Showing posts with label Gurindam 12. Show all posts

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 12

Inilah Gurindam Pasal Yang Kedua Belas


Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta


Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 11

Inilah Gurindam Pasal Yang Kesebelas


Hendaklah berjasa Kepada yang sebangsa
Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang tercela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujah
Hendak dimalui
Jangan melalui
Hendak ramai
Murahkan perangai

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 10

Inilah Gurindam Pasal Yang Kesepuluh


Dengan bapa jangan durhaka Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat Supaya badan jadi selamat
Dengan anak janganlah lalai Supaya boleh naik ketengah balai
Dengan isteri janganlah alpa Supaya malu jangan menerpa
Dengan kawan hendaklah adil Supaya tangannya jadi kapil

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 9

Inilah Gurindam Pasal Yang Kesembilan



Tahu perbuatan yang tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan


Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa


Kepada segala hamba-hamba raja
Disitulah syaitan tempatnya manja


Kebanyakan orang yang muda-muda
Disitulah syaitan tempat menggoda


Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Disitulah syaitan punya jamuan


Adapun orang tua yang hemat
Syaitan tidak suka membuat sahabat


Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru


Pemaknaan Gurindam : * Pada pasal gurindam kesembilan ini pelajaran agama yang dibahas mengenai manusia yang diuji keimanannya dengan godaan syaitan. Dibuka dengan ayat, 'Tahu perbuatan yang tak baik tetapi dikerjakan, Bukannya manusia yaitulah syaitan'. Maksud dari ayat tersebut adalah manusia yang hatinya telah tergoda syaitan perbuatan yang jahat dan buruk meskipun ia mengetahuinya tetapi tetap dikerjakan * Sedangkan pada bait kedua hingga kelima menjelaskan tentang macam-macam orang yang sering digoda syaitan. Orang yang telah tua tetapi tidak banyak menimba pahala untuk akhirat, orang yang berada dibawah pengaruh kekuasaan diperbudak oleh kekuasaannya sendiri, anak-anak muda yang malas menimba ilmu terutama ilmu agama dan pemuda-pemudi yang sering berkumpul bersama tanpa ada kegiatan yang bermanfaat maka syaitan akan membisiki mereka untuk berbuat maksiat. * Pada bait keenam dan ketujuh dijelaskan tentang orang-orang yang dibenci syaitan adalah orang tua yang suka hidup sederjana dan anak muda yang rajin menimba ilmu pengetahuan dan agama sehingga ia menjadi pandai dan tidak mudah dibujuk daya syaitan.

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 8

Inilah Gurindam Pasal Yang Kedelapan



Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya


Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya


Lidah yang suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya


Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar


Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripada syirik mengaku kuasa


Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri didiamkan


Keaiban orang jangan dibuka
Keaiban diri hendaklah sangka



Pemaknaan Gurindam :
* 'Barang siapa khianat akan dirinya, Apalagi kepada lainnya', Tidak amanah dan jujur sebenarnya telah membohongi diri sendiri. Begitulah makna khianat akan dirinya, sekali berbohong ia akan berusaha menutupi dengan kebohongan lainnya dan sekali orang mengetahui akan sulit untuk dipercaya lagi
* 'Kepada dirinya ia aniaya, Orang itu jangan engkau percaya', Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan dan kebersihan, menjauhkan diri dari tuhan dan merendahkan harga dirinya telah berbuat kejahatan pada dirinya sendiri. Orang seperti ini tidak bisa dijadikan teladan dan tidak bisa dipercaya.
* 'Lidah yang suka membenarkan dirinya, Daripada yang lain dapat kesalahannya', bait ketiga hingga ketujuh mengajarlan budi pekerti tentang sifat rendah hati. Jangan sering membanggakan diri sendiri dan berkata hal yang buruk-buruk tentang orang lain. Setiap orang memiliki penilaian tersendiri tentang bagaimana mereka menilai seseorang, kita tidak bisa merubah cara pandang mereka. Tetapi kita bisa mengarahkan, jika ingin dipandang baik berbuatlah baik, sopan santun ramah dan suka menolong orang. Maka, mereka akan berpikir seperti itulah diri kita dimata mereka.

