Showing posts with label Literatures. Show all posts

Rumah 1: Pergi

aku ingin diam dan mencintaimu
seperti sapardi djoko darmono
dan hanya bicara untuk mengatakan aku mencintaimu
seperti ayah dan ibumu ketika melihatmu pertama kali lahir ke dunia

biarkan semua scene tentang kita yang tak seharusnya aku harapkan itu ada
ilusi dari kenyataan tentang kemanusiaan seperti menelan ludah sendiri
seperti janjimu mengajakku naik ke puncak rinjani
atau tak bermain-main dengan perasaan dan kemanusiaan
yang mengejutkanku dengan perubahan cuaca yang ekstrim
badai, pelangi, badai pasir, banjir, topan, terik, kemarau, mendung.

lalu kau tewas terseret angin musim badai di puncak papandayan
dan pergi menghilang dalam kabut, dalam mendungnya wajahmu di kaki gunung semeru bulan april
apakah kau senang di kehidupan yang lain, atau kau bermain peran lagi seperti di kehidupan lampau
saat kau begitu mengagumi puisiku dan menari gila untuk meluapkan kemarahan

hilangmu dan raibmu dari hidupku yang akan tetap dan harus kucoba menerima
meskipun aku berat, tapi aku akan mencari jalan keluar dari hutan
sudah kukatakan aku mempercayaimu
mempercayai rasa kemanusiaan yang benar-benar tertinggal pada jiwa seorang aktor yang terperangkap di tubuh lelaki kesepian
yang bermain peran, mempermainkan peran-peran




Tentang Laki-laki dan Sajak: Soe Hoek Gie

Saya tidak puitis, tidak romantis dan tidak dramatis. Tapi saya suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif. Jadi, ceritanya sekarang saya sedang belajar tentang Soe Hoek Gie, bukan Kahlil Gibran seperti yang saya selalu lakukan. Dan serius, saya belum mengerti jelas. Oleh karena itu di akhir tulisan ini saya melampirkan banyak pertanyaan tentang laki-laki. Karena laki-laki adalah kesulitan terbesar yang pernah Tuhan ciptakan untuk saya. Sama rumitnya seperti Kahlil Gibran, Chairil Anwar dan Khairul Ni'am, begitu juga Dia dan Soe Hoek Gie.

Gie, (jujur saya tidak tahu cara vokalisasi nama Gie) terkenal (katanya orang-orang dan katanya buku-buku) sebagai aktivis tahun 60-an karena latar belakang pendidikannya di Perguruan Tinggi yang lumayan berpengaruh di Jakarta meskipun sebenarnya untuk fakultas dan jurusan yang ia ambil sangat jauh menyimpang dari sifatnya yang dianggap orang-orang sebagai pemuda pemberontak, pecinta kebebasan dan kritis, tapi Gie suka menulis sama halnya seperti yang saya lakukan. Hanya Gie lebih baik. Dan di tulisan ini saya tidak akan membahas panjang mengenai latar belakang kesukuan ataupun keagamaan dari seorang sosok, mari fokus saja dengan satu hal. Karena saya tidak suka membicarakan tentang hal-hal yang tidak saya pahami. Selain itu saya juga bukan seorang cendekiawan yang mahfum sosial-politik karena kenyataannya lulus perguruan tinggi pun belum, jadi saya tidak akan mengupas mengenai artikel-artikel ataupun essay Gie tentang pemerintah di jamannya. Saya hanya akan fokus pada Gie sebagai seorang laki-laki yang rumit dari pandangan seorang perempuan seperti saya dan Nurmala Kartini Panjaitan, yang kira-kira mirip dengan saya. Dan mungkin juga tidak ada yang tahu bahwa dibalik itu semua Gie tidak bisa menghadapi dan berbicara dengan seorang wanita seperti dengan lugasnya menyampaikan pandangan dan pikirannya dengan seorang koruptor licik atau pejabat tengil yang bodoh dan semena-mena dengan hajat hidup orang banyak. Sungguh saya tidak punya maksud apa-apa dibalik kalimat terakhir sebelum ini.

