Showing posts with label MPH Escape Project. Show all posts

MPH Escape Projects: Bandung Walking Days

Halo traveller amatir!


Fresh from the oven. Saya baru pulang dari perjalanan Bandung ke tempat tidur. Meskipun diperjalanan pulang saya sudah tidur. Oke, ada sedikit masalah disini. Bukan hanya saya bingung kali ini mau nulis pake bahasa formal atau informal (semenjak ada fitur Google Translate, saya bingung setiap mau posting sesuatu enaknya pake bahasa apa), tapi juga karena sebenernya nggak ada yang terlalu peduli amat apa yang saya update disini. Secara, dari ratusan post yang saya update. Kalau jumlah pengunjungnya dikumpulkan didalam ruang kelas dengan kapasitas 40 orang, dan setiap meja diisi dua orang. Maka jumlah pengunjung blog saya pastinya akan duduk sendiri-sendiri. Ya, lebih sedikit daripada jumlah rambut alis saya!

But who care anyway. Saya akan tetap menulis seperti seharusnya saya menulis karena saya menyukainya. Inilah sisi keegoisan didalam diri saya yang tak bisa ditolerir.


Review saya tentang perjalanan kaki di Bandung ini akan saya tulis dengan sejujurnya seperti review saya tentang banyak perjalanan sebelumnya. Warga sosial media harus tau apa yang terjadi dibalik seorang traveller yang katanya masih tetap bisa punya banyak uang meskipun sering jalan-jalan. Dan kenapa sebagian orang tetap bersedih meski pulang liburan. Silahkan memaknai tentang Traveller Undercover ini!

Kali ini saya ingin sedikit berterima kasih kepada Google yang telah bersedia saya endorse di postingan ini dengan segala kesampahannya. Sekaligus saya ingin memberikan pandangan terhadap apa yang saya pikirkan menenai iklan Google akhir-akhir ini yang mengganggu pikiran.

Jum'at kemarin kebetulan sedang ada kerjaan di Bandung. Tadinya tidak kepikiran karena itu hari jum'at mungkin ada bagusnya jika sekalian menghabiskan waktu akhir pekan mengelilingi Bandung. Sempat ragu, dan setelah pekerjaan selesai. Saya sudah di Takuban Parahu menyiumi sengatan aroma belerang dan kenalan dengan beberapa kawanan dedek-dedek gemes yang lagi study tour. Dari Padang.




Aroma belerang disini tidak terlalu semenyengat di Kawah Singkidan. Mungkin karena jarak kawah dan tempat pengunjung sangat jauh. Mungkin juga karena kali ini saya tidak sendirian. Melarung kekosongan jiwa didalam perasaan tidak bersyukur atas kebahagiaan disekililing. November tahun lalu adalah banyak janji yang tidak ditunaikan. November tahun lalu ketika di kawah Singkidan, cinta nampak didepan mata. Tetapi ia jauh dari cahaya. Redup dan tak berbentuk hati.



Aduh, ngedumelin apasih diatas itu? Bukannya ini postingan tentang cerita jalan kaki?!

Abaikan kelabilan emosi saya dalam menulis, maaf.

Oke begini, saya diturunin temen di bawah jalan layang Pasupati. Disitu ada perempatan dan saya mengarah ke barat sesuai peta. Kalau pakai arah kanan-kiri, saya jalan kaki belok ke sebelah kiri menuju arah lembang. Kemudian naik angkot warna krem jurusan ... ya jurusan lembang! Hmmh, mencoba ramah dengan penduduk sekitar setiap dijalan bertemu dengan orang lokal saya akan berkata, abah, aa', teteuh. Ini namanya kearifan lokal kalau temen saya bilang. Supir angkot ini mungkin tau saya memang masih asing tentang Bandung dan bertanya saya akan kemana. Ya jelas, siapa orang lokal yang mau pergi ke tempat wisata masih pake baju kantor (dress tepatnya) plus bawa backpack yang udah kaya cangkang kura-kura. Sudah jelas saya ini turis domestik amatir yang gandrung ngeluyur ngabisin uang. Si abah sangat ngeyel sekali menawarkan carteran angkotnya untuk membawa saya naik ke Takuban Parahu. Saya nggak tanya berapa tarifnya, tapi si abah langsung bilang. Kira-kira 300 ribuan neng. Itu kira-kira lho. Berarti kan ada Pph-nya. Tidak terkecoh dengan abah ini, saya terkecoh dengan abah supir elf di perempatan Lembang. Saya naik elf ini dengan hitungan tarif carter mobil perhari. Dua ratus lima puluh ribu rupiah dikeluarkan dari dompet secara terpaksa dalam kurang dari tiga jam. Hanya untuk ke Takuban Parahu. Satu diantara tiga objek yang seharusnya dapat saya kunjungi dalam satu kawasan wisata yang sama. Karena di tiket masuk tertulis jelas objek apa saja yang dapat saya kunjungi.

