Showing posts with label Manufacture. Show all posts

Rumah 1: Pergi

aku ingin diam dan mencintaimu
seperti sapardi djoko darmono
dan hanya bicara untuk mengatakan aku mencintaimu
seperti ayah dan ibumu ketika melihatmu pertama kali lahir ke dunia

biarkan semua scene tentang kita yang tak seharusnya aku harapkan itu ada
ilusi dari kenyataan tentang kemanusiaan seperti menelan ludah sendiri
seperti janjimu mengajakku naik ke puncak rinjani
atau tak bermain-main dengan perasaan dan kemanusiaan
yang mengejutkanku dengan perubahan cuaca yang ekstrim
badai, pelangi, badai pasir, banjir, topan, terik, kemarau, mendung.

lalu kau tewas terseret angin musim badai di puncak papandayan
dan pergi menghilang dalam kabut, dalam mendungnya wajahmu di kaki gunung semeru bulan april
apakah kau senang di kehidupan yang lain, atau kau bermain peran lagi seperti di kehidupan lampau
saat kau begitu mengagumi puisiku dan menari gila untuk meluapkan kemarahan

hilangmu dan raibmu dari hidupku yang akan tetap dan harus kucoba menerima
meskipun aku berat, tapi aku akan mencari jalan keluar dari hutan
sudah kukatakan aku mempercayaimu
mempercayai rasa kemanusiaan yang benar-benar tertinggal pada jiwa seorang aktor yang terperangkap di tubuh lelaki kesepian
yang bermain peran, mempermainkan peran-peran




Manufaktur 11: Apa Bisa Kanthi Kelangan Mandhap Badai




Yen ing tawang ono lintang cah ayu
Aku ngenteni teka mu
Marang mego ing angkoso
Sung takok-ke pawartamu
Janji janji aku eleng cah ayu
Sumedot roso ing ati
Lintang lintang'e wingi wingi nimas
Tresna ku sundul ing ati
Ndek semono janjimu disekseni
Mego kartiko keiring roso tresno asih


Apa kanthi kanggé ngelangaken topan?
Cah ayu rendet-rendet ngagem klambi abang ing atis
Grenengan ilang gugu
Ngasta arga bayu

Lagu ini adalah sebuah lagu cinta berbahasa jawa krama dengan judul yang jika di artikan berarti "When fall in love to the star", bercerita tentang seorang kekasih yang merindukan perempuan yang dicintainya. Untuk mengobati rasa rindu, ia bertanya kepada benda-benda langit tentang kekasihnya. 

Kedua kekasih yang saling mengikat janji tapi saling tersakiti karena tidak bisa bertemu. Meskipun keduanya masih tetap saling mencintai, keadaan yang tidak bersahabat tidak membuat hilangnya perasaan cinta kasih.

Sang kekasih memiliki janji bahwa semua penderitaan cinta ini akan berakhir ketika bulan purnama datang. Ketika janjinya berat untuk ditunaikan karena banyak godaan disekitar, ia akan selalu mengingat bahwa cintanya yang besar dapat mengalahkan segalanya.

Hati sepasang kekasih yang telah disatukan akan dapat saling berhubungan meskipun dipisahkan jarak yang jauh. Ketika malam tiba hati mereka saling disatukan oleh indahnya bulan purnama di langit.

Lagu ini sering saya dengar ketika masih kecil dan tinggal dengan Bude di Jember. Pakde saya adalah laki-laki penyabar yang bekerja sebagai masinis kereta api. Dua anaknya juga laki-laki. Yang satunya jika tidur hidungnya sering berdarah karena kecapaian waktu sekolah. Dan yang sulung adalah mahasiswa jurusan hukum dengan banyak koleksi lagu-lagu rock.

Setelah tumbuh besar, lagu ini sering saya temui ketika makan nasi di piring kaca dibawah tenda tinggi, dengan lalu-lalang orang-orang bergaun pesta. Semuanya ikut merayakan hari paling indah yang sedang dijalani oleh kedua orang yang baru mengikat janji untuk menjadi sepasang kekasih hidup sampai mati.

Apakah cinta adalah membebani dua orang kekasih, seharusnya cinta itu bahagia. Karena jika tidak dapat bertemu, tuhan akan mempertemukan setelah tiba saatnya untuk dipertemukan. Karena milikmu akan kembali menjadi milikmu. Meskipun kau berusaha sedemikian keras, nanti ia akan kembali padamu. Percayalah!