Jadi Gie, apa yang anda minta dari saya atas puisi dibawah?
Haruskah saya menterjemahkan pikiran anda yang nyawanya berakhir dengan tragis dibawah kaki gunung yang telah melahirkan saya? (maaf.red)


SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa pada suatu ketika yang telah lama kita ketahuiapakah kau masih berbicara selembut dahulu? memintaku minum susu dan tidur yang lelap?sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendalawangi kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

Apakah basa-basi saya diatas cukup jelas bahwa sebenarnya sampai di paragraf inipun saya sedang mencari celah sambil memahami makna sajak yang anda tulis. Laki-laki yang menginginkan cinta seperti apa yang ia visualisasikan. Begitu seterusnya dan tidak berubah, seperti dahulu, menggebu-gebu, afektif dan selalu terlihat baru. Entah kepada seorang perempuan, atau pada sesuatu yang lainnya yang ia anggap begitu ingin selalu didekatnya. Selalu bisa memahaminya dan selalu memperhatikannnya seperti hal yang selalu ia butuhan. Laki-laki seperti Gie adalah seorang manja yang selalu ingin diberikan kasih sayang tanpa meminta, tanpa bertanya dan tanpa perdebatan. Perempuan atau apalah itu sosoknya, yang ia rasa sudah sangat intim sekali dengannya seperti nya sudah menjadi dunianya sendiri bahkan dunia sekitar bukanlah lagi dunia sekitar. Apakah Gie sedang merasakan cinta? Apakah cinta menyakitkan seperti yang ia ekspesrikan pada Ker ketika mereka berdua mendaki Ceremai? Apakah Gie tidak bisa membaca bahwa sebenarnya Ker menganggap Gie sedang patah hati karena ia salah menafsirkan raut muka Gie dan cerita-cerita suram Gie?

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi surammeresapi belaian angin yang menjadi dingin)

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

Apakah Gie pernah menerabas hutan dan gunung bersama kekasihnya (bahkan saya buta kayu apakah Gie punya kekasih) sampai bisa merasakan kedekatan dengan alam dan dengan kekasihnya sama menentramkan jiwa seorang laki-laki yang terlihat seperti masa bodoh dan tidak mengurusi hal remeh-temeh tentang percintaan. Pertanyaan saya cukup retoris. Karena akhirnya saya menemukan saksi yang membatalkan kesanksian saya. Waktu menulis puisi ini, Gie pergi bersama dengan Ker, sahabat perempuannya. Bahkan hingga tujuh bulan berikutnya Gie dan Ker hidup dalam buku harian berwarna biru, didalam imaginasi Gie.

Jadi Ker, adalah seorang "perempuan pelampiasan" dari laki-laki yang ternyata cengeng seperti Gie. Mereka terikat dalam suatu hubungan pertemanan rumit meskipun hingga pada akhirnya Ker yang mencoba untuk pura-pura tetap tidak tahu bahwa Gie ingin mengajukan banyak pertanyaan pada Ker tentang perasaannya. Ker, seperti yang pernah saya baca dalam sebuah tulisan. Sepertinya adalah seorang perempuan praktis yang mengandalkan logika dan analisa, menginginkan semua perempuan inginkan, kepastian. Mungkin Gie adalah laki-laki pintar dan pemberani yang diinginkan semua perempuan tetapi ia tetap tidak bisa menyampaikan sedalam-dalamnya isi pikiran dan perasaannya kepada seorang Ker yang selalu menjadi tempat terdekat Gie dalam hubungan emosional. Meskipun Gie punya banyak teman laki-laki lainnya dan ia sangat mudah bergaul maka bisa dipastikan dengan mudah saja ia dapat menaklukan hati perempuan manapun yang ia mau. Tapi Gie tetap tidak tahu aturan dasar berhadapan dengan perempuan, dalam tipe perempuan baik-baik. Gie, perempuan tidak akan memulai dahulu. Meskipun jika ia punya perasaan denganmu dan bahkan lebih afektif dari perasaanmu, Bahkan sampai Isa dibangkitkan kembali dari tanah untuk melawan Dajjal pun, perempuan tidak akan pernah mau mengatakan isi perasaannya kepada laki-laki yang ia inginkan. Perempuan adalah pencipta pertanyaan dan ahli jawaban yang baik. Ia sangat menginginkan pertanyaan yang sudah ia tahu harus menjawab apa. Ker-pun bahkan sebenarnya bisa saja memulai dulu untuk mengajukan pertanyaan kepada Gie, Tapi tidak ada yang tahu isi pikiran Ker, isi pikiran perempuan.

Bahkan hingga hidupnya diselesaikan di puncak Mahameru, Gie mungkin memiliki penyesalan tentang cinta yang tidak sempat disampaikan. Cinta dalam bentuk apapun yang ia tafsirkan mengenai perasaannya terhadap Ker. Mungkin Gie pernah menyesal, tapi perempuan yang menunggu lebih banyak terluka dari penyesalan seorang laki-laki. Lalu, ini akhir dari tulisan saya yan akan berakhir dengan banyak pertanyaan tentang laki-laki seperti yang saya katakan diawal.

