Showing posts with label Bahasa dan Sastra. Show all posts

Laki-laki, Perempuan dan Jalan yang lurus

Seorang laki-laki dengan pundak yang luas berjalan di jalan itu
Langkah kakinya terdengar resah di malam yang lengang tanpa angin  dan suara jangkrik
Lalu, ia berhenti gontai melayang-layang sendu
Ia katakan padaku aku ingin berbelok padamu sebentar
Sebentar saja, nanti akan kulanjutkan perjalananku setelah padamu kuselesaikan
Aku menatapnya lugu didalam tanya-tanya yang ambigu
Ada kata yang ingin kudengarkan dari vokal yang menemaniku dalam pada malam-malam mengarungi lautan
Mengucapkan kejahatan malam pada sepasang kekasih yang sedang berzinah kata
Malang melintang dalam romantika klasik
Pada cinta yang curi-curi pandang yang sedang diberi harapan palsu
Pada kegagalan yang kau lampiaskan pada kesepian seorang perempuan
Pada cinta yang kau rindukan di seberang pulau yang mungkin tidak sedang kesepian dan tidak merindukanmu
Berjalanlah terus, jangan hiraukan aku!
Lelakiku yang resah, kebodohanmu adalah memperhatikan sebuah pohon kenari yang dihinggapi banyak kunang-kunang yang sedang berkelip-kelip mempesona malam
Lalu matamu yang suram karena terlalu lama diiringi kesepian tertarik dan singgah
Setidaknya tanyakanlah kenapa warna bulan purnama terlihat merah darah dari langit utara ibukota
Setidaknya tanyakanlah kenapa aku mengajukan tiga apel untuk kau cerna Setidaknya tanyakan kebencian apa yang tersimpan didalam hatiku yang terkecil Setidaknya tanyakanlah berapa lama kau dapat singgah Setidaknya tanyakanlah apakah ranting pohon yang kau singgahi cukup rapuh untuk kau patahkan Setidaknya beritahu aku kapan kau akan pergi Biar sempat kuiringi kau dengan cahaya kunang-kunang dijalanmu yang lurus

Laki-laki, Perempuan dan 3 Buah Apel


Siapa suruh situ surati saya siang-siang
"Jadilah milikku seutuhnya";
Ada perempuan muda berkerudung hitam menanam 3 biji benih apel yang siang dan malam dijaganya dari; ayam tetangga yang menceker-ceker
hujan yang menyapu tanah sampai bijinya mumbul lagi kepermukaan
waktu itu benih tumbuh jadi kecambah dia hijau muda dan layu lalu lalu dipagari perempuan itu tiga kecambah dengan pagar bambu
dan hari dan hari dan siang dan malam
dia lalu lalang lintang pukang mondar mandir diawasinya itu tiga pohon yang mulai tumbuh besar
tidak lupa ia siang dan malam disirami dipupuki dan dijaga dari tangan-tangan kecil nakal bocah-bocah tetangga yang suka iseng mreteli daun-daun mudanya
3 pohon apel besar megar segar tahun ke tahun dia perempuan risau putik berbunga tak berbuah banyak banyak satu satu pohon satu buah saja dipetik 3 buah apel ranum masak merah merekah Rona pipi perempuan berkerudung hitam dielusnya tiga buah apel di kain kerudungannya digendong Lalu lalu sekonyong-konyong laki-laki dan semilir angin menyeret langkah suara patah-patah pada ranting tua dan daun kering, pohon apel Ia tengadahkan tangan, welas asih Tidak hadir, sepatah kata dibawah 3 pohon apel dan semilir angin dan rimbun berserak-serak daun pohon apel tertiup sepoi-sepoi Perempuan berkerudung hitam adalah deskripsi dunia tanpa batas ketika kau melihat isi bola matanya kau tak menemukan pantulan gambar wajahmu melainkan bagaimana kau menghabiskan masa depanmu dalam kepercayaan dan keterangan Lalu sekonyong-konyong; berikan padaku! Mata cokelat berperasaan tawar melepas 1 gengam apel dari tangan mungil Berikan aku semua! Seutuhnya ... Apa jenis dunia ini, kau orang asing didunia perempuan yang hidupnya hanya berkutat pada 3 pohon apel yang tak bisa kau harapkan banyak darinya. Lalu kau datang padanya dan meminta sesuatu yang semua orang tak pernah tau kenapa kau memintanya ... Makanlah, makan dan habiskanlah dihadapanku! itu 3 buah apel digengam sepasang kepal tangan besar-besar Tapi tatap mata laki-laki itu tetap sama. Seperti ia berjalan di gelap malam dan tak melihat seberkaspun cahaya, memaksa dirinya untuk terus percaya bahwa hantu adalah proyeksi ilusi dari paranoia manusia. Tapi kepalanya diselubungi sedikit kerisauan. Ia berputar arah dan berjalan menjauh dan tak sepatah katapun Laki-laki dan 3 buah apel di genggaman sepasang kepal tangan yang besar sudah pergi Perempuan berkerudung hitam, dan ranting-ranting pohon apel yang tua dan daun-daun kering yang berjatuhan di tanah dibawah 3 pohon apel yang tidak berbuah dan semilir angin yang ditinggalkan

Puisi Penyair Pujangga Baru

Sebab Dikau

Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kapak
Membunga cionta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku

Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar

Maka merupa di datar layar
Wayang warna menawar rasa
Kalbu rindu turut mengikut
Dua sukma esa -mesra-

Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang pengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyerang dalang pengarak sajak.

- Amir Hamzah (pengkajian puisi, 1995)

Pemaknaan Puisi Terjemahan

Belofte

Beloof me dat je nooit zult veranderen:
Niet zwellen, niet krimpen, niet verkleuren,
Niet anders kijken, niet anders denken,
Dan is het goed.


Beloof me dat je me nooit vreemd zult zijn,
Niet de deur dicht, nooit niets te lachen,
Niet mooi wat lelijk is, niet ongrammaticaal,
Niet iemand anders worden, nooit nooit,
Dan is het goed.



- Rudy Koesbroek.


Janji
Berjanjilah kepadaku kau tak akan berubah:
Tak menggembung, tak mengerut, tak meluntur,
Tak berekspresi muka lain, tak berjalan lain,
Tak bertiduran lain, tak memikirkan lain,
Maka baguslah itu.


Berjanjilah kepadaku kau tak akan jadi orang asing bagiku,
Tak akan menutup pintu, tak pernah tidak tertawa,
Tak indah yang jelek itu, tak kacau tata bahasa,
Tak menjadi orang lain, tak pernah tak pernah,
Maka baguslah itu.




- Sumber: Horison (Edisi Khusus Puisi Internasional) 2002. Diterjemahkan oleh nikmah Sarjono dibantu oleh Berthold Damshaauser.



Pemaknaan puisi:



- Arti 'mengkerut', 'mengembung' dan 'melentur' secara leslikal (kosa kata) berkenaan dengan sifat-sifat zat kimia seperti air atau sesuatu yang dapat berubah wujud zatnya. Dimana dimaksudkan oleh 'aku' bahwa ia tidak menginginkan kekasihnya (bisa jadi puisi ini ditujukan kepada seorang kekasih atau mungkin sahabat atau seseorang yang dekat dengannya) berubah dalm hal fisiknya.
- Sementara secara abstrak 'melentur' mengganbarkan bahwa 'aku' tidak menginginkan pasangannya kehilangan perasaan yang sangat kuat diantara mereka berdua.

- Tata makna (semantis) yang diberikan sang 'aku' kedalam setiap lirik puisinya mengharapkan sebuah janji bahwa pasangannya tak akan berubah dalam keadaan apapun.

- Susunan kalimat (sentaksis) tidak dipakai di dalam setiap kalinat di puisi ini, karena tidak ada aku (objek) meminta (prediket) kamu (objek) untuk berjanji. Puisi ini adalah sebuah ekspresi jiwa dalam kata yang sangat padat dan dalam pemaknaannya.


Pemaknaan Puisi Remaja

Sayang, Kita Tak Pernah Bicara



Sayang, kita tak pernah bicara!
Membiarkan angin menggugurkan
bunga-bunga akasia
satu-satu di kepala kita
mawar mekar harum
semakin menyembunyikan diri dari tatapan
hingga kata-kata begitu saja tersesat dan hilang di sepanjang jalan-jalan
yang pernah iri akan cengkerama kita
tanpa arti berlebih dalam kelembaman hati


Sayang, kita tidak pernah bicara
tentang guguran bunga-bunga akasia
sehabis gerimis
tentang mawar mekar harum di pojok jalan
tau tentang apa saja
yang mengabadikan
yang mengekalkan sesuatu
yang tak tersapa di antara kita.



- Yohana Dewi, Buku 'Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Kelas 3, JP Books'.


Pemaknaan:


- Puisi ini menggunakan majas litotes seperti dalam kalimat 'sayang, kita tak pernah bicara!' yang berarti bahwa penyair dan pasangannya diam atau tak bicara. Pengarang melalui lirik menggambarkan bahwa telah bekunya suatu komunikasi diantara keduanya. Seluruh bait puisi menggunakan pencitraan lihat dapat dilihat dari penggambaran visual terhadap benda-benda di sekeliling penyair.