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 7

Ini Gurindam Pasal Yang Ketujuh



Apabila banyak berkata
Disitulah jalan masuk dusta


Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itulah tanda hampirkan duka


Apabila kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat


Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapaknya letih


Apabila banyak mencacat orang
Itulah tanda dirinya kurang


Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur


Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar


Apabila mendengar akan aduan
Itu hendaklah cemburuan


Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut


Apabila perkataan yang amat kasar
Sekalian orang gusar


Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar



Pemaknaan Gurindam :
* 'Apabila banyak berkata-kata, Disitulah jalan masuk dusta', Berbohong, berdusta, dan mengadu domba termasuk kategori banyak berkata, berkata yang tidak bermanfaat dan merugikan. Apabila terkait orang lain dan sumber perkataan tersebut tidak jelas maka akan merugikan nantinya.
* 'Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hampirkan duka', rahasia kejadian sesuatu kita tidak mengetahui karena semuanya terjadi karena kehendak Allah. Maksud dari berlebihan suka adalah hidup berlebih-lebihan hingga lupa diri
* 'Apabila kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat', pekerjaan yang tidak baik dan tidak memiliki manfaat lebih baik tidak usah dikerjakan karena selain membuang waktu dan tenaga juga mendatangkan bencana.
* 'Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapanya letih', pendidikan adalah tanggung jawab orangtua, masyarakat dan pemerintah. Hakekat mendidik dan mengajar adalah agar anak berkelakuan baik dan berbudi pekerti. Apabila anak tidak diajarkan bagaimana berperilaku sopan, ramah dan jujur sejak kecil maka jika sudah besar ia akan berperilaku buruk dan menyusahkan masyarakat yang dapat membuat malu kedua orang tuanya
* 'Apabila banyak mencacat orang, Itulah tanda dirinya kurang', Mencela dan menceritakan keburukan orang  akan tidak disukai oleh semua orang walaupun sudah berteman akrab. Orang yang menceritakan kekurangan orang lain tidak menyadari kekurangan yang ada pada dirinya
* 'Apabila orang yang banyak tidur, Sia-sia sajalah umur', Orang yang banyak tidur adalah ciri pemalas. Ketika banyak orang mengerjakan sesuatu agar bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Orang pemalas tidak mendapatkan apa karena mengurus dirinya sendiri pun ia tidak bisa
* 'Apabila mendengar akan khabar, Menerimanya itu hendaklah sabar', Maksudnya adalah orang yang sabar ketika mendapat suatu berita ia tidak terburu nafsu atau terbawa amarah dan gegabah dalam menanggapinya. Orang penyabar menjadi tempat bersandar dan meminta nasihat ketika hal buruk sedang terjadi.
* 'Apabila mendengar akan kabar, Itu hendaklah cemburuan', bait ini mengenai pelajaran budi pekerti terhadap pemimpin/atasan agar jangan terlalu melayani laporan dari bawahannya bahwa ada pekerja yang tidak baik atau buruk kinerjanya. Karena siapa tahu itu hanya karena ia cemburu kepada orang yang ia sebutkan dan ingin mencari perhatian dari atasan
* 'Apabila perkataan yanh lemah lembut, Lekaslah segala orang mengikut', Orang yang berbicara sopan, baik dan lemah lembut lebih mudah diterima perkataannya meskipun ia bukan seorang yang berpengaruh. Karena apabila memperlakukan orang dengan baik begitu baik pula perlakuan yang kita dapat darinya
* 'Apabila perkataan yang amat kasar, Sekalian orang gusar', Berteriak, mengucapkan kata-kata kotor dan kasar serta memanggil orang dengan julukan untuk mengejek akan membuat orang risih, menjauh dan tidak peduli
* 'Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat onar', Jujur dan bertanggung jawab dalam mengerjakan sesuatu orang tidak akan komplain dengan pekerjaan kita. Lain hal nya jika yang kita kerjakan berantakan dan tidak sesuai dengan apa yang mereka minta.


Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 7

Inilah Gurindam Pasal Yang Ketujuh



Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.