Apakah laki-laki tidak bisa saja hanya mengatakan semua hal yang jelas seperti Ya dan Tidak? Bagaimana jika ternyata didalam sebuah inception yang diciptakan seseorang benar-benar menggiring laki-laki jauh masuk terlalu dalam? Apakah laki-laki benar suka tantangan dan menginginkan kesusahan yang dapat dinikmati? Apakah laki-laki tahu bahwa tidak semua laki-laki terlihat "tidak mudah dibaca" meskipun sesusah apapun mereka berusaha menyembunyikannya? Dan apakah laki-laki tahu apa yang dimaksud dengan Gender? Bahkan yang lebih parahnya, tidak ada yang menduga bahwa saya akan bertanya seperti ini. Apakah laki-laki pernah sebegitu menangisnya seperti seorang perempuan? Maaf jika pertanyaan saya terlalu kejam, tapi dalam 24 tahun saya hidup, hanya Bapak yang pernah saya lihat menangis. Ketika saya lahir, ketika saya sakit dan ketika saya mengecewakannya. Jadi wajar jika saya bertanya seperti itu. Saya tidak ditakdirkan Tuhan untuk punya perasaan sensitif seperti perempuan pada umumnya. Jadi, mencoba memahami banyak hal-hal rumit membantu saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya buat sendiri. Karena saya belum menemukan yang bisa memberikan jawaban terakhir.



Makna Cinta dari Rangga Untuk Puisi Ada Apa Dengan Cinta?



Halo readers, udah lama nih ga bahas mengenai puisi dan sajak.

Meskipun film ini udah lawas banget, sejak tahun 2002. Tapi efek romantis yang ditinggalkan Cinta dan Rangga masih berasa. Ibarat film india Kuch-Kuch Hotahai akting Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardojo meninggalkan image luar biasa buat kedua tokoh di film romantis tsb. Nah, bukan cuma akting mereka yang hebat tapi ga lepas juga dari peran puisi-puisi yang selalu jadi bagian utama dari film AADC. 

Kali ini saya jatuh cinta sama puisinya Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? Puisi ini muncul di adegan terakhir ketika Rangga akan berpisah dengan Cinta di Bandara dan memberikan sebuah buku catatan sebagai kenang-kenangan untuk cinta. Nah, dihalaman terakhir buku itu ternyata ada sebuah puisi yang didedikasikan untuk Cinta. Meskipun jika dilihat dari isi didalamnya puisi tsb tidak benar-benar hanya tertuju ke Cinta, tapi lebih kepada perempuan. Sosok yang selalu membuat Rangga bertanya-tanya.


Ada Apa Dengan Cinta?

perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa

ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu, itu saja.



Pada paragraf pertama dari puisi tsb, Rangga mendeskripsikan perempuan yang datang ke hidupnya karena alasan cinta. Tapi kemudian ia menampik bahwa tidak semua perempuan seperti cinta yang ia pikirkan. Ibunya adalah perempuan yang tidak punya rasa cinta. Karena menurutnya ibunya memiliki hati yang dingin dan tidak punya kehangatan kasih sayang. Kalau readers sudah nonton film AADC, disitu diceritakan alasan kenapa ibu Rangga meninggalkan ia dan ayahnya. Maka dibait ini Rangga masih bingung dengan bagaimana perempuan dapat sedemikian indah tapi juga bisa menjadi menakutkan jika tidak punya rasa kasih sayang.
 
perempuan datang atas nama cinta
bunda pergi karna cinta
digenangi air racun jingga adalah wajahmu
seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan


Laki-laki dan perempuan memang tidak bisa selalu sejalan dalam pemahaman. Rangga digambarkan sebagai sosok laki-laki dengan kepribadian acuh terhadap situasi sekitar karena selalu berkutat dengan dunia sastera, kesendiriannya menyebabkan ia merasa terasing dari lingkungan teman-teman sekolah. Berbeda dengan kepribadian Cinta yang supel dan memiliki banyak teman. Tidak heran ketika Cinta dan Rangga bertemu, keduanya sering beradu pendapat dalam pembicaraan. Tetapi dari situlah muncul rasa penasaran Rangga terhadap dunia yang penuh dengan hingar bingar, perseteruan dengan Cinta dalam beberapa hal membuatnya memahami keindahan perbedaan yang diciptakan Tuhan selama ini yang tidak dia sadari.