Manufaktur 11: Sebelum Bangun


Sebelum Upik Abu ditemukan setelah kabur dari pesta tengah malam, sebelum Talia dibangunkan oleh ciuman manis dan sebelum Matoaka dibawa keluar dari hutan hujan Virginia.

Mari mencari jejak-jejak pendakian yang telah kita ciptakan di Wetas, lalu berpindah ke Sembalun
Dan biarkan gerhana bulan melewati perempatan tahun
Tapi kita mungkin takkan pernah peduli dan membiarkannya acuh tak acuh

Karena aku sangat rindu sekali pada senja di Marine Museum Ocean Corner
Jadi biarkan sebentar kugantung sepatu dan duduk manis bicara serius tentang sosial politik
Sebentar saja sayang, jika kau mulai tahu bagaimana rasanya kehilangan
Tulislah sebuah surat untukku, mungkin sepertinya kau terlalu malas dengan hal remeh temeh tentang pulpen dan kertas
Jadi jemput sajalah aku

Agar aku bisa pulang kerumah, dengan kamu.

Manufaktur 10: Ha'il

Laki-laki adalah aktor dalam opera sabun
Kau takkan pernah tahu kapan mereka sedang tak berakting
Berbicara tentang kemanusiaan, seperti yang selalu mengalahkanku
Dan perempuan seperti setumpuk nasi basi yang dikelilingi lalat
Lalu ia datang dan memberikan ide bahwa nasi basi pun masih bisa jadi rengginang gurih
Sama bodohnya seperti puisi ini

Tidak ini bukan puisi, demi nama Tuhan aku takkan memasukkannya kedalam puisi manapun yang kubuat
Dan kalaupun yang kubuat adalah puisi, yang selalu membuatnya kagum
Atau membuatnya lebih mudah membaca kekurangan
Atau aku saja didalam delusi lagi seperti dulu-dulu
Aku takkan marah karena tak mahir
Lebih baik menuruni Segara Anak atau Ranu Pane, atau Senggigi sudah meredakan amarahku

Lukisan adalah perspektif, sama seperti langit dan fotografi
Maka karena mataku tajam dan hatiku tak ingin kotor karena abu rokokmu
Kau adalah gambaran laki-laki baik yang tersesat
Setidaknya aku berhasil membaca satu bab lebih jauh daripada Ayah, Papa dan dia
Dan kau takkan tergoda oleh perempuan cantik manapun, sama seperti Bapakku
Dan semua tetap salahku, bahkan sejak aku lahir semua hal buruk terjadi didunia atas namaku
Jadi kau bisa meninggalkanku seperti yang lainnya, tanpa merasa bersalah

Aku tak yakin bagaimana cara Ibu membuat Bapakku mencintainya lalu dua orang aneh ini menikah
Karena anaknya terkutuk untuk dicintai pria manapun
Ya setidaknya mereka berhasil kagum, dan mundur dengan bahu yang dingin
Menatap jauh membelakangi senja
Lalu rasanya aku ingin mati saja waktu itu, tapi kasihan sekali jodohku
Nanti kalau aku mati muda, dia akan berakhir seperti kekasih Chairil Anwar
Mati iseng sendiri


Jadi, aku takkan menanyakan apa kau mau jadi sahabat seumur hidupku
Karena semenjak sudah sering memberikan hatiku untuk orang lain, sebagai barternya otak mereka kuminta semua
Itulah sebabnya kenapa mereka bodoh dan aku tak punya hati
Apa kau mau memberikanku otakmu? Nanti kuberikan hatiku yang baru.


Seharusnya kau membangunkanku malam ini untuk bersujud padaNya dan melebur
Karena setiap ha'il terlepas satu persatuDan setiap butir kesedihan dapat luruh jatuh kelantai seperti butir-butir tasbihAgar kita dapat meninggalkan kesalahan arah yang terlalu jauh                                     !رحمة الله لي

Manufaktur: Dia

Pada suatu subuh yang dingin di terminal Mendolo
Aku menantikan sesuatu yang belum kuduga-duga
Bagian dari saripati hidup di sebuah tempat terasing tersembunyi dan tenang temaram
Dia bilang hidup penuh kejutan
Tapi ia enggan memberikanku satu
Tapi aku benci menunggu, karena sudah 24 tahun rutin kulakukan dengan sabar