Perlu diingat dalam seumur hidup. Jangan pernah terkecoh dengan tawaran carter pribadi untuk kendaraan umum. Karena banyak alasan untuk menolak. Pertama, jika anda sendirian maka biaya yang dikeluarkan tidak akan rasional atau over budget. Kedua, anda punya smartphone canggih yang akan memberikan arah kemana tempat tujuan yang akan dituju. Kemudian, anda punya mulut untuk bertanya kepada warga sekitar tentang apa yang seharusnya anda lakukan jika akan pergi ke suatu tempat. Dan yang terakhir, berjalan kakilah jika tidak terlalu jauh. Nikmati suasana asing dan udara yang berbeda dari kota pengap tempat anda biasanya tinggal. Kembali ke case elf tadi, tertinggal sedikit perasaan menyesal menghabiskan seperempat juta dalam waktu kurang dari tiga jam. Saya sampai berniat untuk ingin tidur di mesjid saja seperti jaman penjajahan dulu. Tapi karena mengingat saya adalah investasi berharga untuk orang tua di kampung, jadi menjaga keselamatan diri sampai pada waktu yang ditentukan tidak ada salahnya. Jadi, kali ini terpaksa menginap di hotel kelas melati yang lebih jelek dari kelas melati tapi tarifnya agak bikin seneb.

Kenapa dari tadi saya menggunakan kata-kata jalan kaki? Karena memang saya jalan kaki untuk pergi ke semua tempat wisata yang saya datangi ketika di Lembang dan Bandung. Google Map memang benar-benar membantu dalam menyesatkan saya yang sudah jelas bermasalah dengan peta. Tidak seperti di iklannya yang ada adegan tiga orang anak muda gaul dari kota para maniak smartphone dengan mudahnya berkata: 'Oke Google, angkot ke Ancol ...'; 'Oke Google, berapa celsius suhu sekarang?' -Ini adegan naik Papandayan- dan 'Oke Google, cara mendirikan tenda!'. Google yang saya gunakan tidak presisi sampai membuat saya beberapa kali pulang balik untuk menentukan arah. Selain itu saya jadi apatis sama warga sekitar. Padahal seharusnya saya bisa bertanya kendaraan apa yang bisa dinaiki untuk pergi ke objek-objek wisata. Oke, tidak selalu buruk. Google juga membantu saya memprediksi jarak dari lokasi terakhir dengan tempat yang akan saya tuju. Percaya atau tidak, saya jalan kaki dari perempatan lembang ke lokasi wisata Float Market dan Observatorium Boscha. Kemudian lanjut ke Farm House. Ya, kalau yang sudah pernah kesana pasti tau kisaran jauhnya. Untuk yang amatiran dan akan kesana mencoba jalan kaki seperti saya. Kira-kira dari perempatan lembang ke De' Ranch sekitar 600 meter, kemudian kalau dari perempatan dihitung ulang kearah Observatorium Boscha itu jaraknya 2310 meter atau kira-kira 2,3 kilometer. Kemudian jarak dari Boscha ke Floating market yang masih satu jalan tapi beda gang kisaran 1,5 kilometer masuk kedalam. Dan dari Floating Market ke Farmhouse sekitar 3,2 kilometer. Karena matahari sudah mulai terik dan sudah waktunya makan siang akhirnya saya yang kelaparan ini sudah males jalan kaki. Jadi untuk ke lokasi Curug Cimahi saya memilih untuk naik angkot saja supaya bisa cepat sampai. Tapi tetap jalan kaki sampai di persimpangan arah mau ke Cikole. Jarak dari Farmhouse ke pertigaan arah Cikole kira-kira 1,2 kilometer.

Sebenarnya niat saya di pagi hari hanya akan ke floating market. Lalu setelah itu pergi ke curug cimahi. Nah, tibanya didepan jalan menuju ke area wisata Floating Market saya melihat dari kejauhan ada kubah berwarna putih besar diatas bukit. Didalam pikiran yang terlintas ketika pertama kali mengunjungi Lembang adalah Sherina dan Saddam dalam film anak-anak jaman saya dulu, Petualangan Sherina. Lalu iseng saya berjalan terus kedepan menuju arah bukit tersebut. Berpapasan dengan ibu-ibu yang baru pulang menjemput anaknya sekolah di TK saya tanya dengan awalan sapa, Nuhun. Iya nuhun ... dalam bahasa Sunda artinya terima kasih. Dimana seharusnya saya berkata, Punten ... Tapi untungnya si ibu nggak terlalu denger awal kalimat saya. Katanya yang didepan itu Observatorium Boscha. Yak! Sesuai prediksi sedari tadi, ternyata memang itu Observatorium Boscha. Satu-satunya tempat melihat bintang dan benda-benda langit yang cuma ada satu di Pulau Jawa dan Indonesia.