ada apa dengannya
meninggalkan hati untuk dicaci
lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa


Cinta selalu membuat orang bertanya-tanya. Apakah mereka benar-benar jatuh cinta? Atau hanya perasaan penasaran karena selalu ada bagian yang ingin diketahui dari seseorang yang benar-benar menarik perhatian. Tentunya kamu readers juga pernah merasakan perasaan seperti itu. Merasa terasing dan sepi memikirkan sesuatu pada seseorang. Bahkan meskipun sudah terikat dengan hubungan tetapi selalu ada hal baru yang ditemui pada diri seseorang, itulah yang membuat cinta tidak pernah membosankan. Selalu dirindukan dan dipertanyakan.

ada apa dengan cinta
tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
karena aku ingin kamu,itu saja.


Oke readers, hehehe...jangan terhanyut donk dengan puisi diatas. Meskipun maknanya sangat dalam tetapi jika kita pikirkan lebih jauh cinta yang dimaksudkan Rangga sebenarnya bukan hanya sosok Cinta gadis manis yang menarik perhatiannya dan membuatnya jatuh cinta, tetapi Rangga mencoba menggali jawaban dari perasaan yang dirasakan terhadap sesuatu yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Cinta.

Daku Tak Pernah Bermimpi





Pernah daku bermimpi engkau yang mengamatiku mendaki bukit,
tergesa gesa,
berletih letih,
setengah mati, aku melihat matahari di puncaknya. Akhirnya itu tetap aku.

Pernah daku bermimpi kita adalah cinta yang saling. Duka yang silang. Daku adalah kasih, suka dan petuah. Engkau datang padaku seperti rindu ibu.

Pernah daku bermimpi, kita adalah sahabat. Segala kisah dalam hidup adalah kisah. Salon.

Pernah daku bermimpi menggandeng tangan gaib lelaki rupawan, wajahnya abstrak dan samar, senyumnya manis, harum dan harus, layak impian pemuda. Dia menggandeng tanganku menuju Engkau.

Pernah daku bermimpi tidak menginginkan perasaan membuang sia sia daku duka duku.

Daku tak pernah bermimpi mimpi mimpi jadi kenyataan.

Maka kuputar lantang lantang di mendung, di panas, di suka, di duka

Si la poussiere emporte tes reves de lumiere
Je serai te lune, ton repere
Et si le soleil nous brule
Je prierai qui tu voudras
Pour que tombe la neigi au Sahara

Dec.

HomeSick (RumahSakit)

 
Kupu-kupu
Bau segar rumput pagi, Embun
kasur bau ompol
suara las, grenda besi
daun-daun melinjo, pohon mangga, pohon kates
angin
burung emprit
anak-anak ayam, anak-anak kelinci
pohon cabe didalam jaring
sumur
harum daun pandan
pesing ompol kasur yang dijemur
angin
pohon bakau-bakau
anak-anak bebek
anyir air laut pasang
rumpi tetangga
biru, awan putih, awan mendung

orang asing dirumah sendiri


-Tg.pinang, 10 Okto 10.

Pelet (26 Mei 2011)


Aku mau pelet kamu
Biar makin lengket dihatiku
Karena makin meroket cintaku
Jadi aku mau pelet kamu

Hai mambang air,
mambang api,
mambang tanah,
mambang sungai, mambang laut
mambang segala mambang

Kalau siang dia terbayang-bayang
Kalau petang dia kuminta datang
Kalau kusayang dia terkenang-ken

