Kekuatan menghadapi segala cobaan tersulit di hidupmu yang kamu perlukan. Bukan keyakinan bahwa kamu akan berhasil sementara kamu masih meraba-raba bagaimana cara tersebut.


Teman Sebaya (peer group) Berkaitan Dengan Prestasi Belajar Anak?

Mungkin ini menjadi pertanyaan ketika seorang anak didik yang terlihat malas belajar, tidak bersemangat datang ke sekolah, cenderung melanggar peraturan tetapi memiliki banyak teman didalam pergaulannya. Sebenarnya kedua hal tersebut memiliki keterkaitan hubungan sebab-akibat.

Kepribadian yang terbentuk didalam diri seorang individu didapatnya dari masyarakat. begitu pula yang terjadi kepada seorang anak yang menjadikan teman sebaya sebagai lembaga sosialisasi keduanya setelah keluarga. Teman sebaya atau teman sepermainan (peer group) menjadi tempat anak-anak maupun remaja menghabiskan sebagian besar waktunya, karena disinilah awal mereka mempelajari cara bersosialisasi dengan masyarakat pada tahap selanjutnya.

Anak-anak yang tidak mampu membina pertemanan yang memuaskan akan merasa terpencil dan tidak bahagia (Asher et al, 1984).
Jika mereka berada di lingkungan sekolah paradigma yang muncul adalah sekolah merupakan tempat yang tidak menyenangkan dan membuat mereka merasa tidak nyaman. Anak-anak yang tidak dapat masuk kedalam lingkungan teman sebayanya cenderung bersikap agresi, mengganggu, berusaha mencari perhatian dan melanggar aturan peraturan permainan yang ditetapkan di kelompoknya.

Anak-anak sebagai mahluk sosial dini berusaha mencari kelompok, membuat dirinya merasa nyaman dan menginginkan eksistensinya diakui oleh teman-teman seusianya. Oleh karena itu mereka akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaan-kebiasaan didalam kelompoknya baik menyukainya atau tidak. Hal inilah yang disebut dengan beradaptasi dengan lingkungan sosial. dengan kaitannya terhadap prestasi belajar anak, kita dapat menganalisis kualitas lingkungan teman sepermainannya terhadap prestasi belajar dan kepribadian yang tumbuh didalam diri anak tersebut.

Saya telah mengamati perilaku beberapa anak didik dari usia Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah dalam lembaga pendidikan formal dan non-formal, mendapati bahwa teori yang dikemukakan diatas adalah benar adanya dan dapat dibuktikan kebenarannya dilapangan. Dalam kasus seorang anak didik saya di lembaga pendidikan tempat mengabdi, Bryan adalah murid tingkat Sekolah Dasar. Ia adalah anak yang sangat responsif terhadap materi pelajaran yang saya berikan. Dikelas Bryan memiliki tiga teman akrab yang selalu bermain bersamanya sebelum kelas dimulai. Penulis mengamati apabila ia duduk bersama dengan teman-temanya ia menjadi kurang fokus terhadap kegiatan belajar-mengajar yang saya berikan. Beberapa saat mereka akan bersikap mengganggu ketika teman-teman yang lain berusaha memperhatikan saya. Tetapi ketika Bryan tidak mendapatkan momen bersama dengan teman-temannya tersebut didalam kelas, misalnya ketika saya memisahkan tempat duduk mereka berempat atau salah satu diantara teman-temannya sedang absen, Bryan dapat bersikap lebih tenang dan mengikuti setiap instruksi yang saya berikan dengan fokus.