Perjalanan naik keatas itu sangat menyenangkan. Penuh keringat, teduh dan backsound eratan Cicada serta kicauan burung-burung di sebalik hutan-hutan pohon heterogen di sekitar Boscha membuat saya benar-benar tidak ingin naik angkot dan memasang headset untuk mendengarkan musik Indie. Ditambah dengan gema suara berisik berasal dari anak-anak di sekolah yang tepat berada dibawah Boscha. Naik keatas dari gerbang nggak jauh-jauh amat kok. Kira-kira kamu harus jalan naik bukit sekitar 500 meter. Tapi diperjalanan dan setelahnya hijau alam akan membuat lupa seberapa capek yang harus dibayar. Apalagi pas ketemu kubah yang tadi dilihat waktu dibawah. Untuk cerita selanjutnya sudah saya rekam dan ada fotonya. Penjelasan didalam tempat meneropong bintang dan kuliah umum tentang pengenalan Astronomi sudah saya rekam. Jadi jika ingin menambah pengetahuan saya sarankan untuk mendengarkan sendiri rekaman yang sudah saya upload.









Untuk datang ke suatu tempat yang asik tapi sendirian pasti sangat menyedihkan. Maka yang harus anda lakukan adalah berkenalan dengan setiap orang yang ditemui sebanyak mungkin. Pertama, sebelum masuk ke ruang pengamat bintang saya berkenalan dengan Bapak penjaga area observatorium, beliau bekerja disana sudah dua tahun dan asli Lembang. Kemudian selesai solo selfie saya duduk dibawah pohon. Ada laki-laki yang sepertinya sedang bingung membidik kamera smartphone nya. Kemudian saya yang cuek ini tanpa tau malu nyeletuk, 'Mas, mau saya potoin?' dan dia tersenyum. Setelah itu ngobrol singkat. Mas nya -yang sengaja tidak saya tanya namanya karena beliau tidak tanya nama saya-, dari Purwodadi, kerjanya di Bandung. Di perusahaan produsen cuka, cairan pembersih lantai dan garam.  Merknya Sidola.Datang ke Boscha setelah biking dari Bandung dengan teman-temannya. Tapi yang lainnya sudah capek dan ninggalin dia sendirian. Akhirnya beliau yang sama tertariknya dengan saya waktu ngelihat kubah Boscha dari jalan naik keatas sama sepedanya, sendirian. Kuliahnya ... belum kuliah. Lulusan IPS. Dan matanya mengikuti saya setiap saya bercerita. Mengingatkan kepada seseorang yang selalu melakukan itu ketika saya bicara. Seseorang -yang katanya- adalah seorang Badboy. Oke, saya pikir beliau juga akan mengikuti sesi kuliah umum tentang astronomi tapi ternyata cuma ingin berkunjung. Sayang sekali! Mas seharusnya tau, cuma dengan bayar RP. 15.000,- mas sudah bisa kuliah astronomi dalam waktu satu jam tanpa harus daftar di ITB. Karena kemungkinan untuk mas bisa diterima jadi mahasiswa jurusan astronomi lebih tidak mungkin dibanding datang ke Observatorim Boscha untuk belajar dan bertanya senyeleneh mungkin disini. Kemudian setelahnya saya berkenalan dengan tiga mahasiswa ITB yang kebetulan jadi pemateri disana. Pertama, Mas Aji yang juga ternyata adalah salah satu peneliti disana. Beliau dan timnya pernah menerbitkan jurnal tentang penemuan bintang di langit Lembang. Meskipun tingginya sama dengan saya yang tingginya dibawah 160 meter ini, tapi ilmu Mas Aji sudah melebihi tinggi adik laki-laki saya. Beliau sudah Pasca-sarjana rupanya. Kemudian dua orang mahasiswa lainnya adalah perempuan. Yang satunya saya lupa, tapi beliau mengikuti setiap peserta kuliah saat di Observatorium dan kuliah di ruang multimedia. Yang kedua ini namanya kalau tidak salah Yanny. Beliau mahasiswa fakultas FMIPA ITB yang menjadi pemateri untuk menjelaskan tentang pengetahuan tata surya.


Angkot yang ada di pertigaan arah ke Cimahi, warnanya kuning. Angkot ini kalau sudah berhenti disini pasti ngetem. Begitu kata ibu-ibu yang jualan air minum di pinggir jalan sekitar situ. Jadi, kalau anda jalan kaki. Jangan naik dari setelah belokan. Tapi naik dari sebelum pos polisi yang ada di sebelah kiri, supaya angkotnya langsung jalan. Kalau tidak, ya anda harus nunggu sampai ada penumpang atau kang sopirnya mau nyalain mesin angkot untuk lanjut narik. Dan jika sedang panas, rasanya seperti masuk kedalam ruang sauna.