Laki-laki, Perempuan dan Jalan yang lurus

Seorang laki-laki dengan pundak yang luas berjalan di jalan itu
Langkah kakinya terdengar resah di malam yang lengang tanpa angin  dan suara jangkrik
Lalu, ia berhenti gontai melayang-layang sendu
Ia katakan padaku aku ingin berbelok padamu sebentar
Sebentar saja, nanti akan kulanjutkan perjalananku setelah padamu kuselesaikan
Aku menatapnya lugu didalam tanya-tanya yang ambigu
Ada kata yang ingin kudengarkan dari vokal yang menemaniku dalam pada malam-malam mengarungi lautan
Mengucapkan kejahatan malam pada sepasang kekasih yang sedang berzinah kata
Malang melintang dalam romantika klasik
Pada cinta yang curi-curi pandang yang sedang diberi harapan palsu
Pada kegagalan yang kau lampiaskan pada kesepian seorang perempuan
Pada cinta yang kau rindukan di seberang pulau yang mungkin tidak sedang kesepian dan tidak merindukanmu
Berjalanlah terus, jangan hiraukan aku!
Lelakiku yang resah, kebodohanmu adalah memperhatikan sebuah pohon kenari yang dihinggapi banyak kunang-kunang yang sedang berkelip-kelip mempesona malam
Lalu matamu yang suram karena terlalu lama diiringi kesepian tertarik dan singgah
Setidaknya tanyakanlah kenapa warna bulan purnama terlihat merah darah dari langit utara ibukota
Setidaknya tanyakanlah kenapa aku mengajukan tiga apel untuk kau cerna Setidaknya tanyakan kebencian apa yang tersimpan didalam hatiku yang terkecil Setidaknya tanyakanlah berapa lama kau dapat singgah Setidaknya tanyakanlah apakah ranting pohon yang kau singgahi cukup rapuh untuk kau patahkan Setidaknya beritahu aku kapan kau akan pergi Biar sempat kuiringi kau dengan cahaya kunang-kunang dijalanmu yang lurus

Laki-laki, Perempuan dan 3 Buah Apel


Siapa suruh situ surati saya siang-siang
"Jadilah milikku seutuhnya";
Ada perempuan muda berkerudung hitam menanam 3 biji benih apel yang siang dan malam dijaganya dari; ayam tetangga yang menceker-ceker
hujan yang menyapu tanah sampai bijinya mumbul lagi kepermukaan
waktu itu benih tumbuh jadi kecambah dia hijau muda dan layu lalu lalu dipagari perempuan itu tiga kecambah dengan pagar bambu
dan hari dan hari dan siang dan malam
dia lalu lalang lintang pukang mondar mandir diawasinya itu tiga pohon yang mulai tumbuh besar
tidak lupa ia siang dan malam disirami dipupuki dan dijaga dari tangan-tangan kecil nakal bocah-bocah tetangga yang suka iseng mreteli daun-daun mudanya
3 pohon apel besar megar segar tahun ke tahun dia perempuan risau putik berbunga tak berbuah banyak banyak satu satu pohon satu buah saja dipetik 3 buah apel ranum masak merah merekah Rona pipi perempuan berkerudung hitam dielusnya tiga buah apel di kain kerudungannya digendong Lalu lalu sekonyong-konyong laki-laki dan semilir angin menyeret langkah suara patah-patah pada ranting tua dan daun kering, pohon apel Ia tengadahkan tangan, welas asih Tidak hadir, sepatah kata dibawah 3 pohon apel dan semilir angin dan rimbun berserak-serak daun pohon apel tertiup sepoi-sepoi Perempuan berkerudung hitam adalah deskripsi dunia tanpa batas ketika kau melihat isi bola matanya kau tak menemukan pantulan gambar wajahmu melainkan bagaimana kau menghabiskan masa depanmu dalam kepercayaan dan keterangan Lalu sekonyong-konyong; berikan padaku! Mata cokelat berperasaan tawar melepas 1 gengam apel dari tangan mungil Berikan aku semua! Seutuhnya ... Apa jenis dunia ini, kau orang asing didunia perempuan yang hidupnya hanya berkutat pada 3 pohon apel yang tak bisa kau harapkan banyak darinya. Lalu kau datang padanya dan meminta sesuatu yang semua orang tak pernah tau kenapa kau memintanya ... Makanlah, makan dan habiskanlah dihadapanku! itu 3 buah apel digengam sepasang kepal tangan besar-besar Tapi tatap mata laki-laki itu tetap sama. Seperti ia berjalan di gelap malam dan tak melihat seberkaspun cahaya, memaksa dirinya untuk terus percaya bahwa hantu adalah proyeksi ilusi dari paranoia manusia. Tapi kepalanya diselubungi sedikit kerisauan. Ia berputar arah dan berjalan menjauh dan tak sepatah katapun Laki-laki dan 3 buah apel di genggaman sepasang kepal tangan yang besar sudah pergi Perempuan berkerudung hitam, dan ranting-ranting pohon apel yang tua dan daun-daun kering yang berjatuhan di tanah dibawah 3 pohon apel yang tidak berbuah dan semilir angin yang ditinggalkan

Puisi Penyair Pujangga Baru

Sebab Dikau

Kasihkan hidup sebab dikau
Segala kuntum mengoyak kapak
Membunga cionta dalam hatiku
Mewangi sari dalam jantungku

Hidup seperti mimpi
Laku lakon di layar terkelar
Aku pemimpi lagi penari
Sedar siuman bertukar-tukar

Maka merupa di datar layar
Wayang warna menawar rasa
Kalbu rindu turut mengikut
Dua sukma esa -mesra-

Aku boneka engkau boneka
Penghibur dalang pengatur tembang
Di layar kembang bertukar pandang
Hanya selagu, sepanjang dendang
Golek gemilang ditukarnya pula
Aku engkau di kotak terletak
Aku boneka engkau boneka
Penyerang dalang pengarak sajak.