Kemudian seorang anak asuh saya yang bernama Dwi yang bersekolah di tingkat Sekolah Menengah, Dwi adalah tipe anak dengan kepribadian yang mudah bergaul dan disukai teman-temannya, tidak mudah takut dan pantang menyerah serta memiliki rasa ingin tahu. Saya mengamatinya sejak di kelas pertama hingga kelas akhir. Hasil akhir akademiknya cenderung berubah di setiap semester, hal ini berkaitan dengan siapa dan bagaimana teman-teman sepermainannya pada saat itu. Inilah yang menjadi kelemahan Dwi, meskipun ia adalah anak yang mudah bergaul tetapi kepribadiannya melemah ketika ia berada ditengah-tengah kelompoknya. Kebanyakan remaja seusianya mengalami hal yang serupa, jika tidak memiliki inner personality yang kuat remaja cenderung terbawa kedalam kepribadian kelompok teman sepermainannya. Hal ini juga yang terjadi dengan Helmi, dikelas pertama Helmi tidak terlalu menonjol dalam prestasi akademiknya. Ia juga anak yang pemalu dan takut mencoba hal-hal baru yang berhubungan dengan interaksi ruang terbuka. Ketika naik ke tingkat kedua Helmi berteman dengan anak-anak yang mendapatkan ranking dikelasnya, lama kelamaan Helmi berubah menjadi anak yang lebih ceria dan humoris bersamaan dengan prestasi akademiknya yang meningkat dan keterbukaannya terhadap pergaulan dengan teman-temannya di sekolah.

Dari kasus anak-anak didik saya diatas saya menyimpulkan bahwa kondisi lingkungan teman sebaya yang kondusif mempengaruhi motivasi belajar seorang anak didik. Ia menginginkan eksistensi ditengah temanteman sepermainannya tetapi ia juga tidak dapat mengabaikan pendidikannya.

Teman sebaya (peer group) yang berkualitas mengarahkan anak-anak pada hal yang positif. pengembangan kepribadian dengan memiliki kematangan bersosialisasi dan menjadi lebih berempati terhadap lingkungannya. Didalam lingkungan yang berkualitas ini biasanya anak yang memiliki kepribadian introvert dapat menjadi lebih mingle dengan teman-teman baik didalam kelompok (inner group) atau diluar kelompok (out group) nya.

Sementara itu untuk menciptakan lingkungan teman sebaya yang berkualitas bagi anak-anak didik adalah mengawasi perkembangan prestasi belajar mereka atau mengawasi secara kepribadian yang berubah ke arah positif atau negatif ketika bersama dengan teman sebayanya.

Pendidikan Berkarakter dan Karakter Pendidik


Pendidikanberkarakter di canangkan oleh Kementerian Pendidikan pada Hari PendidikanNasional tanggal 02 Mei 2011 lalu untuk diberlakukan pada setiap sekolah yang ada di seluruh wilayah nusantara. Slogan raih prestasi, junjung tinggi budi pekerti dimaksudkan agar siswa didik tidak hanya memiliki kemampuan di bidang akademisi saja, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai moral yang dinilai mulai memudar belakangan ini. Ide ini memang dirasakan brilian mengingat semakin tingginya angka kriminalitas yang terjadi di Indonesia. Melalui proses pembelajaran, khususnya pembelajaran di sekolah formal, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendewasaan peserta didik.

Sebenarnya konsep pendidikan berkarakter ini sendiri sudah ada sejak dasar prinsip logika ditemukan oleh pasangan guru-murid yang juga merupakan filsuf terkenal, Plato-Aristoteles. Pada 400 tahun sebelum masehi, Plato mengatakan bahwa manusia itu memiliki dua jiwa, yaitu jiwa jasmani dan rohani.

Jiwa jasmani akan mengalami gangguan apabila jiwa rohani tidak melakukan perbaikan-perbaikan dalam kualitas kehidupannya. Sementara bagaimana jiwa rohani melakukan perannya untuk menjaga keseimbangan kehidupan dengan jiwa jasmani adalah manusia mesti menempuh jalur pendidikan. Dengan pendidikan manusia ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih arif, bijaksana, bertanggung jawab, dan kreatif. Dari konsep Plato mengenai jiwa rohni tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi tujuan dari pendidikan adalah meningkatkan kualitas jiwa individu menjadi lebih baik.

Dan sasaran utama dari pendidikan adalah psikologis para peserta didik. Seorang anak kecil yang sedang memperhatikan ibunya menolong nenek-nenek menyeberang jalan sesungguhnya ia sedang berada dalam proses pembelajaran. Seekor keledai yang pernah jatuh di satu lubang maka ia tidak akan mau lagi untuk jatuh di lubang yang sama, maka ia telah belajar. Selama mahluk hidup berusaha untuk menemukan jalan terbaik untuk menjalani kehidupannya dengan cara yang lebih baik maka itu yang disebut dengan pembelajaran.