Jalanan ke arah Curug Cimahi berkelok-kelok menanjak. Jalanan khas daerah desa di pegunungan. Dan saya pun tidak menyangka, disebalik jurang curam yang angkot ini lewati adalah Curug Cimahi yang saya cari-cari. Yap, lokasi wisatanya tepat di tepi jalan. Tempat dimana banyak angkot warna kuning seperti yang saya naiki sedang parkir. Kemudian turun dan membeli karcis tiket masuk. Turun ke bawah menuju curug. Berkenalan dengan dua orang teteuh-teteuh hijaber, dari mereka saya semakin bersemangat buat turun kebawah. Perlu diketahui, jika saya tidak tahu tangganya benar-benar bisa sampai kebawah dan mencicipi shower gratis dari air terjun. Saya tidak akan bersusah payah menuruni 587 anak tangga. Karena anak tangga tersebut hanya terlihat sampai di panggung besi yang sedang hits dipakai buat foto-foto sama instagrammer. Oh ya maaf, Saya nggak punya versi foto sepeti itu. Sudah mainstream!



Wah gila, seru luar biasa! Semburan air dari jatuhnya aliran sungai diatas setinggi kurang lebih 74 meter benar-benar menyegarkan. Untungnya saya datang tidak terlalu sore, jadi masih sedikit sepi. Karena semakin sore semakin banyak yang datang. Jika ingin dapat foto yang lebih bagus, tips untuk para instagrammer lebih baik datang pagi hari supaya dapat best photo yang bisa di share dan dapet banyak like dari follower anda. Sampah! Hanya mengambil foto, tapi terbaik. Selebihnya duduk dibangku kayu dan melihat orang-orang lalu lalang. Kemudian pasang headset dan memutar album grup Indie kesukaan. Meskipun duduk jauh dari lokasi air terjun, tapi cipratan dan semburan dari jatuhnya air terjun yang memercik batu dan pepohonan di sekitar lokasi masih mengenai saya. Rasanya seperti sedang mandi. Tapi gratis dan ditempat umum, tanpa sabun dan tanpa buka baju. Menikmati suasana, tapi semakin lama semakin berisik. Ah, indahnya menikmati kombinasi dari manusia yang menginginkan alam dan menikmati eksploitasi keindahannya dan alam yang diam ditempat membangun pertahanan diri dari semakin terkikisnya oleh pertumbuhan kelahiran dan kemajuan daerah.

Air nya tidak terlalu jernih, tapi semburat pelangi yang muncul dari spektrum cahaya yang terbias dari percikan air disekitar tempat jatuhnya air sungai diatas. Sangat indah! Maka sejak tahun 2014, nama Curug Cimahi pun dirubah dan hasil alam ini diresmikan namanya menjadi Curug Pelangi. Oke, kawasan wisata ini bisa tergolong kawasan wisata yang sudah mainstream dan cocok untuk wisata keluarga. Karena kebanyakan memang yang datang membawa anak dan istri serta orang tuanya. Juga ada beberapa wisatawan manca negara. Nah, ngomong-ngomong soal wisatawan manca negara. Disini saya sempat skeptic. Waktu mau masuk ke lokasi wisata Takuban Parahu, penjaga tiketnya sampai bertanya dua kali apakah saya ini turis lokal atau manca negara. Kemudian disini juga, saya ditanya dari negara mana. Lho, memangnya saya keliatan berhidung mancung atau berambut blonde? Tidak, saya juga bukan orang dari negara Asia Tenggara lainnya. Saya asli Indonesia, kelahiran Lumajang dan besar di tanah melayu. Tumbuh dengan dua bahasa daerah secara beriringan dan mempelajari banyak bahasa daerah lainnya serta beberapa bahasa asing. Menguasai bilingual. Oke, sedikit intermezo tentang turis. Yang jelas tarif wisatawan lokal dan mancanegara di patok berbeda jauh, apalagi jika akhir pekan. Percayalah, ini memang sungguh-sungguh terjadi di semua lokasi wisata di Bandung. Dan bukan hanya di Bandung saja tapi juga di hampir keseluruhan lokasi wisata di Indonesia. Sepertinya sebuah harapan saya tentang wisata terjangkau untuk rakyat Indonesia yang sangat perlu hiburan ini sudah terkabul.

Lalu bagaimana cerita tentang De' Ranch, Floating Market dan Farm House? Tak ada yang menarik perhatian. Saya lebih menikmati masa berjalan kaki dibanding datang ke lokasi tersebut. Hanya tempat rekreasi keluarga biasa dengan beberapa wahana petualangan. Jadi saya tidak masuk kedalam meskipun sudah jalan jauh-jauh.

Anyway, terima kasih Bandung. Saya senang jalan kaki disini. Udara nya sangat mengisi ruang paru-paru saya yang butuh udara bersih. Karena tinggal di kota industri membuat paru-paru menghirup banyak nitrogen oksida dan sulfur trioksida membuat saya susah bernafas lega juga menghambat otak untuk berfikir rasional sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mas Aji bilang, lapisan ozon mempengaruhi pembakaran meteor yang lewat di sekitar orbit bumi. Jika gaya gravitasi bumi yang kuat bisa menarik meteor tersebut, maka meteoroit akan menembus lapisan ozon. Dan seberapa tebal lapisan ozon mempengaruhi proses pembakaran meteoroit sebelum sampai ke permukaan bumi ketika melalui proses pengikisan di daerah lapisan ozon dilangit bumi. Jika lapisan ozonnya tebal maka meteoroit dapat terbakar habis sebelum sampai ke bumi. Jika meteoroit nya kecil maka akan semakin cepat terbakar sebelum sampai ke permukaan bumi. Bagaimana jika meteoroit yang besar melewati orbit bumi dan tertarik gravitasi disekitar daerah dengan lapisan ozon yang tipis? Anda tahu menjawabnya.