- Amir Hamzah (pengkajian puisi, 1995)

Pemaknaan Puisi Terjemahan

Belofte

Beloof me dat je nooit zult veranderen:
Niet zwellen, niet krimpen, niet verkleuren,
Niet anders kijken, niet anders denken,
Dan is het goed.


Beloof me dat je me nooit vreemd zult zijn,
Niet de deur dicht, nooit niets te lachen,
Niet mooi wat lelijk is, niet ongrammaticaal,
Niet iemand anders worden, nooit nooit,
Dan is het goed.



- Rudy Koesbroek.


Janji
Berjanjilah kepadaku kau tak akan berubah:
Tak menggembung, tak mengerut, tak meluntur,
Tak berekspresi muka lain, tak berjalan lain,
Tak bertiduran lain, tak memikirkan lain,
Maka baguslah itu.


Berjanjilah kepadaku kau tak akan jadi orang asing bagiku,
Tak akan menutup pintu, tak pernah tidak tertawa,
Tak indah yang jelek itu, tak kacau tata bahasa,
Tak menjadi orang lain, tak pernah tak pernah,
Maka baguslah itu.




- Sumber: Horison (Edisi Khusus Puisi Internasional) 2002. Diterjemahkan oleh nikmah Sarjono dibantu oleh Berthold Damshaauser.



Pemaknaan puisi:



- Arti 'mengkerut', 'mengembung' dan 'melentur' secara leslikal (kosa kata) berkenaan dengan sifat-sifat zat kimia seperti air atau sesuatu yang dapat berubah wujud zatnya. Dimana dimaksudkan oleh 'aku' bahwa ia tidak menginginkan kekasihnya (bisa jadi puisi ini ditujukan kepada seorang kekasih atau mungkin sahabat atau seseorang yang dekat dengannya) berubah dalm hal fisiknya.
- Sementara secara abstrak 'melentur' mengganbarkan bahwa 'aku' tidak menginginkan pasangannya kehilangan perasaan yang sangat kuat diantara mereka berdua.

- Tata makna (semantis) yang diberikan sang 'aku' kedalam setiap lirik puisinya mengharapkan sebuah janji bahwa pasangannya tak akan berubah dalam keadaan apapun.

- Susunan kalimat (sentaksis) tidak dipakai di dalam setiap kalinat di puisi ini, karena tidak ada aku (objek) meminta (prediket) kamu (objek) untuk berjanji. Puisi ini adalah sebuah ekspresi jiwa dalam kata yang sangat padat dan dalam pemaknaannya.


Pemaknaan Puisi Remaja

Sayang, Kita Tak Pernah Bicara



Sayang, kita tak pernah bicara!
Membiarkan angin menggugurkan
bunga-bunga akasia
satu-satu di kepala kita
mawar mekar harum
semakin menyembunyikan diri dari tatapan
hingga kata-kata begitu saja tersesat dan hilang di sepanjang jalan-jalan
yang pernah iri akan cengkerama kita
tanpa arti berlebih dalam kelembaman hati


Sayang, kita tidak pernah bicara
tentang guguran bunga-bunga akasia
sehabis gerimis
tentang mawar mekar harum di pojok jalan
tau tentang apa saja
yang mengabadikan
yang mengekalkan sesuatu
yang tak tersapa di antara kita.



- Yohana Dewi, Buku 'Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia Kelas 3, JP Books'.


Pemaknaan:


- Puisi ini menggunakan majas litotes seperti dalam kalimat 'sayang, kita tak pernah bicara!' yang berarti bahwa penyair dan pasangannya diam atau tak bicara. Pengarang melalui lirik menggambarkan bahwa telah bekunya suatu komunikasi diantara keduanya. Seluruh bait puisi menggunakan pencitraan lihat dapat dilihat dari penggambaran visual terhadap benda-benda di sekeliling penyair.