Showing posts with label lingkungan. Show all posts

Nikmati Keindahannya, Lestarikan Keragaman Hayatinya

Instagram

oleh: Ettna S Khairullah
Siapa yang tak kenal keindahan alam Indonesia? Seluruh pulau besar ataupun kecil di Indonesia adalah surga destinasi bagi para pelancong yang ingin menikmati keindahan alam. Bali, pulau dewata yang paling tersohor hingga ke belahan dunia manapun. Tidak ada pantai yang tidak biru, tidak ada desa yang tidak menenangkan dan tidak ada danau yang tidak hijau di Bali. Dewasa ini, Papua Barat juga sudah mulai dilirik dengan pesona laut dan terumbu karang di Raja Ampat dan Pulau Bawah di Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Kemudian Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur dan Karimun Jawa di Provinsi Jawa Tengah yang juga tidak mau kalah keindahan biota lautnya yang dapat membuat hasrat para pecinta olahraga air seperti diving dan snorkeling ingin segera menyelami dan bersentuhan langsung dengan biota lautnya. Bagaimana dengan keindahan alam di daratan? Negeri yang dulunya disebut-sebut orang sebagai negeri agraris ini memiliki bentangan pegunungan dan penampakan gunung yang sangat indah disertai dengan luasnya hutan tropis yang terhampar dan beraneka satwa yang menghuni ekosistemnya. Bahkan tidak perlu menggunakan jasa perjalanan wisata, anda dapat berkumpul bersama teman-teman untuk melakukan touring dan hiking menikmati keindahan alam ini secara gratis.
Tetapi pernahkah anda berpikir ketika menikmati keindahan alam tersebut, ada sejumlah besar fauna yang sedang terancam keberlangsungan hidupnya akibat pengrusakan hutan dan perburuan satwa-satwa liar oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin mengambil keuntungan dari kekayaan alam di Indonesia ini? Perburuan fauna di habibat alam darat dan lautan secara langsung mengancam kelestarian aneka hayati yang menjadi penunjang utama keindahan alam daratan dan lautan di Indonesia. Data WWF Internasional menurut living planet Tahun 2003, Indonesia memiliki daftar jumlah spesies terbanyak yang akan mengalami kepunahan. Termasuk didalamnya spesies harimau jawa dan sumatera. Sementara dari keseluruhan luas lautan di Indonesia yang mencapai 7,9 juta km atau sekitar 81% dari luas keseluruhan wilauah Indonesia. Masalah pelestarian terumbu karang dan perburuan serta eksploitasi terhadap habitat hewan laut masih menjadi permasalahan.
Indonesia adalah negara yang dengan sangat tegas dalam menanggapi permasalahan yang berkaitan dengan perusakan lingkungan. Dalam UU tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem No 5 Tahun 1990 tertulis jelas hukuman pidana bagi pelaku perburuan satwa liar. Sementara kenyataannya masij banyak ditemukan kasus-kasus perburuan satwa di alam bebas tempat habitat aslinya berasal.
Belum lepas dari ingatan kita baru-baru di temukan sejumlah besar hewan kukang yang akan diselundupkan ke luar negeri di Kalimantan, begitu juga dengan penganiayaan yang dilakukan terhadap orang utan bahkan hingga di konsumsi dagingnya. Selain itu juga populasi Lutung Jawa, hewan sejenis kera berwarna hitam yang hanya terdapat di Pulau Jawa terancam kepunahan. Kemudian kasus perburuan spesies penyu hijau (Chleonia Mydas) di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Penggunaan jaring pukat oleh kapal-kapal besar san masyarakat sekitar Pulau Sangalaki dan Pulau Semama tidak hanya mengakibatkan penurunan drastis jumlah ikan yang ada di perairannya tetapi juga ikut merusak terumbu karang yang ada dibawah perairan laut tersebut. Sementara di Tosiaje plastron/bagian dada dari penyu hijau memiliki nilai jual per-ekor mencapai Rp 3-5 juta. Dan sekitar 25 kilogram/bulan yang berhasil di tangkap hanya dari Tosiaje. Di Provinsi Gorontalo, spesies kima diburu dengan harganya yang mencapai Rp 280ribu/kilogram. Perburuan kima mengakibatkan kerusakan terumbu karang karena ekosistem kima adalah batu-batu karang dimana merupakan tempat tinggalnya dan kima melekat erat di bebatuan karang agar mencegahnya dari terseret gelombang dan arus laut.
Kemudian perusakan laut dalam tujuan untuk penelitian, wisata dan penggunaan bahan baku farmasi dan kosmetik juga masih ternyata. Banyak dilakukan riset-riset terhadap kelautan Indonesia oleh peneliti-peneliti yang datang dari luar negeri tetapi ketika pulang ke negara asalnya mereka membawa beberapa spesies langka yang seharusnya tidak boleh dijauhkan dari habitatnya untuk tujuan kepentingan riset. Di Kepulauan Tomini dan Kabupaten Bone Sulawesi Tenggara yang merupakan salah satu wilayah perairan yang sering dijadikan tempat pengkajian ilmiah hewan dan biota lautnya. Perburuan terumbu karang sebagai bahan penunjang kimia farmasi dan kosmetik juga dialami oleh Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau. Nelayan Vietnam yang membawa kapal-kapal mereka melintasi laut Cina Selatan hingga ke perairan Kabupaten Natuna dan sampai ke Belitung.
Sangat ironi rasanya, menikmati keindahan alam Indonesia yang luar biasa ini tetapi terjadi perburuan terhadap hayatinya di belakang mata kita dan kita tidak mengetahui serta berbuat apa-apa karena semua itu telah terlanjur terjadi. Pentingnya pengawasan sejak dini dan penetapan sanksi terhadap pelaku perburuan satwa liar dan perusak ekosistem. Dengan mengadakan aksi-aksi sosial untuk menjaga kelestarian lingkungan juga perlu dilakukan. Aksi nyata ini penting dengan memulihkan kembali ekosistem yang telah terlanjur rusak. Seperti contoh, aksi penangkaran penyu dan konservasi terumbu karang oleh pihak pemerintah maupun lembaga peduli lingkungan seperti yayasan WWF Indonesia. Aksi-aksi sosial ini akan lebih berhasil pelaksanaannya juga apabila masyarakat sekitar dapat diikut sertakan dalam kegiatan peduli lingkungan tersebut. Oleh karena itu, marilah kita melakukan pengawasan dan penanganan serius terhadap aksi yang tidak bertanggung jawab ini. Akan sangat disayangkan apabila keseimbangan alam terganggu apabila habitat penghuni laut dan daratan Indonesia telah punah karena perburuan liar yang terus menerus terjadi. Bagaimana kita manusia, tidak dapat terlepas dari alam. Kita mengambil manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung. Keindahan hayati ini juga memiliki keseimbangan, yaitu kehidupan flora diimbangi dengan faunanya. Coba bayangkan! Bagaimana jika birunya pantai dan indahnya laut tanpa biota terumbu karang dan aneka jenis ikannya? Hutan tropis yang terhampar luas nan hijau tanpa mamalia, reptilia dan satwa burung-burung yang beraneka ragam dan endemik didalam hutannya? Sungguh menyedihkan bukan.

Selamatkan Laut! Berikan Sedikit Dari Anda (Save The Ocean, Blow Out A Bit From Your Wallet)

Save The Sea Turtles, Save The Ocean

We need your support to SAVE OUR OCEAN!

Teman-teman alumni Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari dalam rangka Sail Komodo, yaitu utusan dari Provinsi Yogyakarta mengembangkan ide kreatif berwirausaha sekaligus penyelamatan lingkungan. Dengan membeli kaos ini, berarti buddies uda berperan dalam menyelamatkan laut Indonesia. Kenapa???

1. Keuntungan dari penjualan merchandise, sebagian akan didonasikan langsung untuk Penangkaran Penyu di Pantai Samas, Bantul, Yogyakarta. Sedangkan sebagian keuntungan lainnya, akan digunakan untuk program edukasi Save The Ocean.

2. Dengan memakai kaos ini, artinya secara tidak langsung buddies uda berkampanye tentang Save The Ocean, Save The Sea Turtles, dan Save Sharks kepada siapapun yang mbaca pesan di kaos buddies ""

KAOS::

Harga: 100K
Bahan kaos: Cotton Combed 30's

TAS::

Harga: 50K
Bahan tas: kain Blacu

Untuk pembelian temen-temen bisa contack facebook salah satu delegasi LNRPB Yogyakarta: Mbak Ari Dhamayanti https://www.facebook.com/ari.dhamayanti.3?ref=ts&fref=ts atau No. Handphone nya 0817 4276 630 dan Mas Faizal Afnan di No. Handphone 0857 4731 7618 langsung PM aja atau comment langsung di bawah poto yakkk...
Harga penjualan belum termasuk ongkir. Pengiriman melalui JNE.

We decided to start saving the ocean. You?
One small action, for more blue ocean of Indonesia! ""

Save Earth by Litlest Thing from Us Now On!

There are too many word spoken every 22nd April to appreciate Earth Day. Everyone wants to save the earth. But not huge of people actualize it. Some confuses to do what. Some doesn't know start from what. Some just 'Talk Only No Action'. This is the smallest thing we start from our self to save our environment. This is our promise:


I, ...
Pledge to avoid use disposable plastic botle for a week
Starts : 22nd April 2013
Ends : 29th April 2013
We! Agent of earth.



We'll do what we've wrote. Plastic botle is one of disposable material that can't be composed easily by the soil. Many environmental pollution happens because human consume plastic material day by day, and it increase plastic contamination to the soil. The people daily consume of plastic support the plastic produce. That's why we need to change this habit.
This is our small promise we're doing. Joins Us!












Small Thing Inside Us! (Save Earth)

Oleh : Etna Khairullah

Ada banyak kata yang terucapkan setiap tanggal 22 April, semua orang ingin memyelamatkan bumi. Tapi tidak semua yang melakukannya. Ada yang bingung bagaimana caranya, ada yang terlalu rumit untuk melakukannya. Atau ada yang hanya bicara. Ini hal kecil yang kami lakukan untuk bumi. Ini janji kami ....
I, ...
Pledge to avoid use disposable plastic botle for a week
Starts : 22nd April 2013
Ends : 29th April 2013
We! Agent of earth ...

Akan kami lakukan apa yang kami tulis. Botol plastik adalah salah satu limbah yang sulit untuk diuraikan tanah. Banyak pencemaran lingkungan yang terjadi karena semakin lama manusia mengkonsumsi plastik di kehidupan sehari-harinya.
Ini hal kecil yang kami sedang lakukan. Ini perubahan besar. Bergabunglah!

Perubahan Iklim Perubahan Kebiasaan


Oleh : Etna Khairullah

Latar Belakang

Perubahan iklim adalah perubahan yang begitu terasa dan terus menerus terjadi dari waktu ke waktu dalam pembagian iklim semenjak beberapa abad yang lalu. Terjadinya perubahan iklim dengan perubahan cuaca yang tak menentu atau cuaca yang terus menerus berubah secara drastic. Contohnya, suatu ketika hujan sangat lebat kemudian menjadi panas terik. Perubahan iklim disebabkan oleh factor-faktir seperti siklus air di lautan, perbedaan hasil radiasi terhadap sinar matahari, lempeng tektonik dan gunung meletus, dan perilaku manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Semua itu menimbulkan perubahan iklim yang juga disebut dengan Global Warming atau pemanasan global yang juga mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia.
 
Para ilmuwan yang memahami tentang iklim masa yang telah berlalu dan ilim yang akan datang menggunakan penelitian dan berbagai teori. Perubahan suhu di kutub, es yang meleleh, jumlah fauna dan flora, proses pergeseran lempeng, dan analisis kebumian lainnya serta pengamatan level air laut dari masa ke masa.
Gas karbondioksida dikeluarkan oleh kendaraan-kendaraan bermotor. Pada tahun 2006, kendaraan bermotor menyumbang 23 persen keluaran gas karbondioksida di dunia, dan penambahan substansi secara berkala di setiap Negara. Menurut bagian lingkungan hidup di Negara-negara berkembang menghadapi beberapa masalah tak terkecuali masalah-masalah mengenai perubahan iklim ini. Salah satunya pengembangan infrastruktur dalam mengurangi keluaran gas yang dihasilkan kendaraan bermotor.
Cuaca ekstrem mendominasi berita utama pada tahun 2010 dan awal tahun 2011 bersamaan dengan berita banjir yang terjadi hampir diseluruh bagian Negara, bahkan di Indonesia. Bencana alam banjir adalah salah satu yang paling memprihatinkan. Bagaimanapun, Komposisi kimiawi dari atmosfer sedang mengalami perubahan sejalan dengan penambahan gas rumah kaca – terutama karbon dioksida, metan dan asam nitrat. Kasiat menyaring panas dari gas tersebut tidak berfungsi. Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbon dioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar  0°F/15°C. Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrai gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsetrasi metan lebih dari dua kali, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%.

Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Mengapa konsentrasi gas rumah kaca bertambah? Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca.

 Masalah

Naiknya frekuensi cuaca/iklim ekstreem telah meningkatkan bencana alam yang meluas mulai dari kekeringan, banjir, tanah longsor dan naiknya kejadian badai/putting beliung. Dampak perubahan iklim antara lain:
1.      Meningkatkanya permukaan air laut
2.      Perubahan pola hujan
3.      Mewabahnya banyak penyakit
4.      Penurunan kualitas lahan dan hasil pertanian
5.      Perubahan tata guna dan fungsi hutan
6.      Berkurangnya kuantitas dan kualitas air bersih
7.      Kawasan pesisir mengecil dan berubah fungsi
8.      Kepunahan spesies tertentu dan ekosistem

 

Pembahasan

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.(Wikipedia.org)
Pola musim mulai tidak beraturan sejak 1991 yang mengganggu swasembada pangan nasional hingga kini tergantung import pangan, Musim kemarau cenderung kering dengan trend hujan makin turun salah satu dampak kebakaran lahan dan hutan sering terjadi dan berlanjut dengan pencemaran asap. Muka air danau khususnya danau Toba makin susut dan mungkin danau/waduk lain di Indonesia, Konsentrasi es di Puncak Jayawija Papua semakin berkurang,
Munculnya kondisi cuaca ekstrim yang sering yang menimbulkan bencana banjir bandang dan tanah longsor dalam beberapa tahun terakhir, selain itu juga banyak korban jiwa diakibatkan oleh cuaca yang ekstrem. Beberapa orang mengalami gangguan pernapasan. Kasus ini tercatat disejumlah Negara seperti Jepang, Australia dan Amerika.
Kota yang dulunya sejuk kini menjadi hangat (Urban Heat Island), meskipiun kebanyakan Negara-negara empat musim memiliki suhu yang relative sedang pada saat musim terppanas sekalipun tetapi dampak dari perubahan iklim benar-benar dirasakan mengganggu kenyaman. Apalagi di Negara-negara tropis yang mayorityas kawasannya bercurah hujan rendah dengan suhu bumi yang meningkat semakin terasa begitu panas mempengaruhi suhu tubuh setiap orang.
Mulai giatnya banjir pasang (rob) yang cenderung meluas yang terjadi. Di Indonesia salah satunya, wilayah Jakarta bagian utara benar-benar menunjukkan perbedaan signifikan. Wilayah tersebut dulunya adalah sebuah kampong pesisir tetapi sekarang daerah tersebut terendam air laut apabila air laut naik sedikit. Di pulau Bintan juga demikian, sekarang di beberapa tempat air laut naik hingga ke daerah rumah-rumah warga dan menyebabkan banjir.
 
Maraknya badai lokal atau putting beliung yang meluas di kawasan yang sebelumnya belum atau jarang terjadi. Munculnya gejala alam global El Nino dengan konsekuensi dampak pada fluktuasi/variabilitas iklim global dengan adanya kekeringan yang berkepanjangan dan banjir di tempat lainnya (kontribusi pada krisis ekonomi dunia 1998 ? Menurut survey UNICEF, FAO, ADPC, dsb.nya)
Suhu perkotaan kian naik (urban heat island) sebagai indikator lanjutan dampak pemanasan dan perubahan lingkungan, di kota-kota besar di setiap negara pertumbuhan gedung-gedung dan segala fasilitas serta kegiatan industry banyak yang mengabaikan keberadaan lingkungan. Lingkungan kota yang cenderung gersang ditambah dengan emisigas berlebihan menimbulkan efek rumah kaca di sekitar kota.
Pola Cuaca dan Iklim yang tidak beraturan akan mengganggu pada pembangunan sarana dan prasarana transportasi serta daya tahan infra struktur (jalan mudah berlubang, rel kereta api bengkok, percepatan korosi, dsb), hal ini akan menyulitkan pemerintah dalam membuat program pembangunan dan lebih memboros financial dalam perawatan infrastuktur umum.
            Kekeringan yang panjang berlanjut dengan dampak kebakaran dan pencemaran asap yang menggangu jarak penglihatan mendatar, Maraknya kejadian badai lokal (putting beliung) akan mengganggu sarana transportasi darat, laut dan udara, Seiring naiknya cuaca ekstreem berupa hujan lebat yang menimbulkan banjir, banjir bandang dan tanah longsor peluang terganggunya jembatan dan jalan untuk transportasi darat, Frekuensi gangguan angin kencang/badai baik angin barat dan angin timur yang silih berganti berpeluang mengganggu lalu lintas perhubungan laut dan penyeberangan antar pulau, Naiknya paras air laut akan menggangu operasional pelabuhan laut dan gangguan jalan raya, Gangguan lainnya seperti gangguan ketidak nyamanan (comfortable) akibat kondisi cuaca/iklim yang tidak beraturan serta munculnya epidemic penyakit.
            Hampir seratus tahun belakangan ini konsumsi energy yang ada di Negara maju meningkat secara drastic dan hampir 70 persen konsumsi energy tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Banyak ketimpangan pengekploitasian wilayah sumber daya energy sementara pemanfaatan energy tanpa batas seperti energy matahari angin, air dan biogas belum menjadi alternative sumber daya alam yang banyak diminati. Padahal energy fosil menghasilkan emisi gas yang sangat berbahaya di bumi, kendaraan-kendaraan bermotor mengeluarkan molukel gas yang terlepas di udara. Gas tersebut menghambat sinar inframerah yang sampai dibumi untuk dipantulkan kembali ke luar angkasa. Dengan begitu panas matahari tertahan dibumi dan menyebabkan perubahan cuaca dan iklim yang sangat signifikan serta beberapa bahaya seperti bencana alam yang telah disebutkan sebelumnya.
Dengan populasi penduduk dunia saat ini yang mencapai 6.056.528,577 jiwa dan melakukan berbagai macam aktifitas yang tentunya menghasilkan efek samping bagi bumi. Selain aktifitas kendaraan bermotor, penggundulanhutan yang dilakukan menyebabkan bumi kekurangan bantuan dalam mentralisasi gas buangan yang dilepaskan di uadara. Seperti yang kita semua tahu bahwa hutan merupakan komponen yang sangat penting untuk membantu menyerap gas karbondioksida. Selain itu dengan keberadaan hutan, radiasi matahari langsung ke permukaan bumi dapat dihindari sebagian.
Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi kesuburan tanah. Pencegahan perubahan iklim yang merusak membutuhkan tindakan nyata untuk menstabilkan tingkat gas rumah kaca sekarang di udara sesegera mungkin; dengan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 50%, demikian Panel Inter Pemerintah. Jika tidak melakukan apa-apa maka hal-hal berikut akan membawa dampak yang merusak.
Pada KTT Asean tahun 2011 lalu yang bertempat di Pulau Bali Indonesia, dibahas banyak hal mengenai perubahan iklim salah satunya. Setiap Negara anggota ASEAN berkomitmen meminimalisir keterlibatan Negara mereka dalam menyumbang penyebab perubahan iklim. Bahkan mereka juga menyiapkan rencana penanganan-penangan terhadap bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim.
KTT ASEAN memang benar-benar proaktif memerangi segala bentuk aktifitas yang yang dapat meningktkan suhu di permukaan bumi. Selain itu juga pelestarian dan pengawasan terhadap lingkungan seperti pembalakan dan penggundulan hutan juga bagian dari larangan didalam kampanye.
United Nations Enviroment Programme juga mengkampanyekan program 30 cara menanggulangi dan mengurangi dampak pemanasan global. Kampanye ini dilakukan di setiap Negara-negara dengan wakil-wakil mereka. Sekjen UNEP, Achim Steiner menjelaskan bahwa program pengawasan dan penanggulangan terhadap dampak perubahan lingkungan mesti hatrus tetap berjalan secara berkesinambungan.
UNEP menggalakkan 30 cara mengatasi perubahan iklim antara lain dengan mengehmat energy dan penggunaan sumber energy alternative, seperti energy matahari. Program pariwisata berbasis pengetahuan terhadap pelestarian lingkungan, penanaman investasi untuk penghijauan masa depan, program penanaman pohon didaerah lahan kritis di beberapa Negara, bangunan-bangunan ramah lingkungan dan hemat energy dan sebagainya.
Bukan hanya organisasi internasional saja yang dapat melakukan aksi pencegahan terhadap pemnasan global ini. Teapi kita, lingkungan kita serta orang-orang disekitar kita juga dapat melakukannya. Kita dapat memulai dengan melakukan kebiasaan-kebiasan kecil seprti menghemat energy dan menjaga lingkungan.
  
Penyelesaian Masalah dan Saran
Kondisi alam yang mulai tidak bersahabat dengan kita ini secara langsung mempengaruhi kehidupan kita. Oleh karena itu inilah saat bagi kita, penghuni planet Bumi untuk sedikit membantu meringankan pekerjaan bumi mengatasi masalah-masalah ini.
            Banyak cara yang dapat kita lakukan antara lain :
Ø  Daur Ulang/menggunakan kembali:
Memperhatikan kebiasaan konsumen, dan membeli atau menggunakan barang-barang yang
tidak dipaket. Mencari merk yang memperhatikan lingkungan dan sabun-sabun dan agenagen
pembersih.
Mendaur ulang segala yang dapat didaur ulang: plastik, kupasan buah segar dan sayur
mayur, kertas dan kardus, gelas dan kaleng.
Mulailah dengan membuat kompos. Tambahkan cacing dan juga daun-daun, ranting-ranting
dan kotoran dari kebun dan kompos itu akan menjadi pupuk alam untuk tanah.
Mendorong industri kerajinan untuk menjalankan tanggungjawab bagi daur ulang bahanbahan
sisa dan alat-alat elektro seperti tv dan komputer.
Ø  Mengurangi
Hemat dalam menggunakan air
Mengurangi pembakaran barang-barang yang tidak dapat didaur ulang
Mengurangi emisi CFC dan emisi pengganti CFC dengan tidak menggunakan aerosol dan
menggunakan energi efisien.
Mengurangi penggunakan listrik dengan menggunakan lampu hemat energi.
Ø  Mengingatkan
Pemerintah setempat akan komitmen mereka untuk mendaur ulang dan mengurangi
pemborosan serta mempertahankan hukum daur ulang dan pemborosan agar tetap relevan.
Mendorong pengusaha setempat agar mengurangi produk-produk paket.
Mengingatkan otoritas setempat untuk memelihara listrik dan menggunakannya dalam
system yang efisien.
Mengingatkan pemerintah akan komitmen mereka pada deklarasi dan protokol-protokol
demi lingkungan hidup
Mengingatkan siapa saja agar hidup sederhana di bumi ini dan mengingatkan agar selalu
menggunakan dan mendaur ulang barang yang digunakan.

KESIMPULAN

Indikasi Pemanasan dan Perubahan Iklim Bumi secara global telah memberi dampak pada kondisi cuaca/iklim. Dalam penerapan langkah mitigasi dan adaptasi sangat mutlak diperlukan landasan pengetahuan tentang iklim bumi secara menyeluruh dan mendasar.
Emisi gas menyebabkan efek rumah kaca yang menghalangi sinar matahari untuk dipantulkan kembali. Sinar matahari tertahan dan menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat. Kita tinggal di permukaan bumi, secara langsung aktifitas rumah kaca ini empengaruhi kehidupan kita.
Kegiatan-kegiatan manusia secara langsung mempengaruhi lingkungan sekitar mereka. Perubahan iklim dan cuaca mempengaruhi kesehatan manusia. Selain itu banyak bencana terjadi di daerah-daerah seperti banjir dan kebakaran hutan. Hal ini tentu juga menyulitkan kita.
Program-program yang dicanangkan oleh organisasi dunia setingkat PBB dan ASEAN serta UNEP adalah berkampanye di setiap Negara-negara di dunia. Bahkan proaktif merealisasikan program-program penghematan energy dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan.
Kita juga dapat membantu dalam mengurangi dampak perubahan lingkungan. Melakukan hal-hal kecil namun berarti. Penghematan bahan bakar dan listrik, pengawasan terhadap lingkungan dan ikut program kampanye anti pencemaran lingkungan.