Why Escape to Jakarta? (Kenapa Kabur Ke Jekardah?)
Elkisah pada suatu malam saya kelaparan dan tidak bisa tidur. Ditengah krisis moneter karena persediaan uang di rekening sudah ludes dan belum di interview kerja (meskipun sudah apply kemana-mana), lalu tercetuslah sebuah ide supaya sebaiknya saya pergi menyendiri ke sebuah pulau keramat yang tidak jauh dari Kota Tanjungpinang, Pulau Penyengat.
Singkat cerita, setelah mengadu kepada Tuhan disuatu siang yang cerah saya mendapat pencerahan pula bahwa ada baiknya jika saya ingin sukses dimasa depan maka beranikanlah diri untuk memijak bumi asing dan dapatkan pengalaman baru. Begitu kata suara-suara gaib di pikiran saya.
Laki-laki, Perempuan dan Jalan yang lurus
Seorang laki-laki dengan pundak yang luas berjalan di jalan itu
Langkah kakinya terdengar resah di malam yang lengang tanpa angin dan suara jangkrik
Lalu, ia berhenti gontai melayang-layang sendu
Ia katakan padaku aku ingin berbelok padamu sebentar
Sebentar saja, nanti akan kulanjutkan perjalananku setelah padamu kuselesaikan
Aku menatapnya lugu didalam tanya-tanya yang ambigu
Ada kata yang ingin kudengarkan dari vokal yang menemaniku dalam pada malam-malam mengarungi lautan
Mengucapkan kejahatan malam pada sepasang kekasih yang sedang berzinah kata
Malang melintang dalam romantika klasik
Pada cinta yang curi-curi pandang yang sedang diberi harapan palsu
Pada kegagalan yang kau lampiaskan pada kesepian seorang perempuan
Pada cinta yang kau rindukan di seberang pulau yang mungkin tidak sedang kesepian dan tidak merindukanmu
Berjalanlah terus, jangan hiraukan aku!
Lelakiku yang resah, kebodohanmu adalah memperhatikan sebuah pohon kenari yang dihinggapi banyak kunang-kunang yang sedang berkelip-kelip mempesona malam
Lalu matamu yang suram karena terlalu lama diiringi kesepian tertarik dan singgah
Setidaknya tanyakanlah kenapa warna bulan purnama terlihat merah darah dari langit utara ibukota
Setidaknya tanyakanlah kenapa aku mengajukan tiga apel untuk kau cerna
Setidaknya tanyakan kebencian apa yang tersimpan didalam hatiku yang terkecil
Setidaknya tanyakanlah berapa lama kau dapat singgah
Setidaknya tanyakanlah apakah ranting pohon yang kau singgahi cukup rapuh untuk kau patahkan
Setidaknya beritahu aku kapan kau akan pergi
Biar sempat kuiringi kau dengan cahaya kunang-kunang dijalanmu yang lurus
Laki-laki, Perempuan dan 3 Buah Apel
Siapa suruh situ surati saya siang-siang
"Jadilah milikku seutuhnya";
Ada perempuan muda berkerudung hitam menanam 3 biji benih apel yang siang dan malam dijaganya dari; ayam tetangga yang menceker-ceker
hujan yang menyapu tanah sampai bijinya mumbul lagi kepermukaan
waktu itu benih tumbuh jadi kecambah dia hijau muda dan layu lalu lalu dipagari perempuan itu tiga kecambah dengan pagar bambu
dan hari dan hari dan siang dan malam
dia lalu lalang lintang pukang mondar mandir diawasinya itu tiga pohon yang mulai tumbuh besar
tidak lupa ia siang dan malam disirami dipupuki dan dijaga dari tangan-tangan kecil nakal bocah-bocah tetangga yang suka iseng mreteli daun-daun mudanya
3 pohon apel besar megar segar tahun ke tahun dia perempuan risau putik berbunga tak berbuah banyak banyak satu satu pohon satu buah saja
dipetik 3 buah apel ranum masak merah merekah
Rona pipi perempuan berkerudung hitam dielusnya tiga buah apel di kain kerudungannya digendong
Lalu lalu sekonyong-konyong laki-laki dan semilir angin menyeret langkah suara patah-patah pada ranting tua dan daun kering, pohon apel
Ia tengadahkan tangan, welas asih
Tidak hadir, sepatah kata dibawah 3 pohon apel dan semilir angin dan rimbun berserak-serak daun pohon apel tertiup sepoi-sepoi
Perempuan berkerudung hitam adalah deskripsi dunia tanpa batas ketika kau melihat isi bola matanya kau tak menemukan pantulan gambar wajahmu melainkan bagaimana kau menghabiskan masa depanmu dalam kepercayaan dan keterangan
Lalu sekonyong-konyong; berikan padaku!
Mata cokelat berperasaan tawar melepas 1 gengam apel dari tangan mungil
Berikan aku semua! Seutuhnya ...
Apa jenis dunia ini, kau orang asing didunia perempuan yang hidupnya hanya berkutat pada 3 pohon apel yang tak bisa kau harapkan banyak darinya. Lalu kau datang padanya dan meminta sesuatu yang semua orang tak pernah tau kenapa kau memintanya ...
Makanlah, makan dan habiskanlah dihadapanku!
itu 3 buah apel digengam sepasang kepal tangan besar-besar
Tapi tatap mata laki-laki itu tetap sama. Seperti ia berjalan di gelap malam dan tak melihat seberkaspun cahaya, memaksa dirinya untuk terus percaya bahwa hantu adalah proyeksi ilusi dari paranoia manusia. Tapi kepalanya diselubungi sedikit kerisauan.
Ia berputar arah dan berjalan menjauh dan tak sepatah katapun
Laki-laki dan 3 buah apel di genggaman sepasang kepal tangan yang besar sudah pergi
Perempuan berkerudung hitam, dan ranting-ranting pohon apel yang tua dan daun-daun kering yang berjatuhan di tanah dibawah 3 pohon apel yang tidak berbuah dan semilir angin yang ditinggalkan