Pemaknaan Gurindam: 
»- 'Apabila banyak berkata-kata, Disitulah jalan masuk dusta', pembohong, pendusta, pengadu domba adalah orang-orang yang hati dan pikirannya sedang dikendalikan oleh setan. Oleh karena itu hindarilah dari berbicara yang tidak bermanfaat.
- 'Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah tanda hanpirkan duka', kesedihan dan kemalangan bisa datang tiba-tiba ditengah kebahagiaan. Karena ketika terlampau gembira bisa berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan kesedihan.
- 'Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapaknya letih', Pendidikan juga bagian tanggung jawab orang tua. Sejak kecil anak dibiasakan dengan ajaran yang baik, karena setelah dewasa ia akan menjadi anak yang berbudi pekerti. Tetapi bila anak tidak diajaran nilai dan norma sejak kecil, maka ketika besar orang tuanya akan dibuat susah oleh perilaku buruk anaknya.
- 'Apabila mendengar akan aduan, itu hendaklah cemburuan'; 'Apabila perkataan yang amat kasar, sekalian orang gusar'; 'Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat onar', pendidikan budi pekerti pada tiga bait ini adalah pelajaran mengenai kejujuran, tegas, adil bijaksana dan bertanggung jawab. Kita hidup didunia berhubungan dengan orang lain, apa yang kita lakukan orang lain akan menilai baik atau burukkah perilaku kita. Jika tidak ingin dijauhi orang lain jangan suka berbuat kasar, menghina orang lain ataupun memfitnah. Jika nama kita telah buruk maka hujatan akan datang. Tidak disenangi dan dijauhi orang lain. Naudzubillah!


Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 6

Ini gurindam pasal yang keenam



Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.


Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.


Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.


Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.


Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi



Pemaknaan Gurindam :
»- 'Cahari olehmu ... ', selalu disebutkan disetiap bait. Kemudian diikuti oleh kata sahabat, guru, isteri, kawan dan abdi merupakan orang-orang terdekat kita. Mereka adalah orang-orang yang dapat kita percaya, tempat kita berbagi kisah yang tidak dapat diceritakan ke semua orang.
- Sahabat adalah orang yang menghibur kita ketika sedang bersedih, guru tempat mencari teladan yang mengajarkan kebaikan dan nenghindarkan kita dari berbuat salah. Istri yang selalu berserah diri (tawakkal) kepada tuhan adalah istri yang dapat menjadi obat ketika suaminya sedang bersedih.


Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 5

Inilah Gurindam Pasal Yang Kelima



Jika hendak mengenal orang berbangsa

Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang ilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

» Pemaknaan Gurindam
- Pasal kelima ini lebih banyak menjelaskan tentang hubungan individu terhadap masyarakat, penilaian terhadap perilaku dan sifat seseorang dapat ditunjukkan oleh adat&kebiasaan yang ia lakukan
- 'Jika hendak mengenal', selalu disebutkan pada awal bait, kemudian pada lirik selanjutnya adalah bagaimana cara kita menilai sifat seseorang dari perangainya

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 4

Inilah Gurindam Pasal Yang Keempat



Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun roboh


Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah


Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir


Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala


Jika sedikit pun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung


Tanda orang yang amat
'Aib dirinya tiada ia sangka


Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah


Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar


Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor


Dimana tau salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi


Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih



» Pemaknaan Gurindam :
- 'Hati itu kerajaan didalam tubuh, Jikalau zalim segala anggota pun roboh', Hati adalah organ terpenting manusia bukan secara substansi yang riil melainkan secara abstrak. Hati yang mengendalikan nafsu manusia, jika nafsu yang mengendalikan manusia maka ia akan mudah berbuat kejahatan, baik kepada dirinya ataupun orang lain.
- 'Apabila dengki sudah bertanah, datanglah daripadanya beberapa anak panah', kebencian yang tertanam didalam diri kita hanya akan menjadi senjata yang mencelakakan kita sendiri
- 'Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, disitulah banyak orang yang tergelincir', mengolok-olok dan menjelek-jelekkan sampai menyakiti hatinya karena siapa tau ia tidak menyukai dan akan membalas melakukan yang sama suatu hari