MPH Escape Projects: Parang Rock Mountain Short Cliff Climbing

Pack your bag and step out of home, that's the easiest trip plan to do!



I told that I will not going out until April but seems like my feet can't following my mouth willing. So when just woke this late morning my friend call me out of bedroom to follow him climbing near my town. So there we are, a bluffy small rock mountain in Purwakarta, Parang.


Parang is about 963 mdpl with almost 90% point slope but for you the expert in this field I bet that it is not so extreme. Because I'm an amateur and thank god I finished it without break my leg like current climbing. There are also steel wire available at every anchor lines to the top. This rock mountain has been activated as a cliff climbing line since long time but lately become pop up as a new adventure leisure area. Not so well known as Lembu mountain that still at the same district as Parang because Lembu has regular route as another mountain in lower level of slope and height. So it's really recomended for climbing beginner to start climbing at Lembu. But should be known that Parang can't be strike a warm at you that easily. It's really need you to high focus since the route isn't an ordinary mountain and you fully climbing the unfinished top. Besides, the management and preparation of the mountain isn't well managed. Since it's only two locals as guide and they are kind-hearted but it's not enough of feeling safe. You should hang on your self beside hang on the steel wire along the route. Be focus is the only thing to do when scare to look at the bottom. I am one of height fear.



Well, that's all my review about Parang. But all you should know is my beginning cliff climbing was open with vines alergic of Laportea stimulans effect. I feel so curious to capture wild sunflower and didn't notice there was some stinging nettle under the sunflowers trunks. So when I pass by some of vines and shoot pictures of my objects I notice to start feeling an incredible itchy sense on my legs. So I ran out of that wild grass troop and rushing to wash my self. But it feels like more itchy than before so I start to scratching my legs until the owner of dining hut where I rest notice that. When I told him what I did he told me he forgot to warn there was Stinging Nettle at that area so then he washed me with wet brown clay. So I ask him that it's really need to do. He said it's good as itch-killer than wash it with water. And I got dirt even before start my climbing. Well I learn, that's the worst curiosity I've ever done.


MPH Escape Projects 2016 was opened of Jogjakarta second trip with my (also) colleagues friend. This year beginning seems bitter for me because it doesn't run so well at first two months, so then in this March I try my best to let it go (as usual) everything that I was trying hard to hold, but it seems like doesn't belong to me anyway. So I let it go. And build up my self.



My first rock climbing is impressively leave some feeling inside my mind, not only because it's so exciting to do but also regain back some memories about family. Especially about Mom and Dad. I don't know why but this is the closest feeling that been touched me on way to the top. Let's go back to the trip review a moment. Parang has same name as one of Kinabalu hiking trail's name, Ferrata. But it uses V letter, so called Verrata. We go by Verrata line. Nah, I revised this writing, since I went there again yesterday (14 March 2016) to accompany my other colleagues partners. I search for what Ferrata meant to be. So Ferrata in Parang rock mountain is the second one after Ferrata at Kinabalu rock mountain in Malaysia, it refers to a definition of rock climbing methods of using steel harness and iron steps on the climbing line. Parang rock mountain has one single route, climb up and down at the same line and because the access is limited so me and my friend should wait on the line for our turn. There are five members at my turn where my friend is the only male in there. Three strangers beside me and him are colleges girl near my town. They are cute girls, it reminds me of friendship and family from their story. So because we can only hooking the rope only in one single line, and I was on uppermost place and my friend on the lowest queue. Since those three are beginner and they go slow, my friend can't chase me up. So there I am. Leaving them too far onto the line. I was too high to go back down and waiting at upmost iron footing and have a seat for a while.


Viewing around the scenery from above is the best feeling every climber does. But for me, rewind some memories of the past and taking lesson is the best moment to do. Suddenly I remember a children song that my mom and dad always sing for me while they carry me at their back before sleep. While staring up to the stars, maybe some of you know the song especially when you're javanese. This is the lyric:

Dondong opo salak, duku cilik-cilik
Gendhong opo mundhak, ojo thithik-thithik Dondong opo salak, duku cilik-cilik 
Ngandhong opo mbecak, mlaku thimik-thimik

Adhi nderek ibu, tindhak menyang pasar 
Ora pareng rewel, ora pareng nakal
Mengko ibu mesti, mundhut oleh-oleh 
Gedhang karo roti, adhi diparingi
Dondong opo salak, duku cilik-cilik

Gendhong opo mundhak, ojo thithik-thithik 
Dondong opo salak, duku cilik-cilik
Ngandhong opo mbecak, mlaku thimik-thimik


If I have time I will update this post with my voice record while singing the song, but for temporary while waiting for me you can listen to the song below:








The song sang in High Krama Javanese language about a mother that will go the traditional market and advice her children to stay calm while they went. It's been told that mom asked her children whether prefer to get a pickback or frontpick. She said that she will buy some loaves and banana as long as the child followed what her mom said.