Ada lagu sedih dari soundtrack sebuah film layar lebar
Yang tak dapat kuterjemahkan seluruhnya, hanyalah bagian seekor anak sapi
Film ini tentang laki-laki pintar yang rumit, dia mengarahkanku untuk tahu hal baru yang sebelumnya tak pernah mau kusentuh
Kuharap ia tak bohong seperti yang sebelumnya
Tapi aku lebih sedih lagi karena menunggu
Akan sebuah pertanyaan yang kuinginkan

Nanti aku akan berkemah di Menjer, dan aku tak peduli karena aku sangat ingin!
Tuhan, tolong sekali ini ijinkan aku dapat apa yang aku ingin
Karena biasanya Bapak dan Ibu selalu menanyakan berkali-kali apa aku benar-benar ingin atau hanya penasaran
Meski pada akhirnya akupun yang mengusahakan sendiri

Lalu aku membuka sebelah kiri penutup telingaku dengan sebelahnya mendengarkan sayup adzan subuh dari arah belakang kuduk
Sudah lama ya
Aku jadi agnostik
Karena aku sedang protes dengan Tuhan
Bagaimana bisa aku dikhianati
Padahal aku sangat mencintainya sampai detik terakhir ia pergi tanpa sepatah katapun
Di bangsal lantai 4 rumah sakit umum propinsi kepulauan riau tanggal 4 april tahun lalu

Manufaktur 7 ( Unfelt )

Seriously,
The fullmoon above tonight sky is unfelt just not similiar to the last nightlight
Why am I sitting in here and doing nothing, while I can do sleep well
At least not write about you, about him or about them
My mighty fallen.

Don't you love it when they come and go?
The fase that you'd love being so cold than serve their desires
Why don't you tell them that you're generating all things
Whether you ain't have any feeling, you can't feel anything

Why'd you love to keep it inside and being so introvert
In the other room another man being schizophrenia
And you're frozen inside your self
Can't forgive anything, can't forget anything
From the past and another past misplaced mistaken

There's a killer inside your soul
When nobody knows except you and God
Soul that you sold to human being sake is now sinking deep into the darken ocean cave
Only you and your God know where it burried and how to find it
Or a lucky treasure hunter
That loves experience darkness bottom of water

Manufaktur 2

Kita sudah lama tidak menulis kata-kata indah
Karena tinggal didekat manusia membuat kita kehilangan kemanusiaan
Kita ingin merasakan
Yang hening dalam senyuman, indah dalam rangkaian kata di sebuah surat elektro
Kita sudah lama tidak menyebut kata cinta
Karena berulang-ulang menyebut uang dan hal kebendaan lainnya
Kita ingin menyuarakan
Yang sudah mulai kaku dilafalkan, seperti bacaan Poneglyph pada alas lonceng di kota emas
Kita sudah lama tidak membaca puisi dan sajak
Karena tinggal dengan manusia semua bacaan tentang ramalan cuaca dan ramalan jodoh
Kita ingin memahami
Yang dipersulit dengan ramalan pertukaran uang
Kenapa kita mematikan jiwa dengan menyuapi jiwa kita kekosongan yang diisi-isi
Jika kita bisa mengisi dari kekosongan yang berjiwa



Manufacture 1

waktu-waktu terkurung didalam ruang pengap alfa cahaya matahari
terperangkap panggilan kerja dan masa lalu yang mati-matian dihapus random
memburu segar angin berhembus di tepi laut seperti mencari cinta abadi di masa depan
memekarkan lagi edelweis yang sudah dipetik kedalam freezer sama mustahil seperti berusaha menebus dosa tapi mengucapkan kata-kata menyakiti, lebih baik kau diam saja
terbang ribuan kilometer ini membekali banyak jawaban dari tidak adanya pertanyaan, dalam diam yang diambil hikmahnya
dari panas dingin badan dan memuntahkan semua makanan 3/4 malam
tak pernah ada airmata menetes sejak pendaratan padahal hujan sering turun diam-diam
di kamar mandi, di pertengahan malam, di tawa yang rindu
tak pernah ada penyesalan sebaik mencintai tidak menyakitkan jika tidak salah memilih cinta
waktu-waktu terkurung di ruang pengap alfa cahaya matahari
mana halaman-halaman novelet tentang pelaut yang tertinggal
mana hari matahari yang indah seperti hari pantai
mana kesunyian tengah malam yang larut dalam puisi-puisi kerinduan
dimana aku, dimana?
aku afasia.