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 3

Inilah Gurindam Pasal Yang Ketiga



Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita


Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping


Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah


Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan


Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi'il yang tiada senonoh


Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak yang hilang semangat


Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi



» Pemaknaan Gurindam :
- 'Apabila terpelihara mata, Sedikitlah cita-cita', dimaksudkan apabila pandangan setiap manusia, wajib terpelihara sehingga 'sedikitlah cita-cita', sedikit keinginan yang kadang tidak berguna
- 'Khabar yang jahat tiadalah damping', maksudnya adalah berita-berita yang tidak baik lebih baik tidak dihiraukan karena tidak jelas asal-usul dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya
- 'Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya faedah', memelihara lisan dari perkataan yang sia-sia akan mencelakakan kita suatu hari karena bisa saja orang lain tidak menyukainya
- Pasal ketiga ini banyak menjelaskan tentang bagaimana manusia menjaga anggota tubuhnya agar terhindar dari bahaya yang dapat mencelakakannya

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 2



Inilah Gurindam Pasal Yang Kedua



Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.

Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

>> Pemaknaan Gurindam :

- 'Barang siapa mengenal yang tersebut, Tahulah ia makna takut', tersebut dalam bait ini menjelaskan sesuatu yang bersifat abstrak tetapi merupakan komponen terpenting dalam kehidupan, yaitu Tuhan.
- 'Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang', dalam ajaran agama Islam shalat merupakan ibadah yang wajib dijalankan.
- 'Barang siapa mennggalkan zakat, tiadalah artinya beroleh berkat', zakat adalah penyuci harta-harta kita, sesungguhnya kita tidak mengetahui apa yang kita peroleh merupakan sesuatu yang benar-benar halal oleh karena itu kita wajib menyucikannya dengan menyedekahkan sebagian dari harta tersebut, selain itu zakat juga mengajarkan kita agar dapat melihat kondisi kehidupan orang lain yang kondisi sosial ekonominya dibawah kita agar kita memiliki rasa empati terhadap sesama manusia.
- 'Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji', haji adalah rukun islam yang paling terakhir ia wajib dilakukan apabila seorang muslim telah mampu , 'janji' yang dimaksud disini adalah rukun islam yang diucapkan seorang muslim yang termasuk didalam rukun islam.

Pemaknaan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji: 1


Inilah Gurindam Dua Belas Namanya


Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta salawatkan Nabi yang akhirul zaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya. Amma ba'du daripada itu maka tatkala sampailah hijrat al-Nabi 1263 Sanah kepada dua puluh tiga bulan Rajab hari Selasa maka diilhamkan Allah Ta'ala kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang suatu gurindam cara Melayu yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada perkataanya itu pada orang yang menaruh akal. Maka adalah banyaknya gurindam itu hanya dua belas pasal didalamnya.

Syahdan

Adalah beda antara gurindam dengan sya'ir itu aku nyatakan pula. Bermula arti sya'ir Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang pada akhirnya tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu pasangannya.

Bersalahan dengan gurindam.

Adapaun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya saja jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sya'ir sajak yang kedua itu jadi seperti jawab.

Bermula inilah rupanya syair

Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang didalam gundah gulana

Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna

Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini


Persimpanan yang indah
Yaitulah ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur

Inilah Gurindam Pasal Yang Pertama



Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.



Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat



Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.



Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.



Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.



Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.


>> Pemaknaan Gurindam:
- Pasal pertama banyak menyiratkan tentang nasehat-nasehat yang lebih bersifat religius. unsur mengingat ketuhanan sangat jelas disetiap bait. 'Memegang agama' dan 'Mengenal yang empat' menjelaskan tentang keimanan karena hukum islam terbagi menjadi 4 yaitu ma'rifat, syari'at, tarekat dan tauhid.
- 'Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah' dimaksudkan dalam kata suruh dan tegahnya adalah sebuah perintah yang wajib dilaksanakan oleh kita selaku hamba Tuhan.
'Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan tuhan yang bahari' Jika seorang manusia menyadari bagaimana ia diciptakan dan darimana sumber segala nikmat yang ada pada dirinmya ialah dari Tuhan Yang Maha Esa.
- 'Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terpedaya' jika seorang mampu mengenal bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan tipu daya dan bukanlah untuk selamany maka ia tidak akan lebih mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi.
- Begitu pula dengan bait 'Tahulah ia dunia mudharat' menjelaskan bagaimana kata mudharat berarti adalah sesuatu yang tidak memiliki faedah sama sekali.