Jika pendidikan adalah proses pembelajaran yang meniru atau mengikuti, maka kemudian pendidik adalah aspek utama yang berperan dalam bagaimana tujuan dari suatu pendidikan dapat tercapai. Pendidik dan anak didik adalah dua variabel memiliki korelasi yang kuat sehingga tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Maka jika ingin pendidikan berkarakter berhasil mencapai tujuannya,
karakter pendidik juga harus menjadi perhatian.

Sebagaimana sebuah pepatah lama yang sering kita dengar, guru kencing beridiri murid kencing berlari. Maka dapat kita ambil pelajaran bahwa murid akan selalu mengikuti tingkah laku pendidiknya. Segala apa yang dilakukan oleh pendidik menjadi contoh bagi anak didiknya. Jika baik perilaku yang diperlihatkan oleh pendidik maka akan baik pulalah perilaku anak didiknya.

Sifat/ciri pendidik mestilah berilmu, bertanggung jawab, berkeinginan besar, konsisten, baik dan jujur. Menjadi guru atau pendidik bukan hanya sekedar sebuah status dan pekerjaan tetapi juga menuntut sebuah profesionalitas. Panggilan jiwa untuk menjadi bagian dari orang-orang yang akan mencerdaskan bangsa dan bertanggung jawab penuh terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan terhadap anak didiknya. Guru harus memiliki jiwa yang mengerti akan kebutuhan pendidikan terhadap anak didiknya, pendidikan bukanlah hanya sekedar bagaimana mendapatkan nilai akademisi yang baik di sekolah, menjadi juara dan pulang sebagai pemenang kompetisi pendidikan. Tetapi, menjadi pendidik untuk mengubah pola perilaku anak didik menjadi lebih baik.

Apabila guru dan tenaga pendidik masih memiliki paradigma bahwa pembelajaran adalah bagaimana siswa dapat berhasil menguasai materi pelajaran yang diberikan di lembaga pendidikan, maka mari kita lihat bagaimana proses pembelajarannya. Jika seorang anak dengan fasilitas lengkap yang disediakan oleh orang tuanya serta mendapatkan banyak pengayaan pelajaran dari lembaga kursus diluar sekolah dan menjadi juara kelas berturut-turut tapi tidak memiliki kepekaan social terhadap teman sekelasnya yang setelah pulang sekolah menghabiskan waktu utuk menjual Koran di lampu lalu lintas. Maka sesungguhnya tujuan dari sebuah pendidikan belum mengena kepada anak tersebut. Jika masalah pendidikan yang dihadapi pemerintahdirasakan sangat pelik  sekarang ini adalah karena pemerintah hanya melihat dari satu sisi terhadap kualitas peserta didik di Indonesia. Bangsa ini tidak mungkin hanya mencapai sebuah keberhasilan berdasarkan penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan-pengetahuan. Jika banyak murid yang gagal dalam Ujian Nasional dari tahun ke tahun, perhatikanlah semua anak dilahirkan pintar tapi tidak seluruhnya mampu menangkap pelajaran dengan maksimal. Yang diperlukan disini adalah penanaman dasar dari suatu pendidikan itu kepada peserta didik terlebih dahulu, persiapan mental mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat. Bagaimana menjadi insani yang lebih baik didalam kehidupannya.

Maka, tidak perlulah pemerintah terlalu sibuk mengganti-ganti atau merevisi serta menaikkan standar kurikulum pelajaran di setiap periode pemerintahan yang baru. Hal ini hanya akan menambah beban peserta dan para tenaga pendidik. Mereka akan terus memeras keringat mengejar ketertinggalan penguasaan materi pembelajaran, hari-hari dunia pendidikan akan terus di isi oleh bagaimana tenaga pendidik mampu membuat anak didiknya menguasai seluruh pelajaran yang ditetapkan. Tapi bukan untuk menjadikan anak didik lebih berkualitas dalam menaati nilai-nilai moral dan berperilaku yang baik dimasyarakat.