I suddenly remind when it was a very long time when me and my brother are a couple of little scamp that love to mess around with our mom. That's the most cruelsome days she must been ever through. We'd love to fight every single days and hitting each other. But my dad was just laughing at us, and sometime give his best eye contact that more scareful than Amaterasu. But now, we separate each other, which is made me so much missing them especially Dad. I wish I can enter a time machine where there were only we four keep the company and cheering every adventure of a lifetime together. I miss my family!

Suatu Pagi Yang Damai dan Senja Hangat Di Masa Depan: Futuristik Imaji Dari Gadis Petualang Tukang Kabur




Pagi yang damai ditemani suara ombak laut, air yang mengalir melewati celah batu sungai dan suara kicauan burung-burung cockatoo, manakin, toraco dan tanager. Suara daun-daun ditepi sungai yang terseret arus dan suara nyiur yang tersibak angin pantai. Lalu suara piano dan flute bercampur dengan riuh jalanan di hari libur adalah kombinasi unik dan aneh seperti yang saya lakukan setiap hari, menjadi orang aneh! Dan jangan tanyakan saya sedang dimana ...

Apakah pagi ini kau sudah tersenyum? Tersenyumlah, karena aku sangat suka kau tersenyum. Laki-laki yang ntah dimanapun engkau berada, aku tak pernah tahu mana diantara mimpi-mimpiku pada malam sebelumnya adalah isyarat dari Tuhan bahwa kau masuk kedalamnya. Tapi tersenyumlah, meskipun aku tak tau mana diantara senyuman itu yang akan menjadi penenang sepanjang sisa hidupku. Tersenyumlah, karena dengan tersenyum berarti kau baik-baik saja disana. Nanti Tuhan akan mempertemukan kita. Untuk bisa menikmati 1 hari yang cerah bersama-sama.

Saya sedang menikmati akhir tahun yang banyak de javu, kejadian yang terulang seperti sebelumnya dan saya tahu akan kemana arahnya. Atmosfer, cuaca dan pertemuan dan pembicaraan dengan orang-orang yang sama hampir pada masa yang sama di hari yang berbeda di masa lalu. Tahun ini terasa cepat sekali, mungkin karena saya tidak merasa terlalu sedih seperti tahun kemarin atau mungkin juga karena tahun ini saya lebih berusaha untuk mengikhlaskan semua dan belajar bahwa cinta itu milik Tuhan. Tuhan lah yang akan mengambilnya juga.

Dalam nama Tuhan manapun yang saya percaya, percayalah bahwa saya memiliki Tuhan didalam jiwa saya.

Kemarin ketika membuka jejaring sosial paling lawas yang pernah saya punya, kebetulan seorang teman menulis wacana tentang pemikirannya mengenai jodoh. Dituliskannya bahwa orang yang menemukan jodohnya lebih dulu itu mendapatkan rejeki, rejeki untuk lebih dulu bahagia menikmati hidup bersama dengan kehalalan yang diridhoi Tuhan. Dan orang yang lambat menemukan jodohnya pun mendapatkan rejeki yang sama, membahagiakan kedua orang tuanya sambil menunggu jodohnya datang. Pertanyaan praktis dari saya, kedua orang tua saya sudah bahagia, tetapi mereka menginginkan agar saya melengkapi kebahagian mereka. Apakah makna bahagia benar-benar hanya diri kita sendiri yang dapat menciptakannya?

Saya sudah merasa setengah gila disini, dan secepatnya ingin pergi. Mencari ditempat lain, karena dengan kemungkinan semakin banyak bertemu orang asing dan membuka hidup untuk orang-orang baru memberikan posibilitas untuk menemukan dia lebih cepat. Mungkin menjadi teman berbagi di awal juga tidak masalah, lalu selanjutnya kami akan saling bertukar cerita dan semakin saling mengerti. Pergi ketempat asing dan menjadi asing dengan diri sendiri. Saya juga ingin mencoba banyak hal-hal baru dan belajar lebih baik lagi sebelum akhirnya saya menceritakan dan membagikan apa yang telah saya pelajari kepada yang lainnya di masa depan.

Lalu scene nya pun berubah ke suatu beranda teduh di teras rumah, dengan angin sore yang sejuk dan matahari hangat. Tempat dimana akhirnya saya tidak lagi menulis tetapi lebih kepada banyak mendengar dan memahami cerita. Dan menyaksikan seorang anak kecil yang masih tahu bermain sepeda daripada asik dengan alat komunikasi elektronik canggih. Hujan baru saja selesai turun, rumput-rumput yang menutupi sepanjang halaman depan agak basah sedikit licin. Baunya semakin segar ketika digerus roda-roda kecil sepeda yang berputar meliuk-liuk. Suara tawanya dan ibu bapaknya yang saling berkejaran mengawasi ia dengan lajunya mengayuh sepeda. Mereka semua tergelak tertawa, melambai kesini. Saya tersenyum simpul, dia duduk diseberang meja sambil menikmati kopi tawar dan senyumnya indah sekali sambil setengah berteriak kepada mereka untuk menghampiri. Wajahnya dan senyumnya seperti senja hangat di hari itu. Dunia kecil kami, akan jadi lebih baik dari dunia kecil yang Bapak pernah ajarkan dan contohkan kepada saya. 

Tolong Jangan Tanya Kapan Saya Menikah! (lagi dan lagi) TITIK

Sebelum baca postingan Chucky (yang bisa jadi menyeramkan ini), SILAHLKAN nonton pidio dibawah dulu :) (saya memaksa, serius.)


Sudah??

Oke, jangan baper dong. Saya yang lebih baper daripada anda T.T mupeng jugak iya ...

Jadi gini lho ceritanya pemirsah, terserah mau baca atau ndak yang penting saya tetep nulis dan situ tetep bukak postingan ini. So, silahkan lanjutkan aktifitas sia-sia anda membaca postingan yang ndak ada gunanya ini *plakk back to topic ...

Belakangan ini (setaun belakangan ini) saya merasa sangat ... sangat tertekan ... saya yang umurnya baru 24 tahun jalan 2 bulan ini terus-terusan di jejali dengan pertanyaan kapan menikah dan akan menikah dengan siapa, apakah sudah punya calonnya dan rencananya menikah akan seperti apa dan lain-lain sebagainya f***ing s**** pertanyaan yang sejenis (oops! maaf ...) Saya yang penuh kreatiftias dalam menjawab setiap pertanyaan ini (lebih tepatnya jago nge-les) sampe mentok ndak nemu jawaban lagi dan akhirnya cuma bisa nyengir dan ngelus dada. Sambil berdoa didalam hati, Tuhan luluskan saya dari cobaan yang tiada tara ini :'(

Lalu, darimana kah sumber pertanyaan itu berasal? Dari dasar samudera, dari puncak gunung lalu menelusuri hutan belantara dan mengikuti alur air dari hulu hingga ke hilir sungai dan finally tiba juga di delta dan melebur di pantai menyatu dengan luas samudera .... (Stress Has Been Detected: 100 Alerted!) Mulai dari undangan digital yang dikirimkan teman-teman saya, seperti nge-tag di facebook, twitter, instagram etc sampai sms, chat grup dan personal dan telepon yang niat awalnya pengen ngundang dan berakhir dengan bertanya kapan menyusul (yang saya yakin beberapa teman juga pasti mengalami hal yang serupa, yakan? yakan? ayo ngaku aja ndak usah ndak malu ... MALULAH!) Dan tadi pagi saya baru dapet undangan nikah lagi di grup chat Nagekeo Care Island karena salah satu founder kita ada yang ngirim shockingnews ternyata beliau mau nikah awal Desember tahun ini. Dan akhirnya berita bahagia itu berakhir di pertanyaan: Mbak Etna kapan nyusulnya. Itulah sebabnya sekarang saya males komen kalo di tag di undangan atau berita bahagia pernikahan teman-teman saya di medsos, bukannya sombong atau pura-pura ndak kenal, tapi saya merasa terkucilkan karena akhirnya saya yang di bully. Dan selanjutnya semua notifikasi tentang undangan pernikahan itu saya off kan, maaf ya teman-teman. Anyway jangan kapok ngundang saya, meskpun saya PASTI ndak bakal datang.

Bahkan sampai ibunda saya yang tadinya nelpon sekali sebulan doang cuma minta transfer sekarang pertanyaan dan permintaannya berubah menjadi begini: "Sari (nama panggilan saya kalo dirumah) ndak usah ngirimin ibuk uang bulanan lagi ya .... (YESSS! FINALLY MY MOM WOKE UP!!!) Mbok ya cepet nikah, udah punya pacar tha (semoga ibuk ndak tau kenyataan paitnya kalo ternyata belum ada yang mau jadi pacar anaknya yang aneh diluar batas toleransi ini), ibuk pengen nggendong cucu ...(((cucu ... cucu ... cucu)))" [seketika terduduk lemas, pandangan mata kosong, kejang-kejang dan mulut mengeluarkan busa] dan itulah yang jadi penyebab kenapa saya sekarang males njawab telpon dari ibunda. Sama hal nya setiap saya mengunjungi adik saya satu-satunya di Jogja yang tadinya berniat buat monitoring apa dia bener-bener kuliah atau ndak disana tapi setiap mau pulang atau setiap di chat yang ditanyain malah kapan mau nikah, bukannya dengan harapan supaya ada yang bisa menggantikan dia buat ngejagain saya disini tapi supaya dia bisa punya abang yang bisa dipalakin tiap bulan (Kinda Bloody Hell Brother) padahal kuliahnya jugak saya yang bayarin!

Lalu, beberapa media massa sekarang itu mulai memunculkan dan mempopulerkan tema-tema yang menurut orang-orang yang mengalami nasib sama seperti saya selalu merasa tema tersebut sangat sensitif dan menyinggung lubuk hati kami (saya ini maksudnya) yang paling dalam. Mulai dari meme yang nyinggung Jones, meme tentang nikah dan meme tentang kalah sama anak kecil yang masih KECIL udah pada lebih SENIOR pacarannya dibanding yang lebih TUA. Meskipun media sosial dan media informasi lainnya tersebut tidak berniat mengajukan pertanyaan kepada kita (saya atau siapapun yang merasa) tentang kapan menikah. Tapi kita (saya kali maksudnya T.T) terlalu sensitif hatinya, jadi baper kan ... jadi merenung sendiri ditengah kegelapan malam ditemani cahaya rembulan dan awan mendung lalu bertanya-tanya ... Tuhan, sebenernya jodoh saya kejebak macet dimana sih? Lama amat datengnya, keburu ubanan nunggu. Bisa ndak dia dijemput pake GoJek gitu biar cepetan kesini, trus tiba-tiba teriak dibawah jendela kamar saya buat ngasih suprise boneka teddy gede yang bawa cincin nikah (ngebayangin proposal scene ala-ala drama korea)

Nah, setelah sekian banyak pergulatan hati yang saya alami karena insiden berulang-ulang diatas akhirnya .... (jreng jreng jreng) saya mencetuskan sebuah IDE! Yang hanya bermanfaat buat saya sendiri tentunya, demi menjaga stabilitas dan keamanan sosial, politik, ekonomi, hukum dan agama maka saya menemukan jawaban setelah bertapa di pantai Gunung Kidul bulan Agustus kemarin. Bahwa saya tidak akan terpengaruh lagi untuk goyah mempertahankan ideologi saya mengenai makna pernikahan yang dulu sempat menjadi dasar-dasar negara. Nih, baca baik-baik filosofi Chucky tentang pernikahan:

I will be marrying my bestfriend, who I found coincidentally make me happier in every single days we've been thru. No matter if we spend our days in argue each other, no matter if I can't understand the whole of his odd world, no matter if he can't understand that he's insane and stupid and no matter if I found hardly and should be awaiting longer. But I will be more appreciate my bestfriend who find him self truely love and believing me for take care of his rest life and make me his wife, no matter how long I should awaiting until he got ready to marry me. I will not DATING ANYONE anymore, because I will only MARRY him. Because I know he's the best man that God sent to me and I also preparing my self to be his BEST lady EVER. Because I am his BESTFRIEND.

Dan, sembari menunggu sang calon suami saya tersebut datang. Sambil mengisi waktu kosong daripada duduk diem iseng menunggu dan akhirnya saya mati kesepian sendiri (seperti puisi nya Chairil Anwar *IYKWIM) maka terciptalah sebuah project "Menolak Patah Hati" atau yang biasa terkenal dengan hashtag #MPHEscapeProject di setiap postingan Instagram dan Blogger dan aneka postingan saya yang berkait dengan aktifitas ngabur kesana-kemari ndak jelas arah tujuannya asalkan uang tabungan sampe terkuras abis dan akhirnya bertahan hidup di akhir bulan dengan cuma makan nasi aking. Projek jalan-jalan ini tadinya ingin saya kerjakan untuk kesenangan pribadi sebagai visi saya untuk mengatakan kepada Michael Jackson, Kurt Cobain, Kahlil Gibran dan Khairul Ni'am bahwa saya tidak akan lagi menangis meraung-raung menyesali dan terpuruk tentang mantan pacar saya yang asshole itu karena sudah menikah dan punya anak dengan selingkuhannya ... (maaf.red) SERIUS SAYA NDAK EMOSI DAN DENDAM *keypad rusak* Dan saya akan terus pergi kesana kemari sampai ada satu orang baik hati yang bodoh yang meminta saya untuk tinggal, menjadi wanita terbahagia didunia dan menjadi istri nya. Maka projek kabur ini bukan sekedar acara jalan-jalan biasa yang menghabiskan uang gajian semata (faktanya memang menghabiskan uang gajian yang tidak seberapa itu T.T) tapi lebih kepada menemukan jati diri saya karena saya akan lebih menghargai hidup saya, mencintai apa yang ada disekitar saya yang telah Tuhan berikan dan melatih pribadi saya menjadi lebih baik, ber-attitude yang pantas karena akan mendatangkan jodoh yang baik pula.

Lalu apakah saya beralih ke GOODBOY lover sekarang? NAY, I am still a Badboy Hunter *main mata, gigit bibir*














Best Regards,



Chucky The Single Fighter. ( perdana ngasih nama alay ke diri sendiri :D )