Showing posts with label Menolak Patah Hati. Show all posts

MPH Escape Project Pre-launch: Hujan Di Dieng

Adalah benar orang-orang bijak mengatakan, dibalik kesedihan alam menyimpan kebahagiaan dan hanya orang-orang yang pandai mengambil hikmah yang paling tahu rasanya bersyukur. Minggu kemarin berangkat dari terminal bayangan Cikarang menuju Wonosobo setelah pulang kerja.  Untuk kesekian kalinya escape, semakin jauh dan semakin tersesat. Dieng, tujuan umum yang membuat saya penasaran. Terkenalnya Dieng di telinga para pelahap wisata alam kurang otentik kalau tidak saya langsung yang jadi saksinya. Menikmati keindahannya.

Sunrise dari jalan sekitar Gardu Pandang yang belum sempat saya pandangi, hanya numpang lewat saja.

Sekaligus, kaburnya saya kali ini ke Dieng adalah untuk membuat riset perjalanan wisata minim budget demi menjalankan MPH Escape Project yang akan saya dirikan bersama teman saya. Seorang Escapist seperti saya membuat Itinerary bukan lah diri saya yang biasanya. Menyimpang dan terlalu kaku, menurut jiwa saya yang suka semua hal natural. Tapi tidak ada salahnya toh coba out of the box sekali-kali. Pun, saya pikir bukan hal yang buruk untuk mencoba mengorganisir sesuatu. Apalagi tidak bisa diprediksi jika suatu hari nanti MPH Escape Project semakin berjalan profesional. Nanti akan saya lampirkan itinerary perdana yang saya buat tersebut. Sederhana.


Dieng adalah sebuah desa sadar wisata didaerah pegunungan setinggi 2093 meter diatas permukaan laut. Objek wisata satu dan lainnya berjarak berdekatan dan aksesnya tidak susah karena sudah ada penunjuk arah ke setiap objek serta jalanannya sangat rapi, selain itu penduduk lokal juga info-able untuk ditanya-tanyain, atau juga paling banyak nanya-nanyain (a.k.a. kepo). Kebetulan saya tiba dan menyewa kendaraan di Patak Banteng, Kejajar. Bukan desa tertinggi di Dieng seperti Sikunir. Tapi desa ini lumayan indah dengan hamparan perkebunan wortel, daun bawang dan kol pada masa hampir panen. Serta Gunung Sindoro & Sumbing yang view-able, juga dibelakang saya ada Gunung Prau tegak menjulang ramah. Ketika pertama tiba kami sarapan di warung Fajar (begitu nama warungnya) bersamaan dengan beberapa rombongan dedek-dedek gemez yang baru tiba dari perjalanan mengendarai sepeda motor dari Yogyakarta. Saya jadi teringat dengan adik yang sedang kuliah disana, atau mungkin sekarang sedang sibuk pacaran.

Semua hal yang menyenangkan ketika ke tempat asing adalah, mengenali orang asing baru dan menemukan tempat asing baru. Diluar mengenali banyak hal asing lainnya. Selain itu juga belajar menemukan diri sendiri.




Baiklah, sudah selesai dengan pembukaan bertele-tele diatas. Karena di paragraf padat ini saya akan menuturkan kemana saja saya selama waktu seharian di Dieng kemarin. Objek pertama yang dipilih adalah lokasi wisata Candi Arjuna. Sekali lagi saya jelaskan disini, saya bukan agen travel yang akan mereview suatu tempat wisata dengan tujuan untuk menarik minat wisatawan datang ke tempat tersebut. Jadi saya akan me-report sesuai dengan apa yang saya lihat, alami dan rasakan selama disana. Candi Arjuna adalah sebuah lokasi candi peninggalan jaman kerajaan yang sekarang ini terletak ditengah tengah perkebunan wortel, tomat dan daun bawang. Sebelum pergi kesana saya terlebih dulu mencari informasi mengenai sejarahnya. Ketika tiba disana, tidak ada tour guide, tidak ada papan penjelasan dan tidak ada batas-batas keamanan wisatawan untuk menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan barang-barang arkeologi disekitar kawasan candi. Jadi, anda bebas mau kemana saja dan berbuat apa saja. Asalkan jangan membakar jagung di atas batu candi, itu sudah cukup. Tiket masuknya Rp. 10.000,- per orang dan parkirnya Rp. 2.000,-. Simpan tiket jika anda masih ingin ke Kawah Sikidang, karena tiketnya digabung menjadi satu. Saya tidak tahu kenapa.


Kedua, destinasi kita ke Kawah Sikidang. Area perbukitan dengan struktur khas tanah yang mengandung mineral balerang, di beberapa titik muncul sembulan asap putih pekat. Tapi yang paling besar adalah kawah yang terletak di ujung, didekat bukit yang paling tinggi. Kawahnya menyembulkan asap paling kental dan terdengar suara gemuruh seperti air mendidih. Disekitarnya bisa saya gambarkan ada banyak penjaja makanan dan sayuran serta buah-buahan khas Dieng di sepanjang jalan menuju lokasi kawah paling besar. Kemudian ada juga spot tempat berfoto bersama Elang, Burung Hantu dan Kuda. Setiap berfoto membayar sesuai tarif yang ditentukan. Menurut penelitian, terlalu sering menghirup bau balerang menyebabkan kesulitan bernafas pada paru-paru dan menyakitkan hati apabila berkelanjutan terkontaminasi dengan gas SO2 nya. Tapi bagi saya, yang menyakitkan hati adalah saya tidak dapat membawa seseorang untuk menceritakan bahwa tempat tersebut sangat indah. Hamparan bukit-bukit disekitarnya menentramkan hati. Sementara di sebelah, teman saya sedang merindukan kekasihnya atau sedang menghayal tentang sesuatu yang ia dan Tuhan saja yang tahu kenapa. Oh ya, ada sebuah PLTU disana. Dari info ibu homestay saya, PLTU tersebut juga dijadikan lokasi objek wisata.


Tutup mata, buka hati. Abaikan ekspesi abstrak dari muka saya!

Telaga Warna yang debit airnya sedang kecil.

Terakhir, tanpa saya tahu itu memang benar-benar jadi destinasi terakhir bagi saya pada hari itu untuk dapat dikunjungi. Telaga Warna yang merupakan ikon pariwisata paling terkenal di Dieng memberikan ekspektasi berlebihan kepada saya yang sangat, sangat suka dekat dengan sumber air. Malangnya, ketika tiba disana saya harus menelan kekecewaan karena debit air di Telaga Warna sedang turun akibat kemarau parah dan Dieng belum disirami air hujan beberapa bulan belakangan. Tak jauh beda dengan Telaga Warna, begitu juga dengan tetangganya Telaga Pengilon. Saya sangat penasaran, mendekati air Telaga Warna karena dasar danau dibagian tepi mengering dan bisa dipijaki serta banyak orang-orang yang berjalan mengelilingi maka sayapun ikutan. Semakin berjalan ke tengah, semakin penasaran mengambil foto aktual mengenai Telaga Warna saya menginjak sebuah tanah berumput sampai tidak sadar kalau tanah itu tidak kokoh sampai kaki saya terperosok masuk kedalam lumpur. Banyak yang melihat dan karena karakter cuek saya yang diambang batas normal itu maka tertawalah saya sambil kemudian nyengir ala-ala Miss Universe. Lalu mengirimkan foto tersebut ke seseorang. Yang mungkin sedang melakukan kegiatan lainnya, tentunya tidak sambil memikirkan saya. Mana mungkin!

Kabut tebal yang saya ceritakan tanpa dramatis karena jadi pemicu hypothermia.

Hidup itu pilihan. Tidak ada pilihan yang tidak bahagia. Jika tidak bahagia, maka itu belum berakhir. Saya sangat ingin sekali membangun tenda di Telaga Menjer. Dari kedatangan kami di pagi hari sudah berencana untuk menyewa peralatan camping dan akan bermalam di Menjer untuk menikmati keindahan suasana langit dan danau pada malam hari. Tapi ternyata setelah turun ke kota dan mencari mi ongklok untuk mengisi perut. Pulangnya kami berniat meninjau lokasi kemah di Menjer. Tapi ternyata malah terjebak hujan di sekitaran Garung. Jadilah berteduh di teras rumah penduduk di tepi jalan. Disitu, kami bertemu dengan sebuah dari bagian kehidupan. Ada anak laki-laki yang juga ikut berteduh ditempat yang sama. Saya tidak bertanya-tanya dan tidak mewancarainya. Tapi telinga saya stereo waktu teman saya mengobrol dengan Rizky, namanya. Bapak dan ibu nya berpisah sejak Rizky  kecil. Dia dan kakak perempuannya di titipkan dirumah neneknya. Ibunya bekerja di Singapur dan sudah 6 tahun belum pulang, umur Rizky sekarang 13 tahun. Bapaknya di Tangerang. Sudah, saya tidak mau menceritakan banyak. Mengingatkan dengan sesuatu yang ingin saya lupakan. Yang jelas tangan kanannya sedang di gypsum dan disanggah kain untuk penyangga tangan orang-orang yang patah. Tangannya patah, habis bermain bola.

Ada impian yang diam-diam kita tiupkan ke udara. Berharap semoga Tuhan dengar dan berbaik hati mengabulkan. Tuhan yang mana saja yang kita percayai.

Lalu kembali ke hujan yang tiba-tiba itu. Saya yang dari tiba di Wonosobo hanya mengenakan rok selutut dan kemeja saja ini kehujanan. Menunggu sampai mengantuk sekitar dua jam sambil mengobrol dan akhirnya membatalkan perjalanan ke Menjer. Lalu kami pulang naik ke atas. Karena kabut semakin tebal. Dan baju saya sudah kebasahan. Adalah penting untuk saya pribadi mengingat kejadian ini. Saya tidak akan pernah mau jadi traveller cantik lagi jika harus berhadapan dengan hypothermia di lain waktu. Rasanya hampir mirip ketika mencoba mendaki gunung di waktu hujan lebat dengan peralatan yang tidak memadai. Kepalang tanggung, sudah ditengah jalan hujannya masih tidak mau berhenti dan kabut semakin tebal sampai batas pandang hanya sekitar setengah meter. Motor sudah di gas paling full seperti Lorenzo menyalip kendaraan yang lewat, truk sayur, mobil, pick up dan motor. Hajar semua! Benar dugaan saya, tangan sudah membeku dan tengkuk leher mulai sakit. Pandangan mata semakin kabur sampai saya mulai merasa tidak bisa berpikiran waras lagi. Tanda-tanda awal Hypothermia. Hampir-hampir sepeda motor yang saya kendarai menghantam pinggiran batasan pagar besi tebing. Selebihnya saya tidak ingat, karena saya baru sadar sedang berselimut duduk didepan tv sambil nonton Stand Up Comedy Academy di rumah ibu tempat menyewa motor. Lalu malam harinya menjarah semua makanan yang di sediakan ibu homestay dan tidur nyenyak. Terima kasih Ibu Mini, kentang gorengnya enak!



Tidak ada narasi perjalanan lagi di paragraf ini. Hanya sebuah cerita reflektif. Jika kamu berada di posisi saya. Yang datang jauh-jauh dari Jakarta dengan waktu perjalanan 12 jam dihabiskan duduk. Kemudian mendapati kenyataan tidak berjalan sempurna sesuai apa yang diinginkan. Hanya belajar banyak hal, bukan hanya belajar tapi juga sadar. Hidup penuh kejutan, tapi saya tetap tidak merasa terkejut. Susah untuk membuat saya terkejut. Hanya saya merasa kecewa dengan diri sendiri karena tidak dapat berbuat maksimal untuk mencapai tujuan yang saya mau. Disini saya sadar, alam menginginkan saya kembali menjadi diri saya yang melihat sekitar dan belajar bersyukur serta mengambil hikmah. Candi Arjuna yang kecil dan lebih banyak dikelilingi perkebunan itu ternyata adalah bagian dari peninggalan sejarah, yang meskipun tidak besar tetapi tetap dijaga dan dilestarikan masyarakat sekitar. Mereka tinggal diantara bukti kejayaan masa lalu sambil menjalankan kehidupan di masa sekarang, dan menanam untuk kebaikan masa depan. Ke Kawah Sikadang sendirian memberikan arti hidup bahwa saya dapat melihat banyak orang asing jika tidak hanya fokus pada seseorang yang bahkan tidak ada disana. Telaga Warna yang kering bukan karena ekosistem airnya yang tidak terjaga tapi karena hujan belum turun sejak beberapa bulan lalu. Dan tidak jadi ke Menjer memberikan jawaban dari kalimat sebelumnya. Itulah hujan pertama yang turun di Dieng, pada hari dimana kami tiba. Setelah selesai melihat beberapa aksi Tuhan menghukum manusia lewat alam. Jika tidak sadar, tidak ada yang dapat mengambil pelajaran dari perjalanan ini. Hujan yang mengacaukan schedule jalan-jalan saya di Dieng itu adalah rejeki yang dikirimkan Tuhan secara merata di seluruh Pulau Jawa, karena pada hari saya pulang kembali ke Jakarta disepanjang jalan langit ditutupi awan hitam tebal. Setiap daerah yang saya lewati tadinya kering meranggas, terlihat dari daun-daun di pohon yang mengering baru tersiram hujan. Sungai-sungai yang mendangkal dan kain-kain jemuran yang belum sempat di angkat. Mau di buat apa? Apa saya akan marah dengan hujan? Hmmh, saya tidak berani marah dengan alam. Mereka sahabat saya yang paling baik. Tempat menjadi media cerita ketika saya patah hati. Tidak akan menceritakan kembali kepada siapapun dan membuat saya melupakan masa lalu yang buruk. Malah membuat saya semakin jatuh cinta dengannya. Dan riset MPH Escape Project inipun tidak gagal begitu saja, ada banyak bekal berharga yang akan saya gunakan di kemudian hari.
Ayo Bahagia!
Anak-anak kecil yang pulang mengaji sambil menyipak-nyipak air becek dengan kaki mungil mereka sambil memainkan payung. Buah-buah terong belanda yang sudah mulai merah ranum dan beberapa lahan perkebunan wortel yan sudah di panen dan ditanami benih kembali. Kabut tebal yang menutupi Prau. Saya akan mencari lebih banyak cerita di tempat asing lainnya, untuk saya bagikan ketika paham akan berbagi dengan siapa nanti. 

Menolak Patah Hati.

Kan, sudah saya bilang!

Ini semua karena kutukan cinta pertama. Saya bakal selalu patah hati deh, bakal selalu bertepuk sebelah tangan setiap suka sama seseorang. Bukan masalah baper-nya! Tapi memang apapun yang saya lakukan pasti selalu salah dan mereka pasti bakal menjauh dari saya. Kalau saya memperlakukan mereka dengan baik, mereka bilang saya tidak cocok dengan mereka karena terlalu baik. Kalau saya cuek, mereka bilang saya tidak benar-benar suka dan hanya mempermainkan perasaan.


Nah, ngomong-ngomong soal istilah baper yang belakangan ini lagi kekinian banget itu. Saya juga mau ngedumel tentang itu. Tau nggak sih, semenjak ada istilah baper orang-orang jadi pada nggak ngehargain perasaan orang lain lagi. Apa buktinya?

Contohnya, ketika ada orang yang lagi deket ama kita trus tiba-tiba mereka cuek dan menjauh. Tentunya itu jadi pertanyaan dong, ada apa dengan mereka? Apa kita sudah berbuat sesuatu yang alah atau pernah menyakiti perasaan mereka tanpa sadar? Tapi anehnya orang-orang disekitar, temen-temen pasti pada mencibir. "Kamu gitu aja baper-an!". Atau, ketika temenmu ngomong tentang suatu hal yang sensitif, mengomentari fisik atau penampilan kamu yang meskipun menurut mereka aneh tapi itu membuat diri kita sendiri nyaman, mereka pasti langsung mengucapkan sesuatu yang dimaksudkan agar jangan terlalu terbawa perasaan hanya karena di komentari seperti itu. Apa mereka pikir kita tidak boleh tersinggung? Bagaimana jika kata-kata yang mereka gunakan sebenarnya memang tidak pamtas? Nah, contoh kasus yang lebih parah lagi. Katakanlah misalnya kamu adalah seorang single, terus tiba-tiba teman-temanmu mempertunjukkan kemesraan mereka pada pasangannya dengan cara yang menurutmu terlalu berlebihan dan tidak normal. Tebak apa yang akan mereka katakan? "Susah punya temen jomblo, baper-an!" Kalau itu memang benar-benar terjadi sama kamu, sama saya juga. Biasanya saya akan mengernyitkan dahi. Ape jadah?

Foto kiriman Etna Khairullah (@etnakhairullah) pada


Oke, back to topic: Menolak Patah Hati. Yang sebenarnya ada hubungannya juga dengan pembahasan baper diatas. Jadi begini lho ceritanya readers. Sedikit curhat, beberapa waktu yang lalu saya pikir saya sedang jatuh cinta. Tapi saya tahu saya orang yang rumit, dan sekarang saya baru menyuadari itu. Tapi semuanya udah terlambat dan waktu nggak bisa berjalan mundur. Si "empunya dedemenan" kayaknya udah illfeel deh ama perilaku menyimpang saya hehehe ...

Tapi saya legowo, meskipun sedikit galau. Tapi saya mencoba mengerti dari sudut pandang beliau. Mungkin saya bukan prioritasnya, jadi beliau tidak terlalu berusaha untuk menunjukkan ataupun memberi sinyal bahwa beliau juga memiliki perasaan yang sama dengan saya. Karena jika benar-benar suka, menurut sahabat saya. Dia akan datang pada saya, mempertahankan dan memperjuangkan untuk mendapatkan cinta saya. Apa saya juga tidak berusaha? Saya sudah berusaha, dengan cara saya sendiri. Tidak dengan menjadi agresif dan bertindak grusa-grusu untuk menarik perhatiannya. Saya sudah 24 tahun, bukan anak kelas VII SLTA yang menulis surat cinta dan menjadi penelepon gelap setiap malam demi laki-laki/ cowok yang ditaksir (pengalaman pribadi). Saya ini jika dikategorikan, adalah tipe pemalu yang tidak terlalu suka mengumbar kepada orang lain dengan siapa saya memiliki perasaan saat ini. Bahkan sampai si "empunya dedemenan" pun akan susah membaca sinyal yang saya berikan. Tapi intinya, saya berusaha menunjukkan perasaan afektif saya dengan menjadi tempat berbagi untuk beliau. Menjadi pendengar yang baik dan men-support beliau dalam keadaan terburuknya sekalipun. Beliau senang, ntah senang karena saya benar-benar membantu beliau ataupun beliau memiliki tempat pelampiasan kesedihan. Saya pun senang, dan menjadi sedikit baper.

Saya tidak marah dan kecewa. Jika ia tidak bisa mencintai saya seperti apa yang saya ekspektasikan, itu adalah pilihannya. Beliau memiliki hak untuk tidak menerima perasaan cinta yang saya berikan, begitu juga saya. Saya berhak memiliki perasaan cinta ke beliau, meskipun hanya bertepuk sebelah tangan. Saya tidak akan pernah menyesal untuk pernah memiliki perasaan terhadap seseorang, saya akan tetap jatuh cinta lagi. Jika memang harus patah hati lagi. Dan kebetulan tadi menemukan suatu postingan di Instagram, captionnya bagus banget. Nih:


Saya rasa, ini saatnya menjadi dewasa. Memang benar cinta harus memiliki. Karena memiliki adalah wujud cara untuk mengekspresikan rasa cinta. Tapi bukan hanya memiliki yang paling penting dalam mempunyai perasaan cinta terhadap seseorang. Tetapi melihat orang yang kita cintai dapat tersenyum bahagia dari kejauhan akan lebih baik daripada harus menjadi orang yang beliau cintai tapi hanya membuatnya bersedih. Bukankah cinta harus bahagia?

Terima kasih sudah membaca tulisan saya yang tidak seberapa menginspirasi ini. Semoga kehidupan percintaan kalian tidak se-mengenaskan seperti kehidupan saya. Ayo Bahagia!


Memberi Nilai Pada Harta Yang Sudah Ada Disekitar Kita.



Selamat siang!

Semoga kalian baik-baik saja. Saya merasa luar biasa! Saya akan melakukan yang terbaik dan yang paling baik dari hari-hari sebelumnya. Bukan hanya seperti yang saya janjikan kepada Bapak, tapi kepada diri saya sendiri. Saya tidak akan patah hati lagi. Saya akan tetap mencintai. Meskipun cinta tidak mau memihak, meskipun cinta tidak mau berusaha mempertahankan saya agar tidak pergi. Saya akan tetap memberikan yang terbaik. Saya tidak akan takut gagal bermimpi lagi, adalah langkah-langkah kecil yang akan memulai sesuatu yang besar. Saya akan terus mencoba, gagal, mencoba lagi, gagal dan berusaha lagi.

Mendaki gunung di Nusa Tenggara Barat, berlayar sampai ke Raja Ampat. Tersesat di pedalaman hutan Borneo. Masih mimpi saya. Tinggal dan membangun rumah ditengah hutan Akademia, mendalami banyak bahasa dan budaya di seluruh dunia. Membuat ensiklopedia perjalanan pertama dalam bahasa asal Bahasa Indonesia dan pulang ke kampung halaman yang tidak pernah melahirkan saya, Pulau Sisilia!

Saya tidak akan menyerah. Saya siap untuk jatuh cinta